
"Seong!!" teriak Eunsang saat sudah sampai di lokasi. Suasana disana sudah ricuh. Eunsang melihat mereka benar-benar kekurangan orang.
Melihat Eunsang datang Yunseong menendang lawan yang sedang di depannya lalu menghampiri Eunsang yang cukup jauh dari sana.
"Kenapa bisa jadi begini? Kampus sebelah kemana?" tanya Eunsang begitu Yunseong berada di depannya.
"Sepertinya mereka mengadu domba kita sang. Pokoknya kita harus kelarin ini sekarang. Kasihan Junho dan yang lain di keroyok." ucap Yunseong menarik Eunsang ke tengah lapangan.
Kondisi Yunseong dan Junho cukup babak belur karena mereka kalah jumlah. Tapi untungnya mereka masih bisa melawan. Namanya sudah terbiasa jadi tahan banting.
Eunsang yang dulunya lebih sering ikut tawuran dari pada ke dua temannya itu yang melawan 1 persatu, saat ini Eunsang melawan 5 orang sendirian dengan tongkat baseballnya.
Bugh! Bugh! Bugh!!
Begitulah suara yang di buat Eunsang saat memukuli lawannya dengan sadis. Dia melayangkan tongkatnya itu seperti mengayunkan pedang. Bila ada yang terkena pukulannya maka dia akan pingsan.
Bugh! Bugh! Bugh!!
Masih terdengar suara pukulan itu. Padahal saat Eunsang baru sampai orang dari kampus X lebih banyak 3 kali lipat dari mereka. Tapi setelah Eunsang menghabisi banyak orang sekarang jumlah lawan mereka terlihat sama. Saat Eunsang rasa cukup dia berpikir untuk bernegosiasi.
"Cukupp!!! Hentikan!!!!" suara teriakannya terdengar ke seluruh lapangan sampai semua menatapnya.
Yang tadinya Junho sibuk memukuli sambil memegang kerah baju lawannya menatap ke arah Eunsang tapi masih memegang kerah baju itu. Kemana suara lembut yang selalu dia keluarkan saat bersama Yujin.
"Kalian semua. Dengarkan aku. Dari pada kita buang tenaga lebih baik kita bernegosiasi." ucapan Eunsang dibalas dengan tatapan bingung mereka.
"Sepertinya kita di adu domba. Dari pada terhasut lebih baik kita berunding siapa dalang di balik ini semua." ucap Eunsang. Kali ini semua terlihat mengerti.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya salah seorang dari mereka.
"Aku yakin kalian juga diberitahu kalau kampus kami akan menyerang kalian." ucap Eunsang. Mereka saling menatap dan mengangguk.
"Kalau memang itu mau kalian besok kita susun rencana. Tapi tidak perlu bertemu. Cukup dari telpon saja." ucap ketua geng kampus itu.
"Baiklah. Sekarang kita bubar. Kalau ada yang bertanya bilang saja kami yang menang." ucap Eunsang di angguki ketua geng itu. Lalu mereka bubar dan meninggalkan kampus itu.
Eunsang dan kedua temannya berjalan ke arah parkiran. Yunseong dan Junho terlihat berantakan. Sementara Eunsang hanya terlihat noda kotor pada pakaiannya.
"Kenapa bisa begini?" tanya Yunseong begitu sampai di parkiran.
"Aku juga tidak tau." jawab Eunsang.
"Kau ini gimana sih. Kalau dapat berita itu di selidiki dulu." kali ini Yunseong menyalahkan Junho.
"Eh kau kok jadi salahin aku? Aku juga korban disini. Aku dapat kabar dari si Jeno tuh. Diakan informan. Mana aku tahu jadi begini." Junho membela diri. Mana mau dia di salahkan disaat seperti ini.
"Sungguh buang tenaga saja." ucap Yunseong kemudian masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya.
"Ya! Kenapa kau tinggalkan aku?!!" teriak Junho saat mobil Yunseong mulai menjauh.
"Sudahlah. Biarkan saja. Mungkin dia lagi kesal." ucap Eunsang menepuk bahu Junho.
