My Handsome CEO : I Love You, Pak

My Handsome CEO : I Love You, Pak
Sesi Papa Marah


__ADS_3

Kalista pulang ke apartemen ketika matahari sudah terbenam. Niatnya sih Kalista mau pulang lebih awal agar bisa membuatkan Papa makanan, sebagai bentuk hiburan karena tidak jadi melamar Bu Direktur.


Tapi ternyata Rahadyan malah sudah di dalam, sibuk berkutat di dapur. Rahadyan adalah bujang tua dengan satu anak tapi belum pernah menikah jadi ya, dia setidaknya pandai memasak sendiri.


"Aku pulang, Pa."


Rahadyan menoleh. "Kalista, duduk, Papa mau marahin kamu."


Cengiran polos menghiasi wajah Kalista sekalipun ia tahu kalau kalimat itu sudah keluar, berarti Rahadyan sungguhan marah.


"Sebelum Papa marah soal aku jodohan sama Kak Julio—"


"Siapa yang mutusin kamu jodohan sama Julio?!"


"—gimana kalo kita bahas soal lamaran Papa yang enggak jadi?"


Rahadyan tersedak. Pria itu langsung batuk-batuk palsu, berbalik ke masakannya untuk menghindari pertanyaan. Tapi Kalista punya waktu buat menunggu karena ia kepo.


"Kamu tau dari mana? Papa bahkan enggak cerita ke Raynar," ucap Rahadyan setelah lama pura-pura tidak bisa bicara.


"Nebak," dusta Kalista. "Soalnya Papa udah tiga tahun suka sama Bu Direktur, ngajak pacaran aja enggak berani, apalagi ngajak nikah."


Rahadyan spontan menggetok kepala Kalista dengan sendok di tangannya. Tapi kemudian pria itu menunduk, menatap wajah Kalista dengan senyum yang lebih jujur.


"Winnie lagi fokus kerja. Papa enggak mau ngasih beban tambahan so Papa pikir bukan sekarang waktunya. Maaf, yah."


Sejujurnya Kalista tidak peduli apa pilihan Rahadyan asal dia bahagia. Di usianya ini, Kalista sudah tidak berharap punya mama baru yang mengurusnya menggantikan Mama, jadi jika Rahadyan menikah itu seratus persen untuk kebahagiaan Rahadyan.


"Papa enggak cari pacar lain aja? Aku sih maunya Bu Direktur tapi kalo Bu Direktur enggak mau, ya mending Papa cari yang lain, kan?"

__ADS_1


"Entah. Papa juga sibuk kerja jadi enggak ada waktu pacaran." Rahadyan mengangkat bahu, mau terlihat cuek padahal Kalista juga tahu bahwa dia sudah terlalu menginginkan Bu Direktur sampai tak mau lagi membuka hati pada orang lain.


"Daripada ngomongin itu, kamu jelasin sama Papa kenapa tiba-tiba kamu magang di kantornya Julio!" Rahadyan mengingat masalah awal.


Kalista cengengesan. "Ya habisnya ngapain juga aku magang di kantor kakak ceweknya Sergio, Papa? Aku maunya Kak Julio!"


"Itu bukan magang namanya tapi kegatelan!"


"Iya kali?"


"Kalista!"


"Papa, listen up." Kalista melipat tangannya di atas meja dan lurus menatap mata Rahadyan. "Kalo Papa ngira semua perempuan itu pengennya kuliah biar dapet kerja buat mandiri, big NO. Ada perempuan generasi Z di sini, perempuan modern yang enggak punya cita-cita apa pun selain nikah cepet. So yah, aku enggak ngejar karier tapi ngejar cinta."


Rahadyan menepuk keningnya frustrasi. "Kalista, kamu itu masih umur dua puluh tahun! Itupun belum nyampe karena ulang tahun kamu belum lewat!"


"ANAK?!"


Hal selanjutnya adalah ceramah mengenai betapa depresi seseorang memiliki anak jadi Kalista yang masih anak-anak tidaklah sepantasnya berkata dia mau punya anak.


Namun Kalista cuma mendengarnya di telinga kanan lalu mengeluarkannya di telinga kiri.


Semua orang berhak memilih kan? Kalista memilih mau mengejar cintanya jadi yah, ia tak mau mendengar suruhan mengejar karier saja.


Sementara mulut Rahadyan mengoceh-ngoceh di sana, Kalista mengeluarkan ponselnya, menemukan chat dari Sergio.


Sergio :


Gue mau ngomong sesuatu.

__ADS_1


Penting.


Kalista :


😒


Kalo mo berantem doang, hari Minggu aja.


Atau kalo mau nembak, batalin aja.


Udah pasti gue tolak.


**Sergio :


Haha, funny 🙄


Ketemu di gym besok, deket kantor**.


"Kalista, are you even listening?!"


"Nah." Kalista menutup ponselnya setelah membalas oke pada Sergio. "But I love you so much, Pa. Muach."


Rahadyan nampaknya habis menelan paprika utuh karena jawaban Kalista. Tapi pria itu pada akhirnya menarik napas, menghidangkan makanan untuk mereka.


"Ngomong-ngomong, si Gio katanya juga training di kantornya Julio. Kamu udah ketemu?"


Makan malam mereka habis sembari Kalista menceritakan rangkaian perdebatannya dengan Sergio di hari pertama magang.


*

__ADS_1


__ADS_2