My Handsome CEO : I Love You, Pak

My Handsome CEO : I Love You, Pak
Yang Bener Loe, Bambang?!


__ADS_3

"Maaf. Maaf, Pak." Kalista berkaca-kaca membungkukkan badannya. Sadar betul bahwa ia memang menyusahkan. "Kalo gitu saya pindah aja ke Sergio, Pak. Saya enggak mau ganggiin Bapak."


"Sergio? Kamu ke Sergio ngapain? Minta dimanjain?"


Air mata Kalista berjatuhan tanpa kendali. Ia takut dengan Julio sekarang. Dia terlalu pedas dan menohok ke intinya.


Padahal dia sendiri yang membiarkan Kalista tapi ternyata selama ini dia keberatan?


"Maaf, Pak." Kalista menutup mulutnya dan berusaha keras menahan tangis. "Maaf. Maafin saya. Permisi."


Kalista merasa harus pergi sekarang untuk menenangkan diri. Ia berusaha paham kalau Julio sedang marah akibat gosip tentang dirinya.


Tidak boleh sampai cengeng. Kalista tidak akan mengganggu dia lagi kalau dia merasa terganggu jadi—


"Kalista."


Sebelum Kalista menarik pintu ruangan terbuka, tangannya dicekal. Julio menarik gadis itu berbalik, mencari wajahnya yang merah akibat tangis.


"Jangan nangis," gumam Julio lembut. "Aku enggak maksud—"


"Pak, saya ngerti." Kalista mengusap kasar air matanya dan terus menunduk. "Bapak lagi marah terus saya enggak becus kerja. Saya ngerti. Bapak enggak salah. Cuma saya—"


"Kalista."


"Permisi, Pak. Sebentar aja. Saya mau ke toilet."


"Toilet di sana, Kalista."


"Saya mau toilet di luar, Pak." Kalista menepis tangan Julio. Ingin berbalik pergi lagi tapi tangannya kembali ditahan. "Pak—"


Kalista terkejut Julio tiba-tiba meraih wajahnya, maju untuk mencium Kalista. Namun sebelum itu terjadi, Kalista mendorong Julio kuat.

__ADS_1


"Saya bukan pelakor!" Kalista menjerit spontan. "Maaf, Pak, saya beneran enggak mau jadi pelakor. Kalo Bapak punya pacar, saya enggak bakal gangguin lagi. Maaf."


"What is exactly you're talking about?" Julio membalas kesal. [Kamu ngomong apa sih?]


Julio sejak tadi tidak paham masalah pacar-pacar itu. Apa sih? Kenapa Sergio mendadak bertanya soal pacar lalu Kalista menyinggung pelakor?


"Siapa yang punya pacar?" tanya Julio super duper jengkel.


"Bapak?" balas Kalista polos, juga bingung.


"Aha, terus saya pernah bilang saya punya, gitu?"


"Eh?"


Julio menarik Kalista dan menunduk padanya.


"Saya enggak punya pacar," bisik Julio, "kecuali kamu mau jadi yang pertama."


Sesaat setelah itu, ciuman Julio memenuhi Kalista. Lengan pria itu melingkari punggungnya, menarik Kalista lebih dekat dan mendesak ciuman itu semakin dalam.


Jemari Kalista mencengkram tengkuk Julio, merespons ciumannya yang menggelitik perut.


Seolah tak puas sampai di sana, Julio mendorong Kalista bersandar pada pintu. Menjepitnya di sana dan memaksakan ciuman yang terlalu intens.


Kalista sangat ingin menikmatinya, tapi ia terlalu gugup dan ini masih terhitung pertama kali. Tanpa bisa dicegah, Kalista tersedak.


Perempuan itu berjongkok, batuk-batuk parah kehabisan oksigen.


Julio yang semula dikelilingi badai, mau tak mau ikut berjongkok, tertawa melihat Kalista.


"Maaf." Julio mengusap-usap punggung Kalista. "Aku buru-buru banget ya? Maaf."

__ADS_1


Kalista menggeleng. "Enggak." Tolong jangan minta maaf karena itu seakan jadi kesalahan. "Enggak pa-pa, Ka—uhuk."


"Oke, tunggu bentar." Julio beranjak, pergi ke sudut tempat kulkas dan mesin kopi berada untuk mengambil air mineral.


Julio kembali ke hadapan Kalista, membantunya minum tapi Kalista malah tersedak lagi.


"Anjir." Kalista mengumpat pada dirinya sendiri. "Malu-maluin banget!"


Julio tertawa tak habis pikir. "Kamu nyium aku kemarin bisa."


"Itu beda, Kak!" Kalista memegang tenggorokannya. "Kakak tadi tuh kayak mau makan—"


Lalu ucapannya berhenti, sadar sesuatu yang lebih penting.


Shitt! Kalista melotot. Barusan dirinya dan Julio berciuman?! Julio menciumnya duluan dan dia seperti mau memakan Kalista!


"Makan kamu?" Julio mengulurkan tangan, mengusap sudut bibir Kalista. "Emang mau. Kamu enggak mau?"


Oke, stop gemetaran duhai rahim gue yang murahan. Plis jangan bikin gue malu!


"Tapi kenapa?" tanya Kalista padahal sebenarnya cuma mau dicium dan persetan alasannya apa. "Kak Kakak—"


"Entah." Julio tersenyum. "Mungkin aku luluh?"


Yang bener loe, Bambang?!


"Udah selesai keselek? Mau lanjut atau udah?"


"Lanjut!" balas Kalista spontan, terkhianati oleh harga dirinya sendiri.


Tapi bodo amat! Kalista memeluk Julio, kembali memberikan bibirnya untuk ciuman yang tidak pernah Kalista bayangkan seumur hidup.

__ADS_1


*


Dukung karya ini dengan like 👍 kalian dan mampir ke karya author lainnya 👇


__ADS_2