
"Sudahlah. Kenapa sunbae menangis terus?" tanya Eunsang. Sejak diperjalanan ke rumah sakit sampai sekarang dia masih terus menangis.
"Hiks.. Kamu ini! Apa yang sebenarnya kamu lakukan dulu?" tanya Yujin menatap wajah Eunsang yang penuh luka.
"Biasalah. Dulu aku sering berkelahi dan ikut tawuran." jawab Eunsang santai.
"Biasa? Yang kamu anggap biasa itu bisa membahayakan mu." Yujin tak habis pikir melihat tingkah suaminya itu.
"Itu semua bukan aku yang mulai. Lagiankan aku juga tidak tahu kalau akhirnya begini."
"Maafkan aku. Sunbae jadi terlibat." ada rasa penyesalan dimatanya.
"Hiks... Hikss... Kamu iniii...." Yujin tambah menangis dengan kuat.
"Kok tambah kuat sih nangisnya? Sudah dong. Aku baik-baik saja kok. Sudah biasa begini." ucap Eunsang. Tangannya menangkup wajah Yujin dan menghapus air matanya.
Orang tua Eunsang datang ke ruang inap Eunsang. Ayah Eunsang langsung marah marah.
"Lihat! Hasil perbuatan mu yang lalu. Menantuku jadi kena imbasnya." ucap tuan Lee pada anaknya.
Eunsang hanya diam saja. Yujin yang tadi duduk disamping Eunsang bangkit dari duduknya saat ayah mertuanya itu datang. Yujin hanya bisa menunduk.
"Ayah sudah dong. Lihat Eunsang yang babak belur malah kamu marahi." ucap ibu Eunsang membela anaknya.
"Ini karena kamu sebagai ibu membiarkan dia semaunya." kini ayahnya menyalahkan ibunya.
"Pokoknya ayah tidak mau ini terulang lagi. Yujin. Kamu baik-baik saja kan?" tanya tuan Lee pada menantu perempuannya itu.
"Saya baik ayah. Eunsang yang terluka parah." Yujin merasa kalau ayah mertuanya itu kurang perduli dengan anaknya.
"Dia sudah biasa seperti itu. Ya sudah bu. Ayo kita pulang." ucap tuan Lee pada istrinya. Eunsang hanya diam tanpa menoleh ke arah ayahnya.
Suami istri itu akhirnya keluar dari kamar inap Eunsang. Yujin langsung memarahi Eunsang setelah mereka menutup pintu. Sebenarnya ayah dan ibu Eunsang belum pergi. Mereka masih didepan pintu menguping perdebatan pasutri baru itu.
"Kamu lihatkan. Ayahmu sampai marah seperti itu. Aku pokoknya tidak mau kamu lakuin seperti dulu lagi. Sekarang kamu bukan sendiri lagi."
"Iya iya. Maaf ya. Sunbae mau kan maafin aku?" ucap Eunsang meraih tangan Yujin.
"Tergantung kamu."
"Bisa ambilkan kaca? Aku mau melihat wajahku." ucap Eunsang menunjuk kaca yang berada diatas nakas.
"Kenapa? Baru sadar kalau wajah mu sudah hancur." Yujin mengambil kaca itu.
"Ih jangan galak dong." Eunsang mulai melihat wajahnya dikaca.
"Astaga. Ternyata benar kata Wooseok hyung. Wajahku hancur sekali. Mataku juga bengkak begini."
"Berkelahi saja lagi. Biar wajahmu menjadi rata." Yujin sungguh kesal.
"Sunbae kok gitu sih ngomongnya."
"Biarin."
"Jangan cemberut gitu dong. Nanti aku cium nih." ucap Eunsang memonyongkan bibirnya.
__ADS_1
"Ih apaan sih. Sana tidur." ada rona merah di wajahnya Yujin.
"Hahaha.... Iya aku tidur nih." Eunsang pun berbaring.
Diluar kamar.
"Benarkan ayah bilang. Yujin itu bisa merubah Eunsang."
"Iya. Tapi kira kira Yujin ingat tidak ya yah?"
"Ayah rasa belum. Ya sudah. Ayo kita pulang."
Sepasang suami istri itu akhirnya pulang meninggalkan anak dan menantunya. Mereka sudah menduga kalau menantunya itu bisa merubah kelakuan anaknya sedikit demi sedikit.
☆☆☆☆
"Kau baik-baik aja kan?" tanya Chaewon sambil memberikan secangkir teh panas.
Sekarang mereka berada disebuah kafe dekat kampus.
"Hmm. Aku baik. Tapi Eunsang, wajahnya penuh luka. Sekarang saja dia belum bisa kuliah karena kondisi wajahnya. Apalagi ada beberapa tulang rusuknya patah." jelas Yujin. Kalau mengingat kembali kondisi Eunsang dia akan menangis.
"Lagian temennya itu mengerikan sekali. Padahalkan dia bukan sengaja. Memang dasarnya iri saja dia itu." ucap Chaewon.
"Iri? Maksudmu?" Yujin bingung dengan perkataan Chaewon.
"Kau tidak tahu? Katamu mereka SMA sekelas bukan?"
"Iya."
"Kenapa hal seperti itu harus di iri kan? Sangat tidak masuk akal."
