
"Ehem." Julio berdehem, menarik atensi sekumpulan lelaki berwajah artis nan estetik yang Kalista yakin semuanya punya followers puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu.
"Happy birthday buat adek lo, Brand," kata Julio mengawali sekaligus menyerahkan kotak hadiah kecil darinya. "Sorry gue telat."
"It's okay. By the way thank you." Si Brand mengantongi hadiahnya dan langsung menatap Kalista. "And who is this little girl?"
"Hai, Kak." Kalista tersenyum cerah. "Aku Kalista, temennya Kak Julio."
Julio tertawa mendengar perkenalkan Kalista. Dia kembali mengacak rambutnya. "Ini sepupu gue. Kepengen liat pesta jadi gue ajak."
"Kak Julio, ih!"
"Emang iya, kan?"
"Udah kelas berapa, Kalista?" tanya mereka menatapnya seolah Kalista anak kecil.
Tentu saja Kalista menggembungkan pipi. "Aku udah enggak sekolah. Udah kerja."
"Serius?! Tadi gue pikir baru lulus SMP, loh."
"Aku enggak sependek itu, yah! Please deh!"
Julio ikut tergelak. "Bukan masalah pendek. Muka kamunya emang kayak anak SMP."
Kalista makin cemberut yang membuat dirinya malah makin diledek. Mereka berbasa-basi panjang dan banyak bertanya soal dirinya, sebelum kemudian Julio mengajaknya buat pergi mengambil kue sisa potongan ulang tahun yang mereka leeatkan.
__ADS_1
"Emang aku tuh sebocah itu yah, Kak?" omel Kalista sambil tangannya sibuk menyendok kue ulang tahun. "Perasaan aku tuh termasuk yang paling tinggi di sekolah dulu. Terus, aku juga enggak punya muka babyface banget. Kok malah ngira aku anak SMP?"
Julio cuma menahan tawanya dan melihat Kalista menggembungkan pipi terus-menerus.
Ya, itulah alasan dia dikira anak SMP sebab meski dia tinggi dan tidak babyface, aura di sekitarnya kelihatan jelas masih bocah. Perempuan dewasa jelas tidak menggembungkan pipi di keramaian pesta.
Mungkin itulah alasan kenapa Rahadyan overprotektif pada anaknya.
"Yaudah, kalo kamu bukan bocah, kamu mau aku ambilin susu cokelat?"
"Ih, Kak Julio mah!" Kalista merengek. Tapi kemudian senyum. "Boleh, susu cokelat."
Julio menggeleng-gelengkan tak habis pikir. Beranjak pergi mengambilkan Kalista susu cokelat yang katanya sisa untuk tamu anak-anak tadi.
Saat Kalista sendirian, seseorang tiba-tiba mendekatinya, secara sengaja menumpahkan minuman ke pakaian gadis itu.
"Ups." Perempuan itu tersenyum. "Enggak sengaja, sori."
Wajah Kalista mendadak pucat. Dari semua tempat, kenapa ia malah bertemu Astrid di sini? Buat apa dia datang ke acara ulang tahun adik temannya Julio?!
"Lo ngapain di sini?" tanya Kalista pelan, tak memedulikan sejenak masalah bajunya.
"Ngapain?" Astrid mengangkat bahu. "Ya karena ini ulang tahun sepupu gue."
"Apa?!"
__ADS_1
"Relax. Jangan ngeliat gue kayak gue sengaja ngintilin lo cuma buat numpahin minuman. Gue bukan psikopat yang jadi anak magang buat godain bosnya."
Kalista seketika melotