My Badboy Husband

My Badboy Husband
Bagian 19


__ADS_3

Cerita ini hanya fiktif. Author hanya memakai nama mereka saja. Terserah para pembaca mau membayangkan seperti apa sosoknya. Itu tergantung imajinasi kalian semua.


Terima kasih❤


Yujin POV


Kini aku sudah berada di dalam kamar. Sekarang wajahku merah merona. Walaupun kami sudah melakukannya sebelumnya tapi aku masih saja terkejut dengan serangannya yang tiba-tiba seperti itu.


Aku masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Saat sedang di dalam aku berpikir apakah Eunsang akan melakukan itu dalam waktu dekat ini? Tapi sepertinya Eunsang juga belum memikirkan sampai kesana. Ku usir pikiran kotorku dengan menggosok gigiku dengan kuat sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Setelah selesai aku bergelut dengan pikiran dan menggosokku aku mencuci wajahku. Saat aku membilas wajahku ada suara dering telpon dari arah kamar. Aku buru-buru membilas wajahku dan berlari menuju arah suara. Ternyata ponsel Eunsang yang berbunyi. Kulihat layar ponselnya. Nomor tak dikenal tertera. Aku bingung harus bagaimana. Aku berteriak keluar untuk memberi tahu Eunsang.


"Eunsang! Ponselmu berdering nih. Nomor tidak dikenal. Angkat tidak?" teriakku cukup keras terdengar oleh Eunsang.


Eunsang yang mendengar teriakanku langsung menghampiriku.


"Coba kemarikan." ucapnya mengambil ponselnya.


"Angkat saja. Siapa tahu penting." saranku.


Eunsang mengangkat panggilan itu. Wajahnya berubah saat dia mendengar suara dari ujung sana. Lalu mematikannya.


"Lain kali kalau ada panggilan seperti itu biarkan saja." ucapnya lalu pergi kembali keruang tamu.


Aku yang ditinggal merasa bingung. Sebenarnya siapa yang menghubunginya tadi. Tapi tadi terdengar suara perempuan. Apa mungkin mantan pacarnya? Ntahlah. Sekarang aku hanya ingin tidur karena mengantuk.


☆☆☆☆


Eunsang POV


Sekarang aku sedang mengerjakan tugasku. Walau aku pintar tapi aku tidak mau melewatkan satu nilai pun.


Ditengah kegiatanku tiba-tiba Yujin berteriak padaku. Aku menghampirinya karena katanya ponselku berdering.


"Coba kemarikan." ucapku mengambil ponselku yang sedang dipegangnya.


"Angkat saja. Siapa tahu penting." ucapnya. Sepertinya dia memberi saran.


Aku mengangkat telponnya dan ada suara perempuan yang aku kenal. Dia menyapaku seperti tidak ada yang pernah terjadi dulu. Ekspresiku berubah dan Yujin menyadarinya. Lalu ku matikan ponselku.


"Lain kali kalau ada panggilan seperti itu biarkan saja." ucapku lalu aku pergi kembali ke ruang tamu untuk menyelesaikan tugasku itu.


Semoga Yujin tidak salah paham denganku. Aku duduk kembali kesofa dan memangku laptopku. Aku berpikir lagi. Sepertinya ada maksud lain dari perempuan sinting itu. Dan aku kembali mengerjakan tugasku.


☆☆☆☆

__ADS_1


Author POV.


Yunseong kembali ke tempat dia meninggalkan Junho. Tapi dia tidak menemukan sahabatnya itu. Dia memutuskan menjalankan mobilnya kesekitar lingkungan itu. Tapi hasilnya nihil. Dia beneran menghilang.


Apa dia sudah naik taksi ya? ucap Yunseong dalam hati.


Lalu beberapa saat kemudian dia mendapat pesan dari Junho.


Hey. Jemput aku di jalan xxx. Tidak ada taksi lagi disini.


-Junho-


Setelah mendapat pesan dari Junho dia langsung meluncur kesana.


Sementara disisi lain......


Junho yang melihat Hyewon kesusahan langsung naik dan membayar bus dengan kartunya.


"Maaf pak dia bersama saya." ucap Junho yang langsung menggiring Hyewon duduk di dekat pintu keluar.


"Kenapa kau ikut dengan ku?" tanya Hyewon setelah Junho duduk disampingnya.


"Jadi harus bagaimana? Membiarkan kamu di turunin lagi dan kehilangan bus terakhirmu?" ucap Junho menyilangkan tangannya didada.


"Bukan begitu. Hanya saja aku tidak mau merepotkan mu lagi." ucap Hyewon mengelus bayinya yang sudah tertidur.


"Jadi aku harap kamu jangan merasa sungkan. Kalau perlu kamu simpan nomorku. Biar nanti kalau ada kejadian seperti tadi aku bisa menolongmu." ucap Junho menyodorkan ponselnya.


"Tapi, apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Hyewon ragu.


"Kamu tidak perlu ragu. Lagian aku tadi sudah mengaku suami mu. Cepat tuliskan sebelum sampai." ucap Junho yang kembali menyodorkan ponselnya.


Hyewon mengetikkan nomornya tanpa ragu lalu memberikan ponselnya kembali kepada pemiliknya.


"Tapi aku berusaha untuk tidak menghubungimu." ucap Hyewon bersikeras tidak mau merepotkan Junho.


"Terserah sih. Aku juga bisa menghubungi mu." gumam Junho pelan.


Mereka kembali diam sampai mereka sampai di tujuan. Lingkungan tempat tinggal Hyewon. Mereka pun turun dari bus.


"Jadi kalian tinggal disini?" tanya Junho setelah turun dari bus.


"Iya. Hmm terima kasih sudah mengantar. Semoga selamat sampai tujuan." ucap Hyewon sambil membungkuk hormat.


"Sebenarnya aku bisa mengantar kalian sampai rumah."

__ADS_1


"Tidak perlu." ucap Hyewon cepat membuat Junho terkejut.


"Segitunya ya. Baiklah. Kalian pergi saja lebih dulu. Aku menunggu teman disini."


"Hyekyu-ya sampai ketemu lagi ya." ucap Junho membelai lembut pipi Hyekyu.


"Kalau begitu saya duluan. Permisi." ucap Hyewon berbalik badan dan melangkah pergi.


Junho melihat kepergian Hyewon sampai menghilang dari pandangannya. Kemudian dia mengirim pesan pada Yunseong dan duduk dihalte bus itu. Dia termenung lama. Memikirkan bagaimana kehidupan perempuan lemah itu sebelumnya.


"Kenapa tega sekali mantan suaminya memperlakukannya seperti itu. Padahal cantik dan masih muda begitu." ucap Junho.


Dia mendapat telpon dari bundanya. Memang wajar bila jam segini dia belum pulang. Diangkatnya telpon itu. Terdengar bundanya teriak membentaknya.


"Kau dimana sekarang?! Kenapa jam segini kau masih diluar?!" teriak bundanya membuat dia menjauhkan ponselnya dari telinganya.


"Ah bunda~~ Tidak perlu berteriak seperti itu aku juga dengar." keluh Junho.


"Habisnya bunda kesal. Kau ditunggu sampai sekarang belum pulang. Bunda sudah mengantuk ini." ucap bundanya kesal.


"Iya ini sudah dijalan. Sebentar lagi aku sampai kok. Sudah ya." ucap Junho langsung mematikan ponselnya.


"Ini si Yunseong kemana sih? Kemana saja dia. Aku sampai sudah ditelpon bunda." ucap Junho kesal. Tak lama kemudian mobil Yunseong pun datang dan berhenti tepat dihalte. Yunseong pun membuka kaca jendela mobilnya menyuruh Junho masuk.


"Ayo masuk." Junho pun masuk kedalam mobil.


"Kau kok lama sekali datangnya?" tanya Junho sambil memasang sabuk pengaman.


"Memang tempatnya jauh. Lagian kenapa kau bisa sampai terdampar ketempat sejauh ini?" tanya Yunseong yang sekarang sudah melajukan mobilnya.


"Ah aku tadi menolong bidadari dan anaknya." ucap Junho sambil tersenyum membuat Yunseong merinding.


"Bidadari? Menurut ku kau sudah kerasukan sesuatu." ucap Yunseong melirik Junho jijik.


"Terserah kau mau bilang apa. Tapi soal menolong aku beneran." ucap Junho. Sekarang Junho mengirimi pesan pada Hyewon.


Junho pun menceritakan kisah perjalanannya sampai dia terdampar dihalte bus tadi. Yunseong akhirnya mengerti karena Junho memang suka menolong orang seperti itu.


"Ya kebiasaan mu itu sepertinya kambuh lagi." ucap Yunseong yang sibuk menyetir mobilnya.


"Urusi saja perasaanmu sekarang tak usah perdulikan aku." ucap Junho yang tersenyum melihat Hyewon membalas pesannya.


Yunseong pun melajukan mobilnya menuju rumah Junho terlebih dahulu. Barulah dia pulang kerumahnya.


☆☆☆☆

__ADS_1


Maaf bila ada kesalahan dalam penulisan


🙏🙏🙏


__ADS_2