My Handsome CEO : I Love You, Pak

My Handsome CEO : I Love You, Pak
Anak Pemberani tapi Lemah


__ADS_3

Sergio menarik Kalista yang nampaknya sangat syok mendengar cara papanya ditolak. Walau itu sebenarnya bukan penolakan, tapi diangkat menjadi seorang Wakil Rektor sama saja seperti memberi pekerjaan yang terlalu banyak buat Bu Direktur.


Pernikahan apalagi dengan pria sekaya Rahadyan tentu saja berputar pada keluarga sangat besar, fitting baju sana-sini, dekorasi, undangan, hadiah, lalu segala setan-setan lainnya yang Bu Direktur sebagai Bu Wakil Rektor tidak akan bisa mengurusinya.


"Gue mau muntah," gumam Sergio saat kembali duduk. "I mean, I feel bad like ... extremely."


"Gue syok," gumam Kalista juga. "Antara Papa ditolak bahkan sebelum ngeluarin cincin ... sama soal gue ternyata didaftarin kuliah. I don't even know!"


Julio kembali menyantap makanannya.


"Kok Kak Julio tau Papa enggak jadi ngelamar?"


"Nebak aja," jawab Julio santai. "Hawa perempuan kayak Bu Direktur itu, kayak ... untouchable. Dia enggak jual mahal, enggak dingin juga, tapi dia terlalu sibuk sama kerjaan. Perempuan kayak gitu intimidating, bukan dalam artian mereka buruk. Tapi yah, cowok jiper duluan."


Kalista cemberut. "Padahal kalo Bu Direktur jadi Mama aku, aku rela aja."


Sergio melirik. "Really? Lo mau manggil Mama ke orang lain selain mendiang nyokap lo?"


"Kalo Bu Direktur, yes."

__ADS_1


Julio mengangkat alis. "Kamu keberatan ngasih tau siapa Bu Direktur ini? Kayaknya kalian kenal banget."


"Like I said, dia Direktur sekolah gue sama Kalista," jawab Sergio. "Dan dia temennya Kalista."


"Temen?"


"Satu-satunya." Kalista menambahkan. Gadis itu mendadak terlihat murung, memegang sandwich-nya dan menatap isian daging sapi di sana. "Sergio, waktu lo pergi, satu sekolah ngebully."


"What?"


Kalista menelan ludah, merasa ingin menangis karena harus menceritakan lukanya. Tapi Kalista menguatkan diri, mengutarakan alasan kenapa Bu Direktur itu istimewa.


"Waktu lo pergi, Kak Agas juga udah enggak ada. Tunangan lo, Astrid, akhirnya bisa gangguin gue. Dia mulai nyuruh temen-temennya ngetawain gue kalo gue dateng, bikin anak cowok ngobrol di depan gue soal nyokap gue gundik, sampe nyebarin foto-foto gue buat digosipin."


"Enggak ada yang mau ngomong sama gue. Karena kalau ada, orang-orangnya Astrid bakal ngebully mereka juga. Jadi tiap siang, tiap waktu istirahat, Bu Direktur nyuruh gue ke ruangannya buat makan bareng."


"Lo enggak ngomong sama bokap lo?"


"Gue enggak mau Papa bayar orang biar nemenin gue. Gue juga enggak mau Oma minta ke keluarganya, kayak lo dulu, buat jadi temen gue cuma karena gue enggak tau cara nyari temen," ucap Kalista dengan senyum tegar.

__ADS_1


"So, satu waktu gue enggak ke ruangannya Bu Direktur karena gue diketawain. Katanya gue lari ke Bu Direktur karena gue nolak kenyataan enggak ada yang mau nemenin gue makan. Gue ngumpet di gudang belakang tapi Bu Direktur dateng, bilang kalau dia enggak mau makan kecuali temen makan siangnya dateng."


Julio mengangguk-angguk mendengar cerita anak itu. Adiknya memberitahu Julio bahwa Kalista anak yang pemberani dan terus terang, tapi di sisi lain dia juga sangat lemah.


Kalista bukan anak yang akan diam saja kalau dia diserang, tapi dia juga bukan anak yang akan berusaha keras membuat seseorang suka padanya.


Pada Julio pun dia cuma mengutarakan kalau dia suka, tapi nyatanya tidak memaksa jika Julio bilang dia harus pergi atau harus bersama Sergio.


"Hei." Sergio menyentuh tangan Kalista dan menggenggamnya di atas meja. "Sorry. I'm so sorry, Kalista. Gue pikir lo enggak bakal sampe sendirian. Gue pikir lo enggak bakal dibully karena gue tau lo enggak penakut."


"Gue enggak penakut, emang." Kalista tersenyum. "Tapi gue juga bukan orang gila yang ngelawan satu sekolah jadi yah thank you udah ninggalin gue."


"Kalista—"


"Daripada ngurusin itu, mending gue ngeliatin Kak Julio." Kalista kembali mesem-mesem pada Julio. "Hehe, Kak Julio perhatian banget mau dengerin aku cerita."


Sergio memukul kepala Kalista sebelum dia beranjak kesal.


Walau kesannya dia marah pada Kalista, Julio tahu anak itu pergi untuk menghubungi Astrid tunangannya.

__ADS_1


Nampaknya untuk sekali lagi dia akan minta pertunangan dibatalkan.


*


__ADS_2