My Handsome CEO : I Love You, Pak

My Handsome CEO : I Love You, Pak
Memilih Jodoh Daripada Papa


__ADS_3

Kalista tahu betul seberapa over protektif Rahadyan padanya. Sampai-sampai Kalista bahkan sudah malas meminta hak kebebasan sebagai manusia. Tapi untuk hal ini, Kalista rela mati asal dizinkan pergi.


"Papa, pliiiiiiiis banget. Yah yay? Sekali aja aku pergi sama Kak Julio. Sekaliiii aja, Papa."


"GAK!"


Julio berdehem, menarik perhatian mereka berdua. Walau yang paling tertarik adalah Kalista, terutama karena dehemen Julio membuatnya ingin berlutut, menyembah, berserah dan pasrah.


Do whatever you want to do with me, Ganteng.


"Sori, Om, aku enggak ngasih kabar dulu. Aku kira Kalista udah ngomong duluan."


Rahadyan melipat tangan. "Enggak usah sok sopan-sopan kamu sama saya. Mau kamu bawa sesajen juga saya enggak bakal restuin kamu sama Kalista! Sana pulang!"


"AKU LEBIH MILIH NINGGALIN PAPA BIAR SAMA KAK JULIO!" teriak Kalista spontan, tak mau jika Julio mengira restu adalah penghalang.


Walau sebenarnya Julio bukan minta restu tapi cuma mau bilang ini pesta biasa.


"Kalista! Bisa-bisanya kamu ngomong gitu soal Papa?!"


"Habisnya Papa mau ngalangin jodoh aku! Jodoh tuh penting Papa! Penting banget! Papa yang betah ngejomblo mana ngerti!"

__ADS_1


Julio berusaha keras tidak tertawa. Nampaknya sekarang ia sudah tahu kenapa Sergio tergila-gila pada Kalista. Dia memang lucu dan sangat ... unik.


"Actually, Om, ini pesta ulang tahun 'adek' temen aku yang 'masih SMP'," ucap Julio, menekankan beberapa kata. "Terlepas dari urusan 'jodoh', aku ngajak Kalista karena dia bilang mau curhat soal kuliahan. Iya, Kalista?"


Sesungguhnya Kalista sangat pandai berbohong. Walau baru dengar soal curhat apalagi soal kuliah, Kalista langsung meyakininya terutama karena itu dari mulut ayang.


"Iya, Pa. Papa bolehin, kan?"


"GAK!"


Setengah jam kemudian barulah Rahadyan mengubah jawabannya dengan ancaman. Pria itu melotot pada Julio dengan mata yang berkobar dendam.


"Satu aja rambut anak saya rontok dari kepalanya, kamu saya mutilasi."


Akhirnya ia bisa membawa Kalista pergi, walau punggung Julio rasanya teriris-iris oleh laser tak kasat mata.


Tentu saja Kalista malu berat.


"Kak Julio, maaf banget. Harusnya tadi aku tuh bawa baju aja ke kantor biar Papa enggak cerewet. Hiks."


"Udah, enggak pa-pa." Julio menjalankan mobilnya santai. "Om Rahadyan begitu karena dia sayang sama kamu. Juga, Om Rahadyan punya sejarah bandel banget sebagai cowok, makanya dia takut kamu sampe ketemu cowok kayak dia."

__ADS_1


Julio bisa mengerti itu, soalnya sebagai keponakan Rahadyan, Julio tahu betul seberapa bejad omnya dulu. Kalista adalah salah satu buktinya, kan?


"Tapi aku tuh enggak bego kayak Mama," keluh Kalista sebal. "Kalo ada cowok macem Papa yang deketin aku, udah pasti telurnya aku tendang."


Julio selalu dibuat tertawa saat bersama gadis ini. Malah dirinya jadi bingung kenapa Sergio bisa naik darah padahal Kalista selalu berkata hal konyol.


"Terlepas dari apa pun," Julio mengulurkan tangan, mengacak lembut rambut Kalista, "kamu hati-hati. Cowok punya sisi 'enggak bener' yang ada baiknya dihindarin sama perempuan baik-baik kayak kamu. Oke?"


Kalista tertawa dengan wajah bersemu manis. "Hehe, oke, Kak."


Sepanjang perjalanan, Kalista sangat amat menikmati percakapan kecil mereka sekalipun Julio memperlakukannya seperti adik saja. Mereka tiba di venue setelah menempuh perjalanan satu jam. Kalista bergegas turun menyusul Julio, berani memegang tangannya sekalipun tak disuruh.


Julio tak protes. Dia justru balas menggenggam tangan Kalista dan merangkulnya akrab.


Sekali lagi, bahkan kalau Julio menatapnya sebagai adik dan bukan sesuatu selain itu, Kalista tetap terpesona padanya sebagai seorang wanita.


Kalista tersenyum-senyum di samping Julio. Senang bisa bersamanya dan sedikitpun ia tak peduli pada pesta.


"Kamu mau kenalan sama temen-temen aku?" tanya Julio, menunjuk sekumpulan pria berpakaian necis yang semuanya berwajah tampan.


Kalista mengangguk malu-malu, gugup karena sekarang kesannya ia pacar baru Julio datang memasuki circle pertemanannya

__ADS_1


"Oke." Julio membuka tangannya, meminta Kalista menggenggam dia lagi. "Leggo."


*


__ADS_2