
Karena Sergio mengajaknya ke gym sebelum pergi ke kantor, hari ini Kalista tidak memakai pakaian yang super super heboh. Alih-alih, Kalista cuma memakai celana pendek dan kaus polo walau bermerek, tak lupa memasang sepatu olahraga.
Rahadyan yang baru bangun langsung terlihat capek melihat putrinya.
"Papa udah enggak tau berapa kali Papa bilang jangan pake celana, rok, atau apa pun yang kependekan buat keluar—tapi serius kamu mau pake begituan ke kantor?"
Dia malah terlihat seperti yang punya kantor saking santainya.
"Aku mau ke gym dulu, Papa."
"Tapi ...." Mulut Rahadyan terkatup sendirinya saking capek mengoceh.
Udahlah, pikir pria itu. Emang lebih bagus dia dipecat daripada kelamaan magang enggak jelas.
Kalista yang merupakan seorang anak gadis dua puluh tahun tentu saja kurang tertarik dengan pemikiran papanya. Gadis itu datang mencium pipi Rahadyan, lalu berlari pergi sambil menenteng kunci lamborghini.
Di belakang sana Rahadyan berharap Julio memecat anaknya hari ini juga.
Sementara itu Kalista mengendarai mobilnya menuju kantor lalu berlari ke tempat gym yang jaraknya hanya sekitar seratus meter lebih.
Karena masih jam setengah enam pagi, gym tidak terlalu ramai dan Kalista bisa menemukan Sergio tengah melatih otot lengan.
"Yo." Kalista menyapa sekalian meletakkan tas air minumnya. "Ternyata lo anak gym juga, yah."
Sergio memutar mata. "Lo kira gimana caranya badan gue bagus kalo enggak ngegym?"
__ADS_1
"Bagusan Kak Julio."
"Fvck Julio, Kalista."
Kalista meregangkan badannya cuek. "Yes, I wanna fvck him right now."
"Iyuh."
Kalista cuek saja, melenturkan ototnya ke kanan dan ke kiri.
Berbeda dari Kalista yang bodo amat terhadap pemandangan otot-otot lengan dan dada Sergio, pemuda itu sangat amat tertarik memandangi setiap sudut tubuh Kalista.
Sergio melihat tengkuknya, lalu lehernya, turun ke dadanya, semakin turun ke pinggangnya, lalu ke pahanya, hanya untuk semakin menyadari bahwa ia menyukai Kalista lebih besar dari sebelum mereka berpisah.
Good God, keluh Sergio lemah. Kenapa sih harus cewek yang buta sama gue? I mean like, gue juga ganteng kali!
Sergio menghela napas, berusaha tenang walau sebenarnya merasa panas untuk satu alasan yang sangat berbahaya. "Gue mau putus sama Astrid."
"Yaudah putus," balas Kalista tak peduli.
"Maksud gue, gue pengen batalin omongan keluarga soal gue sama dia bakal dinikahin!" jelas Sergio jengkel. Itu benar-benar menyebalkan karena Kalista menanggapinya terlalu santai.
"Ow." Kalista berkacak pinggang. "Terus, lo ceritanya curhat ke gue?"
"Gue mau lo jadi tunangan gue."
__ADS_1
"BIG NO!"
Cara Kalista menolak itu sangat menusuk ke ulu hati tapi Sergio sudah bersiap.
"Maksud gue cuma pura-pura!" balas Sergio ngegas, tak terima malah ditolak kurang dari sedetik. "Cuma pura-pura! Lo jadi tunangan gue sampe keluarganya Astrid terima itu dibatalin! Gitu doang!"
"You're liar! Lo ngomong gitu biar ngejebak gue nikah sama lo kan?!" tuding Kalista narsis.
Sergio menatap dia cengo. "Seriously, Kalista? Lo kira gue elo gitu pake cara ngejebak biar jodoh sama orang?"
Kalista memicing curiga. "Tapi lo kan terobsesi sama gue."
"IT'S NOT OBSESSED!" seru Sergio tak terima. "Oke, intinya, soal urusan hati, gue enggak bakal pake cara kotor buat dapetin lo. Itu urusan lain. Gue cuma capek sama Astrid, oke? Gue udah coba segala cara minta putus ke Mami tapi enggak pernah didengerin."
Kalista mengerutkan kening saat dia mengerti.
Iya sih kayaknya cara biasa tidak membantu Sergio, karena nyatanya sampai sekarang Sergio dan Astrid masih saja bertunangan.
Sebenarnya, Kalista bahkan tidak mengerti kenapa Sergio dan Astrid itu dijodohkan. Memangnya keluarga mereka satu sama lain bakal hancur gitu kalau mereka tidak menikah?
"Alright." Kalista mengembuskan napas kasar ke udara sebelum berkacak pinggang lagi menatap Sergio. "Tapi Kak Julio mesti tau kita cuma pura-pura. Plus, kalo sebulan kemudian gue enggak tertarik sama lo dan lo berhasil putus dari Astrid, lo mesti bantuin gue deketin Kak Julio."
"Tapi," timpal Sergio, "kalo dalem sebulan lo suka sama gue, lo harus nikah sama gue tahun ini juga."
Kalista tersenyum enteng karena ia percaya bahwa cintanya pada Julio adalah cinta sejati.
__ADS_1
*