My Handsome CEO : I Love You, Pak

My Handsome CEO : I Love You, Pak
Tidak Lagi Mendukung


__ADS_3

penting : buat yang ngira author PHP, enggak yah. author akan tetep lanjutin Kalista, bahkan rasanya udah kepikiran S3 nanti gimana. kalian bisa BACA dan DUKUNG kalista di lapak Kalista, yah.


buka aja profil author karena judulnya Kalista ada nama KALISTA-nya. kalian bisa baca dari awal atau langsung baca dari chapter 29.


terima kasih 🙏🙏🙏


***


Kalista melotot. "Kepo!"


Jawaban yang membuat pukulan Sergio mendarat di kepalanya. Tentu saja, pelan dan tidak menyakitkan walau menyebalkan.


Sergio beralih ke meja Julio yang pura-pura sibuk mengamati pasar saham.


"Aku udah ketemu tamu dari litbang tadi." Sergio meletakkan map di meja Julio, hasil dari pertemuan tadi. "Emang kamu sibuk ngapain tadi sampe enggak sempet? Perasaan di kantor doang."


Julio sejujurnya sedang merasa bersalah tapi enggan menganggap dirinya berbuat salah. Perasaan Julio pada Kalista jelas sudah berubah sejak ciuman kemarin dan diperjelas oleh kejadian hari ini.


Masalahnya, itu pasti sulit bagi Sergio. Julio juga sangat percaya diri berkata ia menganggap Kalista adiknya, dulu, namun justru ia mengkhianati ucapannya sendiri.


"Lagi enggak mood," jawab Julio datar. Pada akhirnya cuma bisa berpura-pura dan berbohong.


"Sangat profesional yah alesan Anda." Sergio berbalik, kembali ke meja Kalista. "And you, why you're smiling like that?"


Kalista yang tak bisa menahan bibirnya tersenyum-senyum langsung menjulurkan lidah. "Bukan urusan lo."


Sergio menarik hidung Kalista. "Buruan makan. Itu sandwich kiriman Kak Cassie. Katanya dibikin Latifah buat lo."


"Serius?" Kalista langsung memyambar kotak makanan itu, menemukan sandwich kesukaannya dan hafal bentuk buatan Latifah, pembantu muda di kediaman Oma.


Saat Kalista memakan sandwich di sana, Sergio juga ikut mengambilnya. Pemuda itu duduk di meja Kalista, menghadap padanya dalam posisi yang kemarin wajar tapi hari ini tidak wajar bagi Julio.

__ADS_1


Tatapan Julio tertuju pada Kalista ketika gadis itu sibuk mengajak Sergio bicara mengenai rasa sandwich.


"Latifah lupa lagi masukin mayones," kata Kalista mengomentari.


"Sandwich roti pake keju empat lapis tuh udah bikin mau muntah, apalagi nambah mayones, bego."


"Tapi gue sukanya itu, bego! Terserah gue dong maunya empat lapis keju kek, tambah bawang putih kek, pake paprika kek, suka-suka gue!"


Sergio tertawa mencubit pipi Kalista. "Gue bikinin pake bawang putih makan beneran ya lo."


"Sandwich lo tuh paling enggak enak yang pernah gue makan! Lebih enggak enak dari bikinan Mama!"


"Ehem."


Julio tidak tahu bahwa ia bisa secemburu ini. Padahal biasanya ia tak mengganggu dan bahkan jadi support system bagi mereka, tapi ia berdehem semata agar mereka berhenti bicara berdua.


"Kamu enggak ngasih aku juga, Kalista?" tanyanya asal.


"Mau." Mau dia sih, kalau bisa.


"Yaudah—"


Sergio menahan Kalista beranjak. "Biar gue." Ganti dia yang berdiri mengantarkan kotak bekal Kalista kepada Julio. "Here."


Ini tidak terlalu menyenangkan, Julio rasa. Rasa bersalah karena Sergio masih mengira Kalista adalah pacarnya ... dan rasa cemburu karena Sergio bisa terang-terangan menunjukkan itu.


*


Kalista langsung berdiri dan membereskan sisa-sisa makan siangnya, sekaligus melipat selimut yang sejak tadi ia pakai. Kalista lantas beranjak ke toilet pribadi Julio, karena sejak tadi ia menahan pipis gara-gara gugup.


Untuk berbagai hal.

__ADS_1


Begitu Kalista keluar, Julio sudah nangkring di mejanya.


"Aku minta jadwal Kak Julio ke Megan jadi aku tau habis ini Kak Julio mesti keluar."


"I know." Julio menarik Kalista di antara kakinya, memeluk pinggang gadis itu. "Cuma aku perlu nanya dulu."


Kalista ikut mengalungkan lengannya ke leher Julio. Sebenarnya sih ia tidak masalah yah kalau Julio tidak kerja, soalnya Kalista lebih suka itu. Tapi dia harus pergi karena dia adalah bos dan bos adalah top tier orang paling sibuk.


"Sergio cerita ke aku soal pertama kali kalian jadian."


"Aku sama Sergio tuh enggak pernah—"


"Buat bikin Om Rahadyan kesel?"


Aha, Kalista lupa itu. Benar juga, yah. Saat itu ia dan Sergio resmi jadian, tapi kemudian Kalista lupa lantaran Agas hadir di hidupnya.


"Kalista, Sergio tergila-gila sama kamu mungkin dari sejak waktu itu."


Kalista mengerucutkan bibir. "Terus?"


"Dia bakal terus ngejar kamu sampe dia dapet kamu." Julio membelai pipi Kalista dengan punggung jemarinya. "Tapi sekarang aku enggak bakal biarin itu."


Kalista membulatkan mata. Tubuhnya merapat pada Julio dan tersenyum-senyum padanya. "Ceritanya Kakak cemburu?"


"No."


"Ish."


Julio terkekeh. Mencium bibir Kalista sekilas sebelum mengubahnya jadi pelukan erat.


Terus terang, Julio tak tahu. Perubahan hubungan mereka terlalu tiba-tiba dan Julio merasa sulit memahami perasaannya. Tapi setidaknya itu benar bahwa Julio tidak lagi mendukung Sergio mendapatkan Kalista.

__ADS_1


*


__ADS_2