
"Om sebenernya ngapain, Om?"
Yaitu meminta secara langsung pengakuan dosa dari Rahadyan sampai anaknya jadi macam itu. Apa dia tidak takut melihat ekspresi anaknya yang mendadak jadi sulit dijelaskan itu?
"Kenapa kesannya jadi salah saya?!" Rahadyan membalas defensif.
"Oh yajelas salah Om. Kalista begitu pas sama Om."
"Gak, itu salah kamu!" Rahadyan mendelik. "Kamu yang ngajak-ngajak Kalista ke sini makanya jadi begini!"
Julio menggeleng-geleng. "Astaga, Om tega banget."
Pria itu tertohok. "Kenapa jadi—"
"Om bisa-bisanya bikin anak Om sedih gitu. Tadi kata Sergio juga katanya Kalista kayak lagi nangis. Om posesif banget sama Kalista, takut Kalista disakitin sama cowok-cowok tapi Om malah nyakitin sendiri. Ckckck, aku kira Om udah berubah ternyata ... hah."
Rahadyan menyambar gelas di tangan Julio dan meminumnya untuk meredakan batuk-batuk mendadak.
"Om pernah denger kasus anak benci sama papanya?"
"ENGGAK SAMPE SEGITUNYA KALI!"
"Eh, Om ngeremehin." Julio menggeleng-gelengkan kepalanya semakin dramatis. "Om enggak pernah liat anak perempuan ngoceh di sosial media kalo papanya enggak ngertiin dia? Sampe dia jadi broken home, terus ngerokok, minum-minum sampe narkoba, Om, gara-gara depresi."
"Oke, oke! Oke! Saya yang salah!" Rahadyan dengan sangat terpaksa mengakui. "Tapi saya juga enggak nyangka Kalista bakal sesedih itu!"
"Emang Om ngomong apa?"
Rahadyan ogah menceritakannya tapi Julio terus-menerus menyerah titik lemahnya sampai dia menyerah, bercerita kalau Kalista sedih karena dilarang pacaran.
__ADS_1
Ekspresi Rahadyan waktu bercerita itu mirip anak kecil yang takut habis memecahkan vas kesayangan mamanya tapi juga merasa bersalah.
Haduh, dasar ayah-anak merepotkan. Julio pikir ada masalah sekelas negara, tapi ternyata malah soal begituan doang.
"Lagian Om sih egois." Karena Julio sebal pada Rahadyan sejak di kantor kemarin-kemarin, ia dengan sengaja memojokkan. "Hobinya ngoleksi perempuan tapi anak Om malah enggak boleh pacaran. Emang cuma Om gitu yang butuh kasih sayang lawan jenis?"
"Bacot kamu! Mau saya bakar rumah kamu biar nyaho?!"
"Lah? Aku kan cuma ngasih saran." Julio membuang muka. "Ya siap-siap aja sih, Om, Kalista benci sama Om. Apalagi anak cewek tuh gampang banget dendam. Hadeh, kasiannya Om. Bentar lagi pasti video tiktok-nya Kalista keluar. Judulnya 'Curhatan Anak Yang Terlalu Dikekang'. Gelombang tsunami feminis bakal menerjang sih ini."
Rahadyan menggaruk kepalanya frustrasi sampai dia bahkan tidak peduli jika beberapa orang melihatnya seperti orang gila.
"Julio, mau kamu bujuk saya pake pelet juga saya enggak bakal ngerestuin Kalista pacaran!"
Julio tertawa. Kayaknya kemampuan Kalista menjadi lucu saat dia tidak melucu itu turunan bapaknya. Sebab melihat Rahadyan sekarang, Julio jadi merasa geli.
"Om, aku ngerti Om takut anak Om kenapa-napa. Emang, Om, emang. Cowok tuh enggak bisa dipercaya jagain anak orang." Julio membenarkan saja biar dia berhenti membantah.
Rahadyan mengusap kasar wajahnya, mau tak mau dia pasti tertohok.
"Om?"
"Akh, bacot!"
Rahadyan melangkah marah, pergi meninggalkan Julio yang cuma bisa geleng-geleng. Tapi itu tidak sia-sia karena Rahadyan berjalan mendekati anaknya, siap mengembalikan keceraian yang telah dia renggut paksa.
"Kalista." Rahadyan mendudukkan diri di samping anaknya yang makan kue tanpa semangat, padahal dia sangat suka makanan manis.
Kue-kue di pestanya keluarga Sergio pasti enak. Tapi suasana hati Kalista sangat buruk sampai dia tidak tersenyum.
__ADS_1
Semuanya karena Rahadyan.
"Sayang." Rahadyan mengambil piring kue itu untuk ditepikan sejenak. Diambil tangan Kalista, menggenggamnya lembut sembari mengarahkan dia agar berpaling. "K-kamu ...."
Mulut Rahadyan mendadak gagu.
"Ka-kamu, ka-kamu ...."
"Apa, Pa?" tanya Kalista malas. "Papa sana deh ah. Aku mau makan. Tuh banyak temen-temen Papa di sana."
"Kamu boleh suka sama Julio."
Perkataan yang sangat amat enggan Rahadyan keluarkan itu terpaksa harus keluar. Tentu saja, sukses membuat Kalista cengo.
"Papa ngomong apa?" ucap dia tak percaya.
"Kamu boleh—cuih—suka sama Julio." Rahadyan mengucapkannya tak ikhlas dan penolak penolakan.
Tapi Kalista tidak peduli pada cuihnya. "Serius?!" pekik gadis itu riang.
"Hm." Rahadyan menjawab dingin.
"Yang bener boleh?!"
"Hm."
Seketika itu senyum Kalista kembali. Senyum yang sangat Rahadyan sukai dan menjadi sanyum paling terbaik dalam hidupnya, melebihi segala hal.
"Yey, sayang Papa."
__ADS_1
Hehe, cuma boleh suka tapi, yah. Rahadyan tidak pernah bilang dia boleh pacaran.
*