My Handsome CEO : I Love You, Pak

My Handsome CEO : I Love You, Pak
Akhirnya Kembali


__ADS_3

Sementara Kalista berbaikan dengan Rahadyan dan kembali ceria, Sergio terpaksa harus menghadapi Astrid di salah satu kamar hotel yang tersedia untuk mereka.


"We had talked about this, okay? Gue udah bilang gue mau putus. Gue mau Kalista bukan lo, Astrid."


"Aha." Astrid membalas tak peduli. "Dia sebagus itu?"


"Lebih bagus dari lo, jelas."


"Maksud aku soal ini." Astrid duduk di pangkuan Sergio, memilin kancing kemejanya tanpa melepaskan tatapan dari mata Sergio. "Sebagus itu sampe kamu enggak mau lepas?"


"Gue enggak bahas soal itu." Sergio memundurkan wajahnya. "Denger, Astrid. Lo tuh enggak bego, enggak budeg juga. Lo ngerti kalo orang ngomong enggak mau ya berarti dia enggak mau. Ngerti? Gue enggak mau sama—"


"Dia juga enggak mau sama kamu."


Rahang Sergio mengeras. "Jangan ikut campur. Urusan lo sama gue itu cuma soal putus. Gue mau putus dan gue capek ngasih tau lo gue mau putus."


Bukannya membalas perkataan Sergio, Astrid justru mendekatkan wajah mereka.


Argh, Sergio benci ini. Sergio benar-benar benci saat Astrid mengandalkan sesuatu semacam ini untuk menghentikan Sergio minta putus darinya.


"Stop."


Astrid justru membawa tangannya ke bawah, memaksa Sergio mengerang oleh sentuhannya.


"Kamu harusnya enggak mutusin perempuan," bisik Astrid, "yang bikin kamu kecanduan."


Belum sempat Sergio mengatakan sangkalan, Astrid sudah lebih dulu menciumnya, memaksa Sergio untuk berhenti membicarakan perasaan.

__ADS_1


*


"Kak Julio."


Julio tidak bisa tidak tersenyum lebar pada sapaan manis Kalista.


Akhirnya dia kembali juga. Julio bahkan sudah merinding membayangkan sepanjang waktu ia punya teman seruangan di kantor yang ekspresinya muram. Hah, itu menakutkan.


"Gimana? Om Rahadyan udah ngemis-ngemis?"


"Hehe, Papa tuh emang suka nyebelin." Kalista cengengesan saat tangannya memberi segelas minum. "Buat Kak Julio. Maaf yah tadi aku nyebelin. Soalnya tadi tuh Papa—"


"Ssshhh, doesn't matter anymore." Julio menerima gelas minuman itu sekalipun ia tak sedang haus. "Daripada itu, gimana kalo sekarang kamu gabung ke sana?"


Tangan Julio sekilas menunjuk ke arah di mana perempuan seusia Kalista berkumpul.


Kalista kini kembali menatap Julio penuh pemujaan. "Doesn't metter juga, Kak. Ngeliat Kakak lebih penting."


Julio tertawa geli. "Kamu juga butuh temen, Kalista. Sana gaul sama mereka."


"Kak Julio enggak mau yah aku di sini?" Kalista mendadak murung. "Kalo gitu aku liatin Kakak dari jauh aja."


Sebelum dia beranjak pergi, Julio menarik kerah belakang gaun Kalista untuk menghentikannya. Gadis itu terkejut, membuat Julio lagi-lagi tertawa kecil.


"Sori sori. Sini aja kalo gitu."


Dia tidak mau bergaul, yah? Julio mendengarnya dari Sergio memang, bahwa Kalista itu tidak berani mencari teman. Tapi Julio pikir itu tidak sampai dia tidak mau bergaul sama sekali.

__ADS_1


"Kamu tunggu sini bentar. Aku ambilin sesuatu di sana. Spesial buat kamu, dari Sergio."


Anak itu belum terlihat juga jadi mungkin urusan dia dan Astrid berlangsung lama. Yah, Astrid lawan yang tangguh jadi mau bagaimana lagi.


Julio beranjak mengambilkan hadiah spesial untuk Kalista, tapi mendadak tangannya ditarik oleh Mami.


"Kamu ngapain gaul sama anaknya Rahadyan?!" tanya Mami penuh penekanan namun suaranya tertahan. "Ketawa-ketawa enggak jelas pula kamu sama dia! Cari cewek lain, Julio!"


"What?" Julio tercengang. "Aku ngeladenin Kalista karena Sergio, Mi, bukan buat godain."


"Kamu kira Mami bego? Mami jelas-jelas denger dia dateng ke kantor kamu buat kamu! Pokoknya sini kamu! Jangan gaul sama perempuan kayak gitu."


"Mami, please." Julio menarik tangannya tegas. "Cuma karena mamanya Kalista dulu pela-cur that doesn't mean dia juga sama."


"Oh, jadi sekarang kamu ngelawan Mami juga buat anak gundik?!"


"Mami mau Om Rahadyan denger omongan Mami?" Julio membalas telak. "Kenapa enggak sekalian ngomong depan Om Rahadyan? Usir aja sekalian. Bilang kalo Om Rahadyan mau dateng, dia enggak boleh bawa anak gundiknya."


"Julio!"


"Oke, that's enough." Julio menghindar saat Mami mau menyentuhnya. "Itu hak Mami ngatain orang di belakang tapi itu hak aku mau temenan sama siapa. You do you, I do me."


"Kamu—"


"Do I clear myself right know? Good then. Have a goodnight, Mam. I love you."


*

__ADS_1


__ADS_2