My Handsome CEO : I Love You, Pak

My Handsome CEO : I Love You, Pak
Panggil Kak Julio


__ADS_3

Julio merasa sedikit bingung menceritakan persoalan kemarin pada Sergio. Dia seharusnya tahu tapi dia sepertinya tidak tahu dan Julio justru bingung bagaimana cara memberitahunya.


Terutama karena Julio sendiri masih sibuk berpikir tentang gadis itu.


Dia sedih dikatai anak gundik namun dia menerimanya karena itu kenyataan. Secara logika mungkin dia benar, tapi penerimaan itu justru tidak wajar. Bukankah normalnya dia menolak?


Tapi ya memang fakta dia anak gundik. Jika dia dikatai anak Rahadyan ya dia memang anak Rahadyan. Sama seperti jika dia dikatai anak gundik. Namun, dia seharusnya menolak dikatai anak gundik, kan?


Akh! Kepala Julio jadi sakit.


"Kalista udah dateng?" Julio tak bisa berhenti mengkhawatirkannya sampai-sampai ia menelepon resepsionis buat memastikan.


"Belum, Pak." Wanita itu menjawab hati-hati dan penasaran. "Perlu saya kasih tau Kalista buat ke ruangan Bapak nanti, kalau dia datang?"


"Ya. Bilang saya tunggu di atas." Julio mematikan panggilan lalu diam. Kebetulan hari ini ia memang cukup santai, jadi pikiran Julio pun lenggang memikirkan pacar adiknya itu.


Julio juga masih menimbang-nimbang haruskan ia beritahu Sergio. Dia pasti akan ribut besar dengan Astrid dan masalah itu juga sangat rumit, sebab Mami memang menekan paksa Sergio menikahi Astrid.


Anak itu pasti akan kalap lalu ujung-ujungnya diadukan pada Mami. Jika masuk ke telinga Mami, posisi Kalista pasti akan sangat buruk. Julio bahkan sampai hafal cerita tentang Kalista di perkumpulan arisan Mami. Tentang anak dari pela-cur yang mendadak diserahkan pada Rahadyan karena pelacur itu mati.


Kata mereka, Rahadyan dan keluarganya adalah orang bodoh sebab malah menerima anak pelacur itu, padahal punya pilihan menjauhkan dia demi nama baik keluarga.

__ADS_1


Ya, itu bukan cerita menyenangkan. Kalista dianggap kotoran yang seharusnya tidak dipungut.


Dan masalahnya Kalista sendiri menganggap dirinya kotoran jadi kalau dia diperlakukan seperti kotoran ya dia merasa itu tidak salah. Padahal tidak, kan?


Maksud Julio—


"Permisi, Pak." Ketukan pintu disusul suara Kalista menyentak Julio dari lamunan. "Good morning, Pak," sapa gadis itu seolah kejadian semalam hanyalah mimpi Julio saja.


"Good morning." Julio menyesuaikan sikap, sebisa mungkin. "Kamu ...."


Ucapan Julio menggantung sebab matanya turun menatap tas yang dipegang Kalista, lalu jam tangan berliannya, dan sepatu boots 'entah berapa juta'nya.


Pakaian fancy itu akhirnya kembali.


Jadi begitu, yah. Rahadyan membekali Kalista dengan berbagai barang mewah yang bahkan sangat mahal untuk ukuran kaum elitis agar ada hal lain yang bisa diperhatikan selain dari 'histori' anak gundiknya.


"It's okay." Julio tersenyum. "Kamu emang lebih cocok pake beginian."


"Hehe, makasih, Pak. Kalo gitu saya keluar dulu, Pak, permisi."


Kenapa dia bertingkah agak kaku begitu? Biasanya dia berbinar-binar menatap Julio.

__ADS_1


Perubahan itu mungkin baik buat perasaan Sergio namun kalau dia berubah tepat setelah kejadian semalam, Julio malah merasa ia telah membuat Kalista sangat tidak nyaman.


"Kalista, you can stay."


Gadis itu mengangkat alis. "Excuse me?"


"Aku butuh asisten pribadi di sini." Julio tidak pernah menyangka ia bakal berdusta seperti ini. "Kamu di sini aja."


Kini ia mengerti kenapa Sergio mau Kalista berhenti bekerja dan kenapa Rahadyan sangat posesif. Memang satu-satunya cara yang terpikir oleh mereka melindungi Kalista dari bisikan menjengkelkan adalah mengurung dia di suatu tempat, di mana dia tidak akan pernah mendengar suara siapa-siapa yang menyebalkan.


"Sini, Kalista." Julio beranjak, mengosongkan kursinya untuk dipinjamkan sejenak pada Kalista. "Duduk sini, aku mau keluar dulu."


"Eh?" Kalista cengo, tapi tetap duduk karena Julio mendorongnya untuk duduk. "Pak Julio mau ke mana?"


"Ngurus sesuatu."


Julio hendak beranjak pergi tapi tiba-tiba berbalik, membungkuk pada Kalista. "Panggil Kak Julio. Aku belum jadi bapak-bapak," tegasnya namun dengan senyum.


Wajah Kalista memerah melihat senyum manis Julio yang meninggalkannya begitu saja tanpa penjelasan.


Sumpah, gumam Kalista tak berdaya. Gantengnya bisa kurang dikit enggak?

__ADS_1


*


__ADS_2