
"Permisi, Pak Bos." Kalista menyelonong masuk ke ruangan Sergio untuk meletakkan pesanannya di atas meja. "Neh, udah gue beliin."
Sergio mengerutkan kening. "Lo kenapa?"
"Apanya?"
Kalista ikut mengerutkan kening karena Sergio malah menatapnya seolah-olah Kalista itu alien. Tidak tahu bersyukur kali ini anak. Sudah dibawakan kopi bukannya bilang terima kasih malah bilang 'lo kenapa?'.
"Udah, kan? Gue sibuk main tiktok jadi gue keluar dulu."
"Kalista." Sergio beranjak dari kursinya, berputar untuk menghampiri Kalista.
Merasa kalau Sergio jadi aneh ya tentu saja Kalista ngeri. Ketika Sergio berdiri di depannya, Kalista memundurkan wajah, takut-takut Sergio kesurupan.
"Gue enggak tau kenapa yah," ucap Sergio, "tapi kayaknya lo kenapa-napa. Lo kenapa?"
"Situ gila, yah?" Kalista melotot.
"Serius?"
"HARUSNYA GUE YANG NANYA LO SERIUS GILA?!" Kalista mencak-mencak kesal. Orang dirinya tidak kenapa-napa juga tapi seakan Kalista habis tabrakan saja.
__ADS_1
Sebal melihat tingkah Sergio, Kalista berlalu keluar. Membanting pintunya sedikit biar dia tahu dia itu menjengkelkan.
Saat di luar, Kalista duduk di kursi kosong. Mengeluarkan ponselnya untuk melihat foto-foto Mama daripada bosan sendirian. Ia tidak punya kerjaan apa-apa jadi mau bagaimana lagi.
"Tuh kan lo kenapa-napa." Entah sejak kapan, Sergio berdiri di belakangnya. "Lo tuh ngeliat nyokap lo tiap lagi sedih, njir. Lo kenapa sih?!"
"Heh, kanebo basah!" Kalista melotot. "Gue ngeliat nyokap gue kalo gue kangen! Mentang-mentang nyokap lo masih idup juga!"
Sergio memicing. "Lo dengerin apa?"
Ekspresi Kalista langsung kaku.
"I knew it!" Sergio berseru. "Kalista, kalo lo lupa, gue tuh orang yang jadi saksi enggak bisu pas lo baru ketemu Om Rahadyan. Hafal suara lo pas lagi ada masalah mah kacang buat gue!"
"Siapa yang ngomong? Ngatain lo anak gundik lagi? Atau apa? Ngomong lo murahan?"
"Tau banget yah lo julukan gue apaan." Kalista mendengkus. "Intinya bukan urusan lo juga bukan urusan gue orang ngomong apaan. Lagian lo tuh kalo mau gangguin gue at least kasih gue kerjaan kek. Bukan bikin kopi apalagi ngelap meja!"
"Oke, gue kasih lo kerjaan tapi kasih tau gue dulu yang lo dengerin."
Kepo banget sih nih orang. Tapi karena Kalista memang mau dikasih pekerjaan, akhirnya ia menceritakan soal obrolan yang tadi ia dengar.
__ADS_1
Seperti kata Sergio, dia mengenal Kalista cukup dalam karena mereka dulu pernah tinggal bersama di awal-awal Kalista baru datang ke keluarga papanya.
Sebagaimana Kalista pernah dikucilkan di sekolah gara-gara ia punya pengawal tampan dan dikata merebut tunangan Astrid, Kalista memberitahu bahwa orang-orang kantor mengatainya tidak berguna di sini.
Mereka menganggap Kalista datang cuma buat main-main, tidak mengerjakan pekerjaan berguna bagi kantor dan cuma lenggak-lenggok dengan semua barang mahalnya.
"Semuanya salah lo!" tuding Kalista ketus. "Udah dibilang kasih gue kerjaan. Gue ke sini beneran mau magang—ya lima puluh persen ngeliat Kak Julio."
"Mending lo berenti." Sergio mengetatkan rahangnya. "Kalista, lo enggak perlu masuk kantor buat godain kakak gue, oke? Lo main ke rumah gue hari Minggu, lo ketemu Julio. Clear kan?"
Kalista yang baru saja ingin beranjak ke ruang kerja langsung berhenti. Gadis itu menatap Sergio dan tak lagi memaksakan dirinya terlihat tidak peduli.
Kali ini, Kalista menarik napas panjang. Menghembuskannya kasar saat ia tahu Sergio sangat peduli padanya.
"Gue enggak tau mau ngapain," ucap Kalista dengan suara yang nyaris hilang. "Kalo lo kenal gue, lo tau kenapa gue enggak kuliah, kan?"
Karena Kalista takut. Kalista takut masuk ke lingkungan sekolah sekali lagi di mana dirinya akan mengalami pengucilan itu lagi. Kalista merasa sesak napas tiap kali ia berpikir satu sekolah enggan berteman dengannya sampai-sampai saat di SMA, teman Kalista cuma Bu Direktur.
Kalista pasti bisa berpura-pura tidak peduli. Ia selalu bisa. Tapi itu tidak membuat rasa takutnya hilang. Jadi setidaknya melakukan hal ini lebih berguna.
"Ngejar Kak Julio mungkin buang-buang waktu," gumam Kalista menepuk bahu Sergio. "Tapi seenggaknya gue ngelakuin sesuatu daripada ngurung diri."
__ADS_1
*