My Handsome CEO : I Love You, Pak

My Handsome CEO : I Love You, Pak
Anak yang Lucu


__ADS_3

Julio mengerutkan bibirnya karena pertanyaan Kalista itu. Pikirnya dia sudah tahu karena itu juga bukan sebuah rahasia, namun ternyata Sergio tidak banyak bicara mengenai dirinya sendiri pada Kalista.


"Enggak sih," jawab Julio setelah memikirkannya. "Enggak kayak gitu. Bukan perjodohan harus karena sesuatu."


Kalista bergumam paham sambil terus memijat bahu Julio. "Terus maksudnya gimana, Kak? Kok maksa banget Sergio nikah? Padahal kan Sergio enggak mau."


"Kenapa? Cinta kamu terhalang tunangan Sergio, yah?"


"Sembarangan!" Kalista spontan memukul bahu Julio, membuat Julio terkejut.


Tentu saja, Kalista lebih terkejut pada dirinya sendiri.


"Maaf, Pak. Maaf. Spontan. Saya ngiranya ngobrol sama Sergio." Kalista buru-buru menjauh. Bahkan membungkuk, takutnya dikira bertindak kasar pada atasan.


Dirinya sudah cukup payah kemarin, jadi tidak boleh lebih payah lagi.


Tapi berbeda dari dugaan Kalista, Julio malah tertawa. Pria itu menutup wajahnya, menggeleng-geleng tak sanggup.


Demi apa pun, anak ini sangat lucu. Entahlah. Dia tidak melucu tapi segala kelakuannya membuat Julio terhibur. Dia tidak profesional dan tidak bersinar dalam hal yang serius, namun dia benar-benar menghibur hingga rasanya seluruh hal menjengkelkan di kenapa Julio hilang.

__ADS_1


"Pijitin saya lagi, buruan." Julio memerintah setelah ia puas tertawa.


Kalista menyengir. Kembali ke belakang untuk memijit kakandanya pelan-pelan. Haduh, rahim Kalista bergetar lagi merasakan liat otot bahunya.


"Itu awalnya omongan iseng Mami sama mamanya Astrid." Julio menjelaskan. "Mereka temen deket. Sahabatan intinya dari lama. So entah kenapa tiba-tiba ngomongin nikahan Sergio sama Astrid yang emang anak tunggal."


"Jadi maksudnya orang tua Kak Julio enggak enak batalin omongan soal Astrid sama Sergio, makanya dipaksain?"


"Simpelnya begitu. Tapi memang ada pertimbangan keuntungan juga. Udah biasa juga kan anak perempuan dari keluarga yang punya A dijodohin sama anak laki-laki yang punya B supaya nanti mereka punya C. Ngerti?"


"Iya, Kak." Kalista senyam-senyum girang karena Julio menjelaskannya sangat lembut.


"Enggak, Kak." Kalista menggeleng pasti. "Aku emang mau bantuin Sergio. Perjodohan itu sahnya kalo dua calon mau. Kalo paksa itu namanya pelanggaran hak asasi manusia."


Tuh kan, dia lucu. Lagi-lagi Julio tertawa dan lagi-lagi Kalista menikmati tawanya.


*


Sesuai kata Julio, pada jam pulang kantor Sergio datang memberitahu tentang undangan itu. Kalista pura-pura belum tahu, lalu mengangguk menerimanya.

__ADS_1


"Lo serius enggak pa-pa? Mami gue orangnya enggak pinter baca sikon."


"Kenapa? Nyokap lo mau ngomong gue anak gundik juga?" Kalista membalas santai. Berjalan menuju parkiran di mana mobilnya berada. "Denger yah, Sergio, Oma aja ngomong Mama itu pela-cur jadi udah basi, oke? Ciao."


Sergio mendengkus. Menarik pintu mobil Kalista padahal yang mau masuk adalah gadis itu.


"Apa?" tanya Kalista bingung.


"Masuk," suruh Sergio ketus. "Bokap lo beli lamborghini kayak beli nasi kuning aja lo enggak kaget. Masa gue bukain pintu lo kaget?"


Iya juga, sih.


Kalista masuk ke mobilnya dan Sergio bantu menutup pintu. Mobil itu melaju pergi meninggalkan parkiran tapi Sergio masih berdiri di sana.


Pada acara nanti Sergio akan menunjukkan pada Kalista bahwa ia bukan sahabat. Bukan sebatas itu.


Lihat saja. Dia akan berhenti bertingkah biasa seolah-olah itu tidak aneh Sergio bersikap baik.


*

__ADS_1


__ADS_2