"Eh... Jadi udah mengaku nih kalau punya suami tampan kaya dan pintar?" ejek Chaewon.
"Bukan mengaku. Tapikan dia memang seperti itu. Itu bukan pujian kalau memang kenyataan. Gimana sih kamu ini?" Yujin kesal diejek terus oleh Chaewon. Ditenggaknya habis teh tadi.
"Sudahlah. Ayo ke kelas kita sudah telat." ucap Yujin setelah menghabiskan minumannya.
"Ya ya ya. Begitu saja marah. Ayo." Chaewon bangkit dan diikuti Yujin. Mereka keluar dari kafe itu.
Kalau dipikir-pikir aku masih belum tahu perasaanku pada Eunsang. Aku juga tidak tahu bagaimana perasaan Eunsang padaku. Apa dia menyukaiku yang tidak ada apa-apanya ini? Terserahlah yang penting jalani saja. ucap Yujin dalam hati.
Sejak penetapan pernikahan mereka Eunsang belum pernah menyatakan perasaan kepada Yujin. Yujin merasa rendah hati. Apalagi Umurnya yang lebih tua 5 tahun dari Eunsang. Yujin berpikir bisa saja Eunsang menyukai gadis lain yang lebih muda dan lebih cantik darinya.
☆☆☆☆
"Hyung. Kau sebenarnya siapa?" Tanya Eunsang pada Wooseok yang sekarang mengupas buah apel.
"Kau ini. Dari kemarin pertanyaanmu sama terus." agak sedikit kesal dia melihat sepupunya itu.
"Kenapa kau begitu penasaran?" Sekarang Wooseok memotong apel itu.
"Iya aku penasaran. Setahuku kau itu hanya membuka club. Dan paman juga cuma pengusaha biasa seperti ayah. Kenapa kau bisa mengancam Sihoon?"
"Itu hal yang tidak perlu kau tahu. Sekarang makan buahnya." Wooseok menyodorkan buah apel pakai garpu.
__ADS_1
"Hyung...."
"Coba hilangkan kebiasaan mu itu. Tidak semua rasa penasaran harus diikuti."
"Ya karena rasa penasaranku itulah membuat aku pintar seperti sekarang." ucap Eunsang bangga.
"Ah terserah kau saja. Cepat atau lambat kau juga akan tahu. Tapi bukan dari aku."
"Cepat makan buahnya." Wooseok kembali menyodorkan apel.
"Ya sudah." Eunsang memakan apel itu.
"Oh ya. Pantas saja kau tak terlalu memikirkan papanya sunbae itu. Ternyata. Tapi sunbae Chaewon tahu tidak tentang dirimu?" tanya Eunsang setelah menelan buahnya.
"Belum. Karena aku belum menyatakan perasaanku dan belum bertemu papanya. Mungkin dia akan menjauh dari ku karena dia berpikir aku takut akan papanya." jelas Wooseok yang masih menyuapi Eunsang.
"Jadi kau belum menyatakannya? Wah kau keterlaluan hyung. Pantas saja dia sedikit ketus denganmu kemarin."
"Kau sendiri? Kau juga belum memberi tahu sunbae tercintamu itu tentang perasaanmu." protes Wooseok tak terima perkataan Eunsang.
"Setidaknya kami sudah menikah." ucap Eunsang sedikit mengeluarkan lidahnya.
"Ya terserah kau saja. Payah meladeni anak kecil." ucap Wooseok meletakkan piring buah di nakas samping tempat tidur Eunsang.
"Aku bukan anak kecil!" teriak Eunsang. Dia paling tak suka dikatai anak kecil.
"Aku mau jemput Chaewon sekalian Yujin nanti aku antar kesini. Kau perbanyaklah tidur. Biar lukamu cepat kering." Eunsang hanya mengangguk mendengar perkataan Wooseok.
"Hati-hati ya bawa mobilnya." ucap Eunsang saat Wooseok sudah melangkahkan kaki keluar.
☆☆☆☆
"Habis ini kau mau kemana?" tanya Yujin.
"Tadi Wooseok bilang dia mau menjemput. Ada yang mau dibicarakan katanya." Jawab Chaewon sambil melihat ponselnya.
"Oh begitu. Ya sudah aku pergi duluan ya. Mau ke rumah sakit." ucap Yujin yang hendak pergi namun ditahan Chaewon.
"Tunggu. Kata Wooseok dia nanti akan mengantarmu kesana."
"Untuk apa? Aku bisa sendiri."
"Kau masih berani keluar sendirian setelah penculikan itu?" tanya Chaewon.
"Kenapa? Kan masalahnya sudah selesai." ucap Yujin santai.
"Kau pikir musuh suamimu itu cuma satu? Apalagi kalau melihat kehidupannya dulu." Chaewon tak habis pikir dengan temannya itu.
Belum sempat Yujin membalas perkataan Chaewon mobil Wooseok berhenti tepat di depan mereka.
"Hey. Ayo masuk." Ucap Wooseok. Mereka pun menurut. Pertama Wooseok akan mengantar Yujin ke rumah sakit dulu barulah dia membicarakan masalahnya dengan Chaewon.
☆☆☆☆
Maaf typo bertebaran 🙏🙏🙏
__ADS_1
Mohon dukungannya. Jangan lupa like komen dan share ya😀 Terima kasih😘