"Kau pulang sama aku aja. Aku antar." ucap Eunsang naik ke motor hitamnya itu.
"Nih!" ucap Eunsang melempar tongkat base ball nya pada Junho. Dengan cekatan Junho menangkapnya.
Eunsang menghidupkan mesin motornya. Kemudian melajukan motornya begitu Junho menaiki motornya itu.
__ADS_1
☆☆☆☆
"Halo?" ucap Yujin setelah menganggat ponselnya.
"......."
"Chaewon? Sekarang kau dimana?" ternyata Chaewon yang menelponnya.
"......."
"Oh oke. Datang aja. Eunsang lagi keluar kok."
"......."
"Hmm. Hati-hati ya." Yujin pun mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas meja.
Tadi Yujin lagi siap-siap mau masak makan malam. Sebenarnya perasaan Yujin tidak tenang dari tadi. Jadi dia bersiap masak untuk menyibukkan diri.
Bagaimana bisa tenang saat suaminya keluar dengan terburu-buru sambil membawa tongkat baseball. Pikiran Yujin langsung terbang kemana-mana. Tapi Yujin mencoba berpikir positif.
Sudah satu jam berlalu. Masakan Yujin selesai. Dia juga sudah selesai membereskan dapurnya. Lalu ada suara bel menyadarkannya. Yujin sedikit berlari dari dapur menuju pintu. Dibukanya pintunya terlihat Chaewon membawa beberapa barang belanjaan.
"Ayo masuk." ajak Yujin. Kemudian Chaewon masuk dengan barang belanjaannya itu.
"Tumben belanja? Ada acara apa?" tanya Yujin begitu mereka sampai ruang tamu.
"Ah. Tadi Wooseok ajak aku jalan. Jadi sekalian belanja." ucap Chaewon sambil tersenyum pada Yujin.
"Owh iya. Katanya Wooseok ke Kanada ya." ucap Yujin duduk di sebelah Chaewon.
Chaewon hanya mengangguk sambil sibuk melihat belanjaannya. Dia mengambil salah satu bungkus belanjaannya dan memberikannya pada Yujin.
"Apa ini?" ucap Yujin menerima bungkusan itu.
"Ini tadi saat aku melewatinya aku teringat dirimu. Kau dan Eunsang pasti belum melakukannya kan?" ucap Chaewon menaikan sebelah alisnya.
"Hah? Melakukan apa maksudmu?" ucap Yujin. Sebenarnya dia tau arah bicara Chaewon. Tapi dia pura-pura.
"Eyy... Ayolah. Aku tau kau pasti mengerti maksudku. Buruan buka. Eh nanti aja deh. Tunggu aku pulang aja. Hehe.." oceh Chaewon kemudian dia berjalan ke arah dapur.
"Kau habis masak?" tanya Chaewon begitu sampai di dapur.
"Ah iya. Kau mau makan sekarang?" tanya Yujin menyusul Chaewon ke dapur.
"Kau tidak menunggu Eunsang?" bukannya menjawab Chaewon malah balik tanya.
"Dia ke klub Wooseok. Jadi pulang agak malam. Kita makan duluan aja." ucap Yujin mengeluarkan masakkannya dan menyusun piring ke atas meja.
Mereka pun makan masakan Yujin. Mereka hanya diam saja. Sama-sama berkelana dalam pikirannya sendiri. Sampai Yujin buka suara.
"Papamu tidak masalah lagikan dengan hubungan kalian?" tanya Yujin.
"Hmm aku juga tidak yakin. Kelihatannya tidak tapi setiap Wooseok berhadapan dengan papa ada aura aneh yang ku rasakan. Tapi aku tidak tahu itu apa." ucap Chaewon.
"Aura aneh?"
"Iya. Tapi untuk sekarang aku tidak tahu. Kan Wooseok lagi sibuk." ucap Chaewon. Ekspresinya berubah menjadi sedih.
__ADS_1
Yujin melihat perubahan dari Chaewon langsung berpikir untuk mengganti topik pembicaraan.
"Hmm sebenarnya kau belikan aku apa sih? Aku penasaran." ucap Yujin mengambil bungkusan yang diberikan Chaewon tadi.
"Hey. Nanti aja bukanya. Aku malu tau." ucap Chaewon menutup kedua matanya.
"Kok kau sih yang malu." ucap Yujin. Dia duduk lagi di hadapan Chaewon.
Mereka tertawa lebar saat Yujin membukanya. Yujin sedikit terkejut melihat isinya. Tidak disangka kenapa ada yang menjual barang mahal kekurangan bahan seperti itu pikirnya.
Tapi Yujin merasa lega karena Chaewon tidak larut dalam sedihnya.
☆☆☆☆
Eunsang dan Junho sampai di rumah Junho. Mereka sekarang lagi berdiri di depan gerbang. Bukannya masuk Junho malah mondar-mandir tidak jelas.
"Hey. Kenapa kau tidak langsung masuk?" tanya Eunsang yang mulai emosi melihat temannya seperti itu.
"Hmm kalau aku masuk nanti bunda pasti langsung menghajarku. Kau lihatlah wajah tampanku ini terlihat berantakan." oceh Junho membuat kepala bagian belakang Eunsang terasa sakit.
"Aku tidak tahu kenapa aku bisa berteman dengan anak mami seperti mu ini." ucap Eunsang lalu menaiki motornya.
"Apa aku menginap di rumah mu saja?" ucapan Junho mendapatkan tatapan tajam dari Eunsang.
"Iya deh aku masuk. Gitu aja marah." ucap Junho kemudian membuka gerbangnya.
Setelah melihat Junho masuk Eunsang langsung menyalakan motornya dan melajukan motornya. Tujuannya kali ini klubnya Wooseok. Dia sebenarnya capek. Apalagi bajunya ada nodanya.
Terpaksa Eunsang mengarahkan motornya ke arah apartemennya untuk sekedar untuk mengganti bajunya.
Di sisi lain Yujin sedang berada di ruang pakaian. Dia bingung. Sebenarnya pakaian seperti itu untuk apa di simpannya. Tapi kalau bukan sekarang kapan lagi mau mencobanya. Dia berjalan ke kamar mandi untuk mencobanya.
Yah. Kali ini Yujin mengenakan lingerin hitam yang bisa di bilang transparan. Dia menatap cermin dan mengerutkan dahinya.
"Hahhh.... Sebenarnya untuk apa aku pakai begini? Lagian ini tidak pantas di bilang baju." ucap Yujin pada dirinya sendiri.
Lalu Yujin keluar dari kamar mandi ingin mengambil pakaian ganti. Masih dengan lingerin di tubuhnya.
Tak!!
Suara tali pinggang terjatuh membuat Yujin terkejut bukan main.
"Eun... Eunsang?" ucap Yujin terbata.
"Ka-kamu.... pa-pa-pakai...." ucap Eunsang lebih terputus-putus. Sepertinya dia sangat syok.
"Ahhkkk!!!" Yujin pun berlari menuju kamar mandi meninggalkan Eunsang mematung dalam ke adaan... setengah.. telanjang?
☆☆☆☆
**Halo gaes!! Aku penasaran nih. Apa kalian suka sama cerita ini? Aku lihat respon dari kalian udah lumayan banyak. Tapi aku penasaran nih gimana perasaan kalian baca cerita aku ini.
Kalau kalian suka tolong kasih komen dan likenya dong~~ Karena saran kalian memberikan aku semangat untuk melanjutkan cerita ini.
Terus jangan lupa share ke teman kalian ya. Biar cerita aku ini bisa sedikit dikenal orang dan semakin lama semakin terkenal gitu.. Hehehe 🤣
Kalau kalian merespon pesan aku ini, nanti di episode berikutnya aku bakal kasih cerita pendek awal mula kenapa si Yunseong yang dingin itu suka sama si Minjoo yang jutek.
__ADS_1
Buruan komen ya. Terima kasih sudah membaca. 🤗🤗**