
Kalista yang had no idea bahwa bapaknya ada di ruangan Sergio cuma tersenyum-senyum menunggu Julio kembali. Dia pergi cukup lama. Mungkin sekitar setengah jam sebelum dia kembali dengan sejumlah orang yang membawa barang-barang.
"Pak—Kak Julio serius aku kerja sama Kakak sekarang?"
Julio cuma bisa tersenyum karena mulutnya lelah habis meladeni Rahadyan. "Yap," jawabnya singkat. Fokus melihat orang-orang mengatur meja dan kursi untuk Kalista bisa duduk, mengerjakan tugas yang akan diberikan nanti.
"Tapi Kak, kok sampe kerja di ruangan Kak Julio? Beneran boleh? Serius?" Kalista terlalu senang sampai dia tak percaya.
Tentu saja Julio tidak bisa bilang bahwa alasannya memindahkan Kalista adalah agar dia tidak bertemu siapa-siapa. Agar Julio bisa terus menyibukkan dia dengan pekerjaan dan menghentikan dia bersosialisasi di mana dia terus dipanggil anak gundik.
"Aku enggak terlalu suka manggil-manggil orang dari luar," jawab Julio asal. "Lebih enak ngasih tau sesuatu langsung. Tapi kamu jangan berisik kalo lagi kerja, oke? Sisanya terserah kamu."
Kalista penuh kepatuhan mengangguk, menerima ucapan Julio sebagai Firman Tuhan yang suci.
Dengan cepat meja dan kursi Kalista jadi, bersama semua peralatan yang diperlukan untuknya di sana. Kalista pun duduk di sana, senyum-senyum melihat Julio duduk di kursi CEO, mulai fokus pada layar komputer.
Hehe, memang orang ganteng dipandangi bagaimanapun tetap menghibur hati.
"Kalista," ucap Julio setelah lama fokus. "Aku kirim file ke komputer kamu, koreksi kalo ada salah kata."
"Siap, Pak." Kalista cengengesan senang diberi perintah. Duh, makin hot malah kalau dia serius.
Sepenuh hati, jiwa dan raga Kalista mengerjakan tugasnya, demi mendapat pujian dari Julio. Begitu selesai Kalista mengirimnya balik.
"Kamu udah pastiin?"
"Sudah, Pak."
Julio fokus pada layar tapi masih sempat berkata, "Saya bukan bapak-bapak."
"Siap, Sayang," gumam Kalista tanpa suara. "Siap, Kak, hehe."
"Hehe," Julio menoleh, "kalo gitu sekarang baca semua file yang saya kirim, hafalin, presentasi ke saya nanti sore tanpa nyontek. Kalo ada salah kata, koreksi juga. Oke?"
__ADS_1
Wajah Kalista langsung pucat. "Nanti sore, Kak?"
"Jam lima, kira-kira." Julio beranjak dari kursinya. "Jangan ke mana-mana sebelum saya balik. Nanti jam makan siang sekretaris saya nganterin makanan, camilan sama minum ambil sendiri di sana." Julio menunjuk sudut tempat mesin kopinya berada. "Jadi enggak ada alasan buat ke mana-mana. Fokus."
Kalista mengangguk kaku dengan kepala yang sudah pening. Sialan! Kalista paling benci presentasi sejak jaman SMA! Lagian memangnya sekretaris tuh presentasi, yah?
*
"Halo, Budak Korporat."
Kalista langsung mendongak dari komputer begitu pintu ruangan Julio dibuka dan Sergio datang menenteng nampan makanan.
"Sergioooooo!" rengek Kalista seketika. Gadis itu bahkan menggaruk kepalanya, siap untuk mewek detik itu juga. "Kak Julio nyuruh gue presentasi, masa! Nanti sore pulak! Hueeeeee!"
"Mampus lo." Sergio malah terbahak. Lompat ke atas meja Kalista dan meletakkan makanannya begitu saja. "Lo kira kerja kantoran bisa modal cantik doang? Nehi, Sayang."
"Tapi kan sekretaris tuh kerjanya bukan presentasi! Gue magang buat jadi sekretaris!"
"Huek!"
Sergio terkekeh. Mengacak-acak rambut Kalista yang sudah berantakan karena dia menggaruknya frustrasi. "Mau gue bantuin?" tawarnya sekalipun tahu Julio pasti menyuruh Kalista begini biar dia sibuk saja.
Kerjaan ini sebenarnya tidak ada gunanya.
Mendengar ucapan Sergio yang sangat manis bagaikan madu, Kalista langsung memasang wajah anjing kucu. "Pliiiiis?"
Wajah yang membuat Sergio cuma bisa menahan debaran jantungnya. Hah, Kalista. Sebenarnya kapan dia menyadari bahwa Sergio—
Ting!
Sergio merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel hanya untuk melihat chat Julio.
Julio :
__ADS_1
Kamu nengok Kalista?
Jangan bantuin.
Sergio :
Masa gue enggak boleh bantuin cewek gue?!
Julio :
Aha, karena kamu babunya bukan pacarnya.
Inget kan?
Cuek.
Ceh! Dasar pengganggu hubungan orang.
"Gak jadi gue bantuin." Sergio melompat turun dari meja. "Gue sibuk."
"Heh! Lo udah janji mau bantuin!"
"Cuma nanya, bukan bilang janji." Sergio menjulurkan lidah. "Adios, Beibeh."
"SERGIO!"
Kalista mengacak-acak rambutnya untuk melampiaskan frustrasi. Memang dasar temam breng-sek. Tapi sekalipun Kalista bernafsu mengejar Sergio untuk menimpuk dia dengan sepatu, Kalista harus tetap di sini mengerjakan tugasnya.
Sambil cemberut, Kalista melahap sandwich pemberian Sergio.
Haduh, nanti sore ia bakal ditertawakan oleh Julio.
*
__ADS_1