My Handsome CEO : I Love You, Pak

My Handsome CEO : I Love You, Pak
Senyum-Senyum


__ADS_3

"Bu, Papa nyiksa aku." Akhirnya Kalista mengadukan Rahadyan ke Bu Direktur pada jam makan siang kantor.


Ia patuh sekalipun Julio tidak ada, menjadi gadis baik yang mengerjakan tugasnya. Makanya Kalista baru menelepon Bu Direktur yang mungkin juga sedang makan siang.


"Oke, Kalista, oke." Bu Direktur agak tertawa setelah mendengar penjelasannya. "Tapi enggak jelek juga kan ke kantor pake blouse? Waktu dulu Ibu pertama kali kerja, baju Ibu juga jelek."


"Tapi kan beda!" rengek Kalista, nyaris menangis. "Semuanya ngetawain aku! Apalagi si Sergio Gonggong tuh, awas aja dia!"


"Chill, Darling. Papamu enggak maksud bikin kamu malu. Besides, kamu enggak mungkin nyerah kalo beneran enggak pede, kan?"


Iya sih. Kalau Kalista sungguhan tidak pede dengan ini, ia lebih suka mencekik Rahadyan lalu kabur ke kantor dengan pakaian mahalnya. Tapi Kalista sudah bilang tadi saat bercermin ia sangat cantik.


So what's the metter?


Oke, the metter-nya adalah Sergio terbahak terlalu kencang!


"Gimana kalau gini aja? Ibu marahin Papamu tapi kamu ketemu Ibu."


Kalista langsung terkesiap. Shitt, ia lupa kalau sedang menghindari Bu Direktur biar tidak disuruh kuliah!


"Haha, aku baru inget Kak Julio nyuruh presentasi, Bu. Kalo gitu udah yah. Byeeeeeeee—"


"Ibu dateng ke sana kalo kamu tutup."


Kalista kicep.


"C'mon, Kalista. Kita omongin baik-baik. Ibu juga mau ngerayain sesuatu. Guess what? Ibu udah bukan direktur."

__ADS_1


Ya, Kalista tahu soalnya ia dengar. Ia senang tapi kalau mau bicara soal kuliah, Kalista tidak semangat.


"Bu, aku—"


"Kalista." Bu Direktur—maksudnya, Bu Winnie menyebut namanya lembut. "Ibu enggak mau maksa. Beneran cuma buat ngerayain. Ajak Sergio kalo mau."


Kalista cemberut. "Aku mau ngajak cowok lain, boleh?"


"Pak CEO? Right. Saya pesen tempat VIP kalo gitu."


"Oke. I love you, Bu."


Wanita itu tertawa mendengar Kalista begitu manis mengucap cintanya. "Love you, Sayang."


Kalista tersenyum. Ia menyayangkan Rahadyan tidak jadi menikahi Bu Direktur tapi Kalista tetap jadi anak kesayangan mereka berdua jadi ia tidak sedih sama sekali.


*


Kalista :


Bu Direktur ngajak aku makan malem, Kak.


Katanya bakal pesen tempat VIP kalo Pak CEO ikut.


Enggak maksa kok Kak.


🥺🥺🥺🥺

__ADS_1


Anak ini kenapa semakin hari dia semakin lucu?


Julio meletakkan ponselnya kembali, berusaha keras tidak tersenyum. Tapi semua orang di meja itu dapat melihat senyum yang coba Julio tahan.


Tanpa Julio tahu gelagat kecilnya itu akan menciptakan gosip besar.


Karena Julio tidak tahu, tentu saja dia cuek. Sore harinya punya kesempatan kembali ke kantor untuk memberi Kalista jawaban.


"Alright, kita makan malem. Sekalian aku juga mau ngobrol sama Calon Rektor Masa Depan UA."


Kalista bersorak girang. Mereka pergi lebih awal dan Julio tidak pernah menyangka bahwa ia pergi tanpa memberitahu adiknya lebih dulu. Biasanya Julio santai, tapi sekarang ia merasa kalau memberitahu Sergio, itu seperti ia berbohong sangat kejam.


Mereka pergi ke lokasi yang dikatakan Bu Direktur-nya Kalista, dituntun ke area VIP restoran di mana wanita itu duduk menunggu.


"Ibuuuu." Kalista merentangkan tangan, langsung datang memeluknya.


"Halo, Bocah." Bu Direktur mengacak-acak rambut Kalista. "Baju kamu bagus gini kok dibilang jelek?"


"Gak, jelek banget dari baju aku biasanya."


Julio tertawa kecil sebelum ia datang bergabung. "Malam, Bu Winnie."


"Malam, Pak Julio." Bu Winnie menjabat tangannya formal sekalipun usia Julio jauh lebih muda darinya. "Saya minta maaf anak didik saya nyusahin Bapak. Kalau ada keluhan tolong jangan sungkan kasih tau saya, Pak."


Julio terkekeh. "Keluhan saya lebih ke arah bapaknya sih, Bu. Kalau bisa dibantu soal itu, tolong."


"Ohya?"

__ADS_1


Kalista mengangguk, menceritakan betapa kejam dan tidak berperasaan Rahadyan padanya.


*


__ADS_2