My Handsome CEO : I Love You, Pak

My Handsome CEO : I Love You, Pak
Merinding


__ADS_3

"Kalista." Rahadyan baru berani bicara ketika mereka turun dari mobil, tepat di depan lobi hotel acara ulang tahun berlangsung. "Sayang, maafin Papa."


Kalista mengangguk tapi kalau cuma mengangguk saja itu berarti tidak baik-baik saja.


"Sayang, Papa yang salah. Papa egois banget sama kamu. Papa enggak ngertiin kamu. Maafin Papa, yah? Senyum lagi, yah?"


Kalista melepaskan diri dari pelukan Rahadyan. "Pestanya udah mulai," ucap dia pertanda maafnya belum diberikan.


Ketika mereka naik ke lift bersama, Kalista bahkan memandang ke cermin daripada Rahadyan. Saat keluar pun dia berjalan di depan, dengan ritme langkah yang lebih cepat seakan-akan dia tak mau bersebelahan dengan Rahadyan.


Tentu saja itu membuat Rahadyan senewen. Pria itu menggaruk kasar kepalanya, frustrasi memikirkan cara agar dia manja lagi.


Duh, Rahadyan tidak hidup kalau anaknya tidak manja, tidak berkata 'Papa, I love you', apalagi kalau mengabaikannya begitu.


Sementara itu di lokasi pesta, Julio sengaja menunggu kedatangan Kalista sebagai pengganti Sergio. Dia entah ke mana bersama Astrid tapi dia pasti mengkhawatirkan Kalista.


Begitu Kalista tiba, Julio langsung mendatanginya.


"Hei." Julio tersenyum manis yang biasanya ditatapan penuh binar oleh Kalista.


Tapi akhirnya benar-benar sangat pasti dunia sedang dilanda masalah. Kalista bukan hanya tidak berbinar, namun dia tersenyum sedetik, singkat, padat, paksa.


"Kalista, kamu—"


"Julio." Rahadyan datang dari belakang Kalista, merangkul bahu Julio dan menariknya. "Kalista marah sama saya," bisik pria lajang itu. Seolah semuanya salah Julio.

__ADS_1


"Emang Om ngapain lagi?" tanya Julio keki.


"Enak aja salah saya! Itu salah kamu manggil-manggil anak saya ke sini!"


"Oh, yaudah. Terserah." Julio mau pergi, tapi Rahadyan merangkul lehernya seperti mencekik. "Santai dong, Om!"


"Bantuin saya," putus Rahadyan seenaknya. "Kamu saya izinin deket-deket anak saya lima menit. Bujukin dia enggak marah lagi—tapi awas kalo kamu pegang-pegang."


Julio menatap Rahadyan seolah-olah dia alien. "Sergio bener, Om."


"Hah?"


"Kami enggak kayak Om, pernah hamilin cewek pas SMP. Jangan samain sama Om, dong."


"Kamu!"


Penuh ketidakrelaan juga kutukan beruntun di wajahnya, Rahadyan mendorong Julio pergi. Pokoknya dia harus membujuk Kalista agar tidak sedih lagi.


Kecebong setidaknya pasti bisa melakukan itu.


Sementara itu, Rahadyan terpaksa harus membaur dengan tamu-tamu orang tua yang kebanyakan juga kerabat dan kenalannya.


"Aku kira kamu udah terbiasa sama Om Rahadyan yang ... unik." Julio bersandar di meja, persis di sebelah Kalista. "Ternyata masih bisa marah, yau."


"Iya, Kak."

__ADS_1


Serius, Rahadyan melakukan apa sampai Kalista berubah jadi robot begini?


"Cobain ini, mau?" Julio meraih kue cokelat yang tidak letakkan Kalista ke piringnya. "Cokelat almond. Enak banget. Salah satu favorit aku malem ini. Cobain?"


"Iya, Kak."


Serius?! Dia tidak bergeming padahal Julio sudah sok asik?!


Anak gadis ini bahkan tidak marah saat ibunya dikatai gundik jadi sebenarnya apa penyebabnya, demi Tuhan?


Julio spontan celingak-celinguk mencari Sergio. Dia kan membadut untuk Kalista jadi mungkin dia punya cara mengembalikan mood gadis ceriwis ini seperti semula.


Om Rahadyan pasti udah kelewat batas, pikir Julio mau tak mau. Lama-lama entar dilaporin polisi sama anaknya tau rasa.


"Aku pergi dulu yah, Kak."


Eh?


"Mau ke mana? Sini duduk sama aku."


Kalista tersenyum kecut. "Enggak usah, Kak."


Sumpah, Julio merinding. Ini mendadak jadi terlalu menakutkan dan ia mengerti perasaan Sergio uring-uringan tadi.


Bahkan saking takutnya, Julio tidak menghentikan Kalista pergi, cuma melihat dia berjalan menuju sudut tempat untuk makan sendiri.

__ADS_1


Julio tahu harus apa.


*


__ADS_2