My Handsome CEO : I Love You, Pak

My Handsome CEO : I Love You, Pak
Kalian Semua Saya Pecat


__ADS_3

"Hah?"


"Ada orang ngomongin gue. Gue mau ngadu."


Sergio tercengang. Bukankah biasanya perempuan modelan Kalista tidak suka mengadu kalau dia diajak bertengkar?


Tapi kemudian Sergio ingat bahwa Kalista adalah Kalista. Gadis itu pernah mengadu ke Oma dan Opa-nya mengenai kebohongan demi Rahadyan dimarahi.


"Siapa?" balas Sergio semangat.


"Enggak tau. Lo mau bantuin atau gue nungguin Kak Julio?"


Sergio lompat dari kursinya, buru-buru datang pada Kalista. Jelas Sergio full senyum. Itu kan berarti Kalista mengandalkannya.


"Tumben ngadu. Biasanya ngomong 'cuekin aja'."


Kalista tersenyum sombong. "Soalnya yang biasa kejauhan kalo gue ladenin. Tapi tadi ngomong deket gue."


"Enggak masalah gue bantuin? Entar dikatain nepotisme lagi."


"Emang gue enggak nepotisme?" balas Kalista tidak peduli. "Gue lagi nyelesaiin masalah gue sendiri pake cara gue."


Memang ada yang bilang kalau Kalista tidak boleh mengadu? Standar siapa yang berkata kalau mengadu itu berarti lemah? Kalau kalian kecopetan, kalian mengadu ke polisi, kan? Kalau yang Kalista lakukan sekarang adalah bukti kelemahan, maka semua orang yang mengadu ke polisi adalah manusia lemah.


"Guys, ngumpul dulu sebentar!" seru Sergio begitu mereka tiba di lantai Kalista melihat perempuan tadi turun.


Tentu saja jika adik dari Pak CEO memanggil, sekaligus anak dari Dewan Direksi bersuara, mustahil orang-orang menolaknya. Kebetulan, Sergio memang sedang mau melampiaskan amarahnya.


"Terserah gue mau ngomong apa, kan?" bisik Sergio memastikan.

__ADS_1


"Yap. Tapi kalo gue kesel, lo gue tempeleng."


"Siap, Mami." Sergio mengedipkan sebelah mata sebelum wajahnya mendadak dingin pada semua karyawan yang berkumpul.


"Oke," ucapnya membuka. "Kalian udah kenal ini siapa, kan? Namanya Kalista, anak magang main-main di sini."


Kalista melambaikan tangan seolah-olah diperkenalkan sebagai calon direktur baru.


"Saya denger ada yang keberatan karena Kalista dateng ke sini buat main-main? Tolong yang keberatan angkat tangan."


Tidak ada, jelas saja. Kecuali mereka mau cari masalah.


"Oke, enggak ada." Sergio melipat tangan. "Mau Kalista dateng ke sini buat main-main, mau jungkir balik, mau joget ngebor juga dia dikasih izin sama Pak Julio. Kecuali kalo Kalista gangguin kalian secara fisik, kayaknya enggak ada alasan buat kalian ngeliat dia ganggu di sini. Kalista, kamu ada gangguin orang di sini? Narik rambut orang mungkin karena kamu kesel?"


"Emang saya monyet?" balas Kalista sebal.


Hening.


"Saya enggak peduli soal omongan kalian di luar tapi sekali lagi saya denger kalian ngomongin Kalista di kantor, apalagi di depan Kalista, kalian semua saya pecat. Ngerti?"


"Ngerti, Pak."


"Minta maaf." Sergio mengedik. "Satu-satu."


Kalista menabok punggung Sergio karena menurutnya itu terlalu norak. Hal itu jelas membuat Sergio sebal, tapi dia patuh. Berbalik menarik Kalista pergi.


"Enggak jadi. Balik lagi kerja," ucap Sergio seenak udel.


Begitu mereka masuk lift, Kalista tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Komuk banget lo, anjir." Kalista menirukan ekspresi Sergio. "Kalian semua saya pecat😑. Idih, lo kira lo sapa?"


"Gue bisa, njir! Tinggal ngadu ke Mami!"


Mereka berdua kompak tergelak, kembali ke lantai mereka. Kali ini Sergio mengantar Kalista ke ruangan Julio walau itu melewati ruangannya sendiri.


"Gue kira lo bakal mendem sendiri terus," ucap Sergio saat membukakan pintu untuknya. "Tapi kalo dipikir lagi lo kan pernah guling-guling di karpet ngaduin bokap lo ke Oma sama Opa."


Kalista menjulurkan lidah dengan mata juling yang menggemaskan. "Itu namanya senjata wanita."


Manfaatkan semua yang ada.


"Gue enggak ngelarang mereka ngomong tapi jangan deket gue bisik-bisik. Langsung aja atau jauh-jauh, biar gue enggak denger."


"Emang lo tuh ajaib." Sergio mengacak-acak rambut Kalista. "Kalo gitu lagi, ngadu ke gue, hm? Lain kali gue tempeleng orangnya."


"Gak." Kalista menepuk tangan Sergio untuk menyingkir dari gagang pintu. "Nanti gue ngadunya ke Kak Julio. Kalo Kak Julio yang ngomong 'kalian semua saya pecat', gue bikin bangkrut sekalian kantor lo. Kasih pecat semua orang."


Sergio mengerutkan kening. "Emang lo sama bokap lo satu darah."


Tak mau peduli, Kalista mengusirnya.


"Terima kasih gue mana, monyet?!"


"Makasih, anjing. Muach, I don't love you."


Monyet, gerutu Sergio tapi senyam-senyum kembali ke ruangannya.


*

__ADS_1


__ADS_2