
Bu Direktur tersenyum seolah dia sudah tahu memang akan begitu akhir jawaban Kalista. Wanita itu menangkup wajah sahabat kecilnya, mencium kening Kalista penuh sayang.
"Pilihan kamu, tanggung jawab kamu. Ngerti?"
"Siap, Bu." Kalista tertawa cerah. Balas mencium pipi Bu Direktur dan bersandar padanya, menanyakan soal jabatan baru Bu Direktur.
Kalista juga bilang bahwa ia tidak mau kuliah bahkan kalau namanya terdaftar. Setelah penjelasan tadi, Bu Direktur mengerti akan pilihan Kalista.
Tidak bisa semua orang memilih pilihan sama. Kalista memang punya pilihan tidak berkuliah. Dia memilihnya untuk dirinya sendiri, maka dia layak dihargai.
Sepanjang makan malam, Kalista terlalu sibuk pada Bu Direktur sampai lupa pada Julio. Begitu selesai makan malam, Bu Direktur pamit karena sudah berjanji bertemu seseorang.
Kalista mau berlalu ke parkiran, siap pulang jika tangannya tak dicekal.
"Mau ke mana?" tanya Julio pelan.
"Pulang," jawab Kalista santuy. "Ohiya yah, Kak Julio pake mobil aku tadi. Ayo, Kak, aku anter pulang."
Julio menatap Kalista dengan bibir berkerut.
Jadi itulah Bu Direktur. Meskipun Sergio cerita betapa terobsesi Kalista pada Bu Direktur, tidak Julio sangka dia membuat Kalista lupa pada Julio.
Dan Julio tak tahu mengapa ia sebal.
Bukan, tentu bukan pada Bu Direktur. Tapi ... Kalista mendadak seperti tidak peduli siapa Julio. Mendadak, pusat hidup Kalista itu menjadi Bu Direktur dan bukan Julio. Lalu jawabannya tadi, dia benar-benar mengatakannya tanpa beban.
Yaudah, repot amat, cari yang lain, katanya. Bukankah itu agak terlalu kejam? Bukankah dia selama ini melakukannya demi Julio? Demi mendapat perhatian Julio?
Shitt, umpat Julio pada dirinya. Kenapa kesannya aku minta dia makin terobsesi?
But she just threw me away like a shitt. That so mean, okay? Of course I mad at her.
Apa Sergio selalu merasakan perasaan ini, yah? Dianggap tidak terlalu penting tapi selalu digunakan karena berguna.
__ADS_1
"Kak? Kak Julio kenapa?"
"Nothing." Julio melepaskan tangan Kalista. "Kamu pulang aja. Aku nunggu jemputan."
"Ohya? Yaudah."
Semudah itu?! Bukankah seharusnya dia mendesak karena dia mau melihat wajah Julio lebih lama?
Kalista yang terlalu senang habis bertemu Bu Direktur jadi kurang fokus pada Julio. Gadis itu berbalik pergi begitu saja, mengambil mobilnya untuk pulang sungguhan.
Sedikitpun Kalista tidak tahu bahwa malam itu Julio merasa dicampakkan dan Julio marah akan hal itu.
*
Esok harinya, Kalista masuk kantor tetap dengan setelan murah walau menenteng kunci lamborghini ditemani jam tangan berlian. Gadis itu masuk ke lift bersama sejumlah orang-orang yang sudah tak berani mengejeknya.
Mereka malah sibuk bergosip soal hal lain.
"Gue denger sih Pak Julio emang punya tunangan."
"Kalo yang gue denger malah Pak Julio enggak dijodohin soalnya punya pacar dari SMA."
"Ah, enggak, deh. Enggak mungkin pacaran selama itu tapi satu fotonya enggak pernah keliatan. Seenggaknya pasti pacaran diem-diem dua tahun."
"Iya juga, sih."
"Tapi emang Pak Julio misterius banget, sih. Pacarnya pasti spesial banget."
"Gue denger katanya pas rapat Pak Julio senyum-senyum."
Kalista merasa jiwanya serasa dicabut dari raga. Sejak kapan? Sejak kapan Julio punya pacar?!
Oke, kalau dipikir-pikir Kalista tidak pernah bertanya dia punya pacar atau punya tunangan. Ia terlalu fokus pada ketampanan sampai lupa kalau hal semacam itu juga penting.
__ADS_1
Tapi pacar?! Serius?!
Kalista keluar dari lift terburu-buru. Langkahnya menuju ke ruangan Sergio, mendorong pintunya terbuka dan langsung berteriak.
"Sergio, lo enggak bilang Kak Julio punya cewek!"
Lalu sesaat kemudian, Kalista kicep.
Di dalam ternyata ada Julio.
"Hehe, maaf, Kak. Selamat pagi."
Julio mengangguk tanpa ekspresi. "Hm," gumamnya singkat, sebelum dia berlalu keluar.
Diberi sikap dingin itu, tentunya Kalista histeris.
"KAK JULIO KENAPA?!"
Sergio menutup telinganya yang serasa mau pecah. "Berisik banget, sih!"
"HABISNYA LO ENGGAK BILANG KAK JULIO PUNYA PACAR!"
"Good God! Mana gue tau, Kalista!" Sergio melotot. "Kakak gue tuh jarang cerita kehidupan pribadi ke gue, oke? Dia tuh enggak ceriwis kayak elo!"
"Tapi!" Kalista mau protes tapi sadar tapinya tidak bisa dilanjutkan. "Ish! Masa sih punya pacar?!"
Terus ciuman malam itu apa, dong? Masa bukan apa-apa buat dia? Masa Kalista baper sendirian?
"Mending lo diem, deh." Sergio menopang dagu. "Julio kayaknya lagi bete digosipin. Kalo bener nih dia punya pacar diem-diem, Julio marah banget kalo itu ketahuan. Soalnya dia enggak suka diulik-ulik."
Kalista mau meraung-raung. Jodoh masa depannya ternyata jodoh orang?!
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
__ADS_1
*