My Handsome CEO : I Love You, Pak

My Handsome CEO : I Love You, Pak
Memikirkan Ciuman


__ADS_3

Tapi tatapan mata semangat Kalista langsung berubah super kecewa saat mobil berhenti di depan warung makan sate.


Serius deh Sergio itu menyebalkan. Apa coba maksudnya dia mengajak Kalista ke warung sate yang speakernya memutar lagu dangdut menyebalkan?


"This is traditional dugem," kata Sergio menertawakan kekecewaan Kalista. "Noh, lo mau joget Inul juga boleh—kalo urat malu lo udah putus."


Kalista berusaha keras tidak menabok cowok itu dengan sepatunya. Mau tak mau ia ikut turun, masuk ke dalam untuk memesan sate karena memang lapar.


"Daripada lo bete masalah dugem, mending lo bantuin gue mikirin Astrid."


"Ngapain gue mikirin tunangan lo?" balas Kalista ketus.


"Because you're my 'fake' fiance." Sergio menyentil kening Kalista. "Lagian kalo urusan ngajak ribut orang, lo kan jago tuh. Pikirin cara kek gimana gue bisa bikin Astrid mau putus."


"Gue tau." Kalista menjentikkan jarinya. "Lo ke hotel, nyewa gundik, pura-pura ketahuan, and gome over. Yeay, everyone's happy!"


"Yeay!" Sergio ikut berseru, walau dalam sekejap ekspresinya datar. "Lo kira gue enggak pernah nyoba?"


Kalista membulatkan mata kaget. "Seriously?"


Sergio mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Waktu gue di Singapur, ada cewek cantik banget terus gue minta bantuan dia buat pura-pura neror Astrid."

__ADS_1


"Good God, ternyata lo norak banget!" ejek Kalista tertawa.


"Bacot!" Sergio mendelik, tapi melanjutkan ceritanya. "Terus dia ngomong kayak, jangan gangguin Sergio lagi soalnya dia udah punya gue. But you know what? Astrid dateng ke Singapur malem itu juga."


"Creepy." Kalista bergidik ngeri. "Lo tau, mending lo nikah aja sama Astrid terus lo tungguin dia bosen sama lo. Biasanya sih kalo lo terobsesi banget sama sesuatu, pas lo milikin malah boring."


"Enak aja." Sergio merengut. "Gini-gini gue punya prinsip enggak ngelakuin sesuatu kecuali gue beneran mau."


"Lo pernah ciuman sama Astrid?"


Sergio mendadak beku, lalu secara kaku dia menggeleng yang berarti jawabannya iya.


"God, she forced me, okay? Bukan gue yang mulai."


"Siapa tau dia suka beneran sama lo?"


"Gue enggak suka sama dia."


Iya juga, sih.


Kalista menopang dagu, sempat diam karena sate pesanan mereka datang. Tapi mendadak, Kalista jadi kepikiran tentang hal itu.

__ADS_1


Benar juga, yah. Kalista baru sadar kalau di umur ini ia bahkan belum pernah mencium seorang laki-laki. Padahal Kalista adalah anaknya Sukma Dewi—seorang wanita malam yang terkenal sangat cantik dan bayarannya mahal, sampai-sampai dia mati karena penyakit kelamin—tapi masa sampai sekarang Kalista perawan atas dan bawah?


Maksud Kalista, lalu kenapa orang-orang menyebutnya gundik?


Kalista juga anaknya Rahadyan. Seorang Rahadyan yang menghamili perempuan saat dia masih berusia lima belas tahun. Kenapa Kalista yang reputasinya paling buruk malah tidak pernah melakukan 'keburukan' itu?


"Gue kangen Kak Agas," gumam Kalista, mengingat pengawalnya yang berharga satu M dulu. "Harusnya first kiss gue tuh Kak Agas yah, biar memorable."


Saking sibuk melamun, Kalista tidak memperhatikan tatapan Sergio padanya.


"Tipe cowok lo sebenernya gimana, sih?"


Sergio dibuat bertanya-tanya. Bukannya tidak tahu, tapi ia heran. Kalista suka yang lebih tua? Sergio lebih tua dari Kalista. Kalista suka cowok tinggi kekar? Sergio tinggi dan kekar. Kalista suka cowok ganteng? Sergio jelas-jelas punya fans club yang menyembah ketampanannya.


Lantas kenapa dia tidak melihat ke sini dan berkata 'Sergio, ajarin gue ciuman' kalau memang dia mau? Kenapa harus Agas yang bahkan sudah menghilang entah ke mana?!


"Gak ada." Kalista menjawab cuek. "Gue suka yang gue suka. Kayak Kak Agas sama Kak Julio. Tapi Kak Julio menang, hehe."


Sergio benci pada dirinya yang masih saja menyukai perempuan ini.


*

__ADS_1


__ADS_2