
Julio sepertinya memang tidak terlalu cocok jadi cupid karena ia tak punya gairah terhadap hubungan romantis sedalam itu. Kalimat Kalista tadi cukup memberinya isyarat bahwa dia tidak mau dipaksa-paksa melihat Sergio yang menyukainya bertahun-tahun.
"Well," Julio mengambil gelas di tangan Kalista untuk ikut meminumnya, "okay."
Ia menjadi gugup sebab Kalista mendekatinya cukup halus. Biasanya dia agresif dalam arti konyol, jadi Julio kurang terbiasa dengan hal lainnya.
"Oh, ini enak banget ternyata." Julio mengalihkan perhatian pada minuman. "Selera cokelat kamu beneran enak yah. Kopi kamu di kantor juga enak. Belajar di mana?"
Kalista tersenyum malu-malu. "Aku pernah kerja bikin minuman gitu. Waktu masih sama Mama."
"Hmm." Julio menunggu dia mundur karena kalau ia mundur duluan, Kalista nanti tersinggung.
Tapi kenapa dia tidak kunjung mundur?
"Berarti sebenernya kamu mandiri, yah?" Julio masih berusaha keras. "Maksud aku kayak, sebelum dijadiin princess sama Om Rahadyan, kamu ngelakuin semuanya sendiri, sama Mama kamu."
Kalista mengangguk, masih dalam jarak yang sama. "Aku enggak tau kenapa tapi Papa kayak ngira aku enggak bisa nuangin air ke gelas, bisa tiba-tiba keselek telur, padahal aku bisa angkat galon sendiri dari lantai satu ke lantai tiga kontrakan dulu. Emang Papa tuh lebay."
"Laki-laki emang gitu, Kalista. Termasuk ke anaknya, apalagi cewek."
Julio mengembalikan minuman ke tangan Kalista. "Banyak perempuan yang protes bilang mereka enggak suka dianggep lemah karena mereka enggak lemah. Tapi, somehow di pikiran kami, orang yang kami sayang itu lemah."
Julio menjelaskannya baik-baik.
__ADS_1
"Lemah bukan dalam arti mereka enggak berguna, tapi lemah dalam arti 'aku harus selalu bantuin kamu dalam setiap hal di hidup kamu karena aku sayang sama kamu'. Kayak gitu—"
"Aku juga."
"Apa?"
Kalista menatap matanya lekat. "Aku juga sayang sama Kakak."
Oke, itu malah terdengar sangat aneh. Maksud Julio barusan adalah menjelaskan apa yang ia pikirkan sebagai laki-laki jadi kenapa—
"Kak."
Seluruh tubuh Julio mendadak kaku saat tangan Kalista yang dingin, bekas memegang gelas cokelat, kini memegang kulit tangannya.
Lalu ....
"Kamu enggak pake maskara?" gumam Julio, untuk menutupi kenyataan ia melihat bibir Kalista.
Dan itu kurang baik ketika Kalista menjilati bibirnya sekilas sebelum dia menjawab, "Aku enggak pinter pake maskara."
Ini tidak baik. Sangat tidak baik. Julio harus mundur sekalipun Kalista tersinggung karena sepertinya otak Julio agak bermasalah.
Memang tidak mungkin ia tidak tertarik pada perempuan yang mendekatinya, terlebih dia cantik, namun ini masalah moral sebab perempuan itu adalah pacar 'sepihak' adiknya.
__ADS_1
"Kalista, kayaknya—"
Itu terjadi.
Kalista berjinjit mencium bibir Julio lebih dulu, memangkas semua jalan baginya mundur.
Sekalipun Julio masih berpikir bahwa itu salah, tangannya justru memegang pinggang Kalista, membungkukkan tubuhnya untuk lebih mudah menciumnya.
Dia manis. Dalam mulutnya terdapat dua bola-bola boba yang belum tertelan. Julio secara egois mengambil itu dan menelannya bersama dengan hal-hal yang bisa tertelan dari ciuman tersebut.
"Kalista!" teriak Rahadyan tiba-tiba.
Tangan Julio meninggalkan pinggang Kalista dan secara bersamaan mereka mundur. Julio terlalu gugup sampai ia merampas minuman Kalista, menenggaknya sampai habis sementara gadis itu menyahuti panggilan Rahadyan dari kejauhan.
"Iya, Papa. Aku di sini!"
Tidak seperti biasa dia mengomel-ngomel Rahadyan terlalu protektif dan mengganggu, Kalista berlari menuju Rahadyan, meninggalkan Julio sendirian di sana.
Seketika itu, ketenangan Julio lenyap.
"Shitt!!" Julio menendang tembok pembatas penuh emosi. "What am I doing?! Shitt! You're such a di-ck, Julio! Fvck!" [Sialan! Aku ngapain?! Sial! Dasar badjingan, Julio!]
Tapi meski mengumpati dirinya sendiri, Julio menatap gelas minuman cokelat Kalista di tangannya. Tahu dengan pasti bahwa ciuman itu mungkin tidak akan hilang dari pikirannya dalam waktu dekat.
__ADS_1
*