My Handsome CEO : I Love You, Pak

My Handsome CEO : I Love You, Pak
Berbela Sungkawa


__ADS_3

Julio mendorong pintu ruangan adiknya untuk membicarakan Kalista tapi ternyata sudah keduluan oleh bapaknya. Terlihat Rahadyan dan Sergio tengah berdebat.


"Om, aku juga enggak pengen Kalista dikatain anak gundik sama siapa-siapa. Aku aja enggak ada di sana semalem. Kalo aku tau—"


"Saya enggak peduli kamu mau apa enggak mau apa! Yang penting buat saya itu Kalista!"


Rahadyan tampak begitu murka sampai tidak menyadari kehadiran Julio.


"Sergio, kamu yang janji sama saya bakal jagain Kalista. Kalo ceritanya gini terus, saya nyewa dua pengawal Narendra sekalian buat jagain anak saya!"


"Oke, Om, itu kayaknya masalah." Julio buru-buru datang, menengahi sebelum Rahadyan menbuat keputusan tidak waras lagi. "Kalista udah diomingin satu kantor karena pake lamborghini, pake tas Gucci, LV, dan apa pun mereknya lagi."


Rahadyan malah balik melotot pada Julio. "Makanya dari awal kamu pecat Kalista!"


"Om mau Kalista nangis-nangis karena dipecat tanpa alasan?"


"Bagus buat kamu. Mending Kalista benci sama kalian biar dia enggak sibuk cinta-cintaan." Rahadyan mengembuskan napas kasar, lalu menjatuhkan dirinya ke sofa. "Tapi kalo anak saya kenapa-napa, kantor kamu saya bom."


Sergio menatap kakaknya dengan sorot mata 'itu beneran jadi jangan kira dia becanda'. Julio geleng-geleng kepala, tak habis pikir tapi entah kenapa juga sedikit lega.


Untuk anak seperti Kalista, mungkin memang dia butuh anjing gila macam Rahadyan.


"Gini aja, Om." Julio ikut duduk, berbicara baik-baik karena menyadari dirinya adalah orang super waras. "Kalista aku kasih tempat di ruangan aku."


Rahadyan mendadak mau membunuh Julio. "Sekarang kamu ganjen juga sama anak saya?! Emang kalian bersaudara enggak ada yang bisa dipercaya! Hah, udahlah! Saya telfon Al sekarang!"

__ADS_1


"Om, Om, dengerin dulu." Julio mencegahnya sebelum Rahadyan sungguhan jadi sinting.


Anak magang macam apa yang punya pengawal kelas internasional?! Itu cuma bikin Kalista jadi bahan gunjingan tanpa ampun!


"Enggak ada! Saya enggak mau dengerin kamu!" tolak Rahadyan mentah-mentah.


"Om, aku enggak godain anak Om, oke? Sergio yang suka sama dia, bukan aku."


Rahadyan melotot horor. "Terus kamu mau ngomong anak saya kurang cantik?! Ngajak gelut saya kamu?!"


Di mejanya, Sergio memilih pura-pura tuli daripada ikutan gila. Sumpah, kayaknya semakin lama Rahadyan dan Kalista menjadi orang tua-anak, malah semakin gila otak mereka berdua.


"Om, please." Julio menghela napas capek. "Aku bakal bantuin Om ngeluarin Kalista dari sini, tapi atas kemauan dia sendiri. Biar dia enggak sakit hati."


"Halah, bacot!" Rahadyan benar-benar keras kepala. "Bilang aja kamu mau godain anak saya!"


Rahadyan membuang muka. Tahu betul bahwa dia tidak bisa menyeret pulang anaknya karena anak itu bisa mengamuk lebih besar dari amukan Rahadyan sendiri.


"Om." Melihat Rahadyan lebih tenang, Julio kembali berbicara. "Soal pesta kemarin, soal Astrid, itu salah aku. Aku yang kurang protektif. Aku enggak tau kalo Astrid bisa sampe segitunya."


Rahadyan mendelik pada Sergio seketika. Membuat Sergio jelas tidak terima.


"Jangan ngelampiasin sama kita dong, Om!" protes Sergio.


"Terus apa? Kamu mau saya ngirim misil ke rumah bapak pacarmu?"

__ADS_1


"Bapak pacar aku ya Om," jawab Sergio.


Mengundang sebuah lemparan sepatu dari Rahadyan.


"Om, ayolah." Julio menghentikan perdebatan tidak penting itu. "Om enggak mau maksa Kalista, Om juga enggak mau Kalista diomongin orang. Kalo kayak gitu satu-satunya cara ya bikin Kalista nyerah sendiri. Aku bakal jadiin dia asisten, ngasih dia kerjaan berat banget biar dia sadar dia mestinya pulang."


Rahadyan menarik kerah pakaian Julio. "Kamu mau nyiksa anak saya?!"


"Terus Om mau apa?!" Julio mendadak histeris. "Om sebenernya mau apa?"


Rahadyan melepaskan kerah Julio, mendadak bersandar pada sofa lagi. Dia tidak punya jawaban karena sebenarnya tidak tahu. Dia mau menyeret Kalista pulang karena tempat ini membuatnya jengkel, tapi itu pasti akan membuat Kalista marah juga sedih.


"Aku tau Om nih rada gila," ucap Sergio baik-baik dan penuh ketulusan. "Tapi plis, Om, seenggaknya percaya dikit kalo kita enggak nyakitin Kalista."


"Halah!"


"Om, kita tuh bukan Om. Kita enggak pernah hamilin cewek pas masih SMP."


"Ngomong apa kamu?!"


Julio mendadak gatal akibat stres. Demi Tuhan, sebenarnya segila apa Rahadyan kepada anaknya?


"Oke, ini keputusan aku." Julio beranjak, batal berdiskusi sebab kayaknya tidak akan selesai. "Kalista kerja sama aku, yah seenggaknya mencegah kalo-kalo Sergio khilaf."


"Kenapa jadi aku?!" Sergio protes tapi Julio tak mau dengar, bergegas pergi saja dari sana daripada gila sungguhan.

__ADS_1


Teruntuk siapa pun nanti jodoh Kalista, termasuk Sergio, Julio dengan tulus berbela sungkawa.


*


__ADS_2