My Handsome CEO : I Love You, Pak

My Handsome CEO : I Love You, Pak
Bapaknya Modelan Rahadyan


__ADS_3

Sergio mendorong pintu ruangan kakaknya dan disambut oleh pemandangan aneh.


"What's going on in here?" tanyanya melihat Kalista dan Julio duduk diam satu sama lain.


Suasana di antara mereka terlihat aneh, apalagi melihat Kalista malah tidak senyam-senyum padahal duduk di dekat Julio.


Gadis itu langsung beranjak begitu Sergio masuk. "Enggak ada," jawab dia sambil lalu. "Kak Julio, aku pulang dulu, yah? Papa nyuruh pulang cepet soalnya mau beli pizza."


"Oke. Hati-hati."


Sergio menatap punggung Kalista sampai dia menghilang dari pintu. Setelah itu, Sergio langsung menatap kakaknya, menuntut penjelasan.


"Kita ngomongin mamanya," gumam Julio. "Lebih tepatnya aku yang nanya, sih."


Sergio mengambil tempat Kalista duduk tadi. Tangannya terlipat di atas sandaran kursi, pertanda ia siap mendengar rincian. Mau tak mau Julio menjelaskan lagi, termasuk soal kejadian di pesta, tentang Kalista yang menganggap dirinya pantas.


"Enggak ada orang yang pantes dihina, Kak."


"Gio, kamu mesti hargain pendapat Kalista juga."


"Hargain apanya kalo dia ngerasa pantes?"


"Itu yang orang lain sebut trauma, bego." Julio menggentok kepala adiknya. "Of course Kalista enggak harusnya ngerasa pantes dihina. Tapi maksud aku menghargai itu kamu ngerti kalo Kalista ada di posisi di mana dia ngeliat mamanya ngelakuin kesalahan sama banyak orang, demi Kalista hidup."

__ADS_1


Kening Sergio cuma bisa berkerut. Semakin lama ia mendengar julukan anak gundik pada Kalista, justru semakin ia marah. Ia marah pada semua orang yang menghina gadisnya, membuat dia menangis sampai-sampai dia merasa pantas.


"Om Rahadyan enggak overprotektif tanpa alasan." Julio menghela napas. "Anaknya kekanak-kanakan tapi justru dewasa di sisi yang orang lain mustahil bisa."


Sergio menekan bibirnya satu sama lain. Keningnya bertumpu pada lengannya yang terlipat, bernapas hingga punggungnya naik turun dengan jelas.


"Sometimes," bisiknya, "aku cuma pengen nyembunyiin dia di tempat yang enggak akan pernah ditemuin sama siapa pun. Enggak ada yang bakal ngatain dia anak gundik lagi."


Julio melipat tangan. "Aku mendadak kepikiran tapi, Gio, kamu mau sama Kalista? Sampe level mau nikahin dia?"


"Emang kenapa?"


"Mami enggal ngerestuin, jelas. Kamu lebih milih Kalista daripada Mami?"


Sergio langsung mengerutkan wajahnya. "Why you asking me like that? You're just like a woman."


"Ya jelas aku enggak perlu milih. Ngapain harus milih? Mami ya Mami, Kalista ya Kalista. Cuma karena Mami ngelahirim aku, enggak berarti Mami jadi Tuhan buat aku. Cuma karena aku sayang Kalista, enggak berarti Kalista harus lebih dari Mami. Ada tempat buat masing-masing, oke?"


"Oke, ganti pertanyaan." Julio menepuk punggung Sergio. "Kamu mau nikahin Kalista tapi bapaknya Kalista kayak Om Rahadyan. Caranya gimana?"


Sergio langsung tertohok. ".... Shiit."


*

__ADS_1


Kalista naik dengan lesu ke lift, kembali memikirkan soal presentasinya yang gagal total tadi sampai ditertawakan oleh Julio. Rasa-rasanya Kalista mau menghilang dari bumi. Kenapa sih dirinya malah tidak seperti perempuan hebat di drama-drama, yang berbakat, bisa mengatasi semua kesulitan walau keadaan darurat, mandiri dan sangat percaya diri?


Hah.


"Papa." Bibir Kalista tertarik mengikuti grafitasi, mewek mendadak.


"Baby." Rahadyan yang tadinya fokus pada laptop langsung membuka tangan, menerima Kalista jatuh ke pelukannya. "Kamu kenapa, Sayang? Ada orang jahatin kamu lagi? Mau Papa ledakin aja besok kantornya Julio?"


"Bukan!" Kalista memukul bahu Rahadyan karena malah menyalahkan Julio. "Aku disuruh presentasi tadi terus enggak bisa."


"Siapa yang nyuruh kamu?! Harusnya kamu bilang kerjain aja sendiri!"


"Papa tuh gila! Udah ah, enggak mau curhat."


Rahadyan buru-buru memeluk pinggang Kalista erat, mencegahnya bangkit. "Maaf, maaf. Papa salah." Rahadyan beralih membelai rambut Kalista. "Terus gimana? Kok bisa kamu enggak bisa? Kamu kan manusia paling pinter di dunia ini—setelah Papa."


"Ya soalnya aku emang enggak bisa!" Kalista mengubur wajahnya di bahu Rahadyan, mengerang panjang. "Aaaaaaaarngh! Aku jadi bego banget tadi depan Kak Julio. Rasanya tuh kayak aku enggak guna banget."


Tanpa Kalista melihat, Rahadyan mendadak cerah. Pria gila yang super duper protektif ke anaknya itu seketika menepuk-nepuk punggung Kalista padahal tersenyum.


"Cup cup, sayangnya Papa. Susah yah, Sayang? Berenti aja, yah? Kamu magang di kantor Papa aja."


Kalau Kalista magang di kantor Rahadyan, ruangannya bakal Rahadyan buat di atap gedung. Biar semua orang tahu siapa penguasanya.

__ADS_1


Ngapain coba repot-repot kerja dengan dua bekicot itu? Hah, tidak berguna!


*


__ADS_2