My Handsome CEO : I Love You, Pak

My Handsome CEO : I Love You, Pak
Aku Emang Anak Gundik


__ADS_3

"Kalista, kamu enggak pa-pa?"


Kalista mengangkat bahu santai. "Udah biasa," ucapnya tak peduli, sambil menyeka tetesan air dari wajahnya. "Kak Julio liat kan itu Medusa gimana? Enggak heran Sergio pengen mutusin dia."


Mulut Julio terbuka dan terkatup berulang kali. Bukan itu yang ia tanyakan. Ia bertanya tentang perasaan Kalista.


Tapi reaksi Kalista membuat Julio tak sanggup bertanya.


"Maaf." Julio buru-buru melepaskan tuksedo-nya, memasangkan itu ke tubuh Kalista. "Aku enggak nyangka kamu sama Astrid sampe segitunya."


Walau Sergio sudah bilang, Julio pikir mereka cuma saling ejek. Lagipula Astrid yang Julio kenal seharusnya bukan perempuan yang menyiram seseorang dengan jus, di ulang tahun sepupunya sendiri.


"Ikut aku." Julio merasa sangat bersalah tidak lebih protektif. Ia sedikit mengendurkan pengawasan karena Kalista terlihat seperti macam yang kalau diganggu akan menggigit.


Tapi itu tidak penting sekarang. Julio membawa Kalista ke lantai atas, minta izin untuk membawanya ke toilet restoran. Rambut dia terlihat lepek dan mengganggu jadi Julio rasa dia pasti tidak nyaman.


"Bersihin dulu yang lengket. Baju kamu juga."


"Kak Julio overreacting, deh." Kalista tertawa sambil membersihkan wajah dan rambutnya. "Biasa aja, serius. Masih lebih mending daripada dia teriak-teriak bilang aku ngerebut Sergio jadi sebenernya ini masih untung."


Julio tercengang. "Kalista, kamu kenapa diem aja?"


"Apanya?"

__ADS_1


"Ya kamu kenapa mau disirem gitu aja?"


"Terus aku harus ngapain? Nyirem balik?"


Julio semakin tercengang. "Maksud aku, sekali itu kamu enggak bisa ngindarin tapi numpahin di kepala kamu depan kamu—kamu kenapa diem aja?"


Serius kenapa dia seperti menunggu saja dia disiram? Gelas itu tidak seberat beton yang jika dia tepis maka tangannya bisa patah. Namun pertanyaan Julio, kenapa dia diam saja? Bukan soal menyiram balik tapi kenapa tidak dia tepis?


Kenapa?


"I don't know what do you mean, Kak." Kalista malah mengerjap bingung.


"Aku yang harusnya bilang, Kalista. What do you mean you don't know?"


Kalista sempat terdiam. Lama gadis itu terdiam sambil terus membasuh wajah dan rambutnya pelan-pelan, lalu tiba-tiba Kalista menoleh.


"Kamu—"


"Aku emang anak gundik, Kak."


Julio dibuat membisu seketika.


"Mama meninggal karena penyakit, emang. Karena dia keseringan ngela-cur sama orang lain. Dan faktanya," Kalista menelan ludah, "aku emang ngerebut tunangan dia jadi ... aku mesti bales apa?"

__ADS_1


Mulut Julio terbuka samar saking tercengangnya. "So you think ... you think you deserve this? Kamu pantes disirem di depan umum, dibilang anak gundik dan blablabla yang dia omongin?"


"Aku juga nyebut dia cewek yang maksa-maksa cowok buat nikah jadi impas, kan?"


Julio menggeleng. "Anak gundik sama cewek obsesif itu berat julukannya beda."


Kalista mendadak mundur dibuatnya. Bagi Kalista, sebutan anak gundik itu biasa saja. Di telinganya itu seperti julukan 'dasar anak berambut panjang' dan sejenisnya. Sesuatu yang memang fakta dan biasa-biasa saja.


Tapi saat Julio bereaksi seperti ini, Kalista mendadak ingat bahwa memang ada cukup banyak orang yang anti terhadap hal itu. Dan Kalista selama ini menjauhi mereka yang risih terhadap julukan anak gundik.


Kalista sangat memahami perasaan mereka. Kalian tidak mau dekat-dekat dengan anak dari wanita selingkuhan banyak suami orang, kan?


"Sori, Kak." Kalista benar-benar merasa bersalah kalau dia merasa Kalista aneh dan menjijikan. "Sori, gue enggak maksud—"


Ketika Kalista mundur seolah-olah dia ketakutan, Julio tersadar bahwa anak ini merasa terancam.


Julio kembali mengingat akan perkataan Sergio tentang 'Kalista adalah korban bullying yang terlihat seperti pelaku'.


Sebelum Kalista mundur semakin jauh ketakutan, Julio menarik gadis itu ke pelukannya, mendekap dia erat-erat.


"Aku marah," bisik Julio padanya. "Aku marah ngeliat kamu justru enggak terganggu sama omongan kayak gitu. Aku bukan marah sama kamu, apalagi nyalahin kamu."


Dia seharusnya tidak diam. Bukan Julio berharap dia balas berteriak dan menjambak rambut Astrid seperti monyet liar, namun dia seharusnya tidak menerima panggilan 'anak gundik' itu terus-menerus.

__ADS_1


Dia tidak seharusnya merasa pantas.


*


__ADS_2