My Handsome CEO : I Love You, Pak

My Handsome CEO : I Love You, Pak
Cemburu Dikit


__ADS_3

Tentu saja, Kalista full senyum saat kembali ke kantor. Saking bahagianya Kalista hari ini, bahkan Kalista tersenyum-senyum pada Sergio yang menatapnya ngeri.


"Lo kesambet apaan pake baju bener? Baju lo yang tadi mana?" tanya cowok itu curiga.


Kalista mesem-mesem. "Kak Julio yang beliin."


"Hah?"


"Doesn't metter," ucap Kalista cuek. "Daripada ngurusin baju gue, mending sekarang kasih gue kerjaan. Gue tuh anak magang, oke? At least ajarin gue apa kek."


Tidak ada yang perlu diajarkan karena sebenarnya dia mustahil jadi sekretaris. Bukan Kalista bodoh sih sebenarnya. Dia malah sangat pintar.


Tapi yah tidak ada yang mengharapkan Kalista bekerja karena Rahadyan akan memastikan anaknya selalu terpenuhi secara finansial.


"Beliin gue kopi. Kopi lo tadi pait."


"What?!" Senyum Kalista langsung pudar. "Sergio, c'mon! Gue tuh ke sini bukan buat bikinin lo kopi doang!"


"Lo ke sini jadi pegawai, kan?" Sergio mendorong dia pergi. "Tugas pegawai tuh dengerin bosnya. Sana!"


Kalista misuh-misuh, tapi memutuskan buat pergi agar Julio mendengar bahwa Kalista sangatlah rajin sampai-sampai ia rela keluar kantor buat beli kopi untuk Sergio.


Mumpung punya waktu di luar untuk jajan, sekalian Kalista membeli kopi buat Julio juga. Kalista memberitahukan semua pesanannya lalu duduk menunggu.


Saat itu ....


"Katanya keluarga Pak Julio," bisik suara yang asing. "Enggak tau malu banget enggak, sih? Kayak, lo sampe ke kantor gangguin orang padahal dia juga enggak suka sama lo."

__ADS_1


Kalista melirik, menemukan dua orang dari kantornya tengah berdiri di sudut lain counter, berbisik-bisik membicarakan Kalista.


"Kasian banget Pak Julio. Katanya bokap dia manjain banget makanya Pak Julio enggak negur apa-apa. Tadi aja Pak Julio pergi beliin dia baju sopan padahal Pak Julio ada janji."


"Gue denger dia pacaran sama adeknya Pak Julio."


"Sergio udah punya tunangan. Itu loh anak yang punya TV X."


"Terus ceritanya dia ngejar kakak adek tapi enggak dapet dua-duanya?"


Kalista melompat turun dari kursi, pindah ke tempat lain agar tidak mendengar.


*


Di sisi lain ....


"Bro." Sergio berjalan masuk dan bersandar ke mejanya. "Kamu beliin Kalista baju?"


Julio mengangkat alis, lalu menggeleng. "Gak. Dia beli sendiri."


"But she said ...."


"Ya, aku yang nganter. Niatnya sih beliin, nyinggung dikit tapi dia beli banyak pake duitnya sendiri."


Julio mengangkat tangan sebelum dia tertawa menyadari adiknya cemburu.


"Sergio, kamu enggak ngasih dia kerjaan, kamu enggak negur bajunya juga. Aku sebagai bos seenggaknya mesti ngasih contoh. Bukan kayak aku ngajak pacar kamu keliling mol belanja terus masuk hotel."

__ADS_1


Sergio menggaruk kepalanya yang mendadak gatal, sedikit malu. Ya mau bagaimana lagi, kan? Kalista senyam-senyum seakan dia dan Julio baru ciuman saja.


"Kalista lost her mind kalo ngomongin soal kamu," ucapnya. "Cemburu dikit enggak dosa kali."


"Oke, fine. Tapi kasih dia kerjaan."


Sergio menggeleng. "Mendingan dia cepet-cepet berhenti."


"Sergio."


"Bro, jujur aja dari hati, walaupun semua perempuan itu berhak mandiri, tapi Kalista enggak cocok jadi mandiri." Sergio melipat tangan dan hanya bisa tersenyum membayangkan Kalista.


"Dia tuh terlalu mencolok di mana-mana. Dia keliatan kayak, you know like she can do anything whatever she wants to do tapi itu bikin dia dibenci. Karena dia enggak berusaha buat nahan diri, enggak berusaha buat jadi lebih 'kalem'. Ngerti enggak sih kayak—"


"Kayak dia suka sama aku terus dia terang-terangan ngomong makanya dia kayak perempuan kegatelan," sela Julio, mengerti betul maksudnya. "Aku ngerti banyak perempuan di kantor yang suka sama aku, sama kamu, tapi mereka profesional dan enggak agresif, beda dari Kalista. Jadi Kalista dianggep aneh dan beda sendiri."


Sergio mengangguk. "Tapi aku suka Kalista yang kayak gitu."


Sejak awal, Sergio menyukai Kalista yang terang-terangan dan jujur, bahkan sekalipun itu menyebalkan karena dia malah suka pada Julio.


"Dengan kata lain," Julio menautkan kedua tangannya di bawah dagu, "kamu enggak mau maksa Kalista ada di lingkungan yang terlalu keras, yang mungkin suatu saat maksa dia berubah jadi ... enggak jujur lagi?"


Sergio menatap kakaknya muram. "Dia korban bullying yang keliatan kayak tukang bully."


Dia terlihat kuat dan dominan namun sebenarnya dia sangat payah juga lemah. Makanya Sergio ingin Kalista berhenti dari pekerjaan ini, karena dia baik-baik saja sekalipun dia cuma tinggal di rumah.


Tidak semua wanita mandiri harus keluar rumah, menurut Sergio.

__ADS_1


*


__ADS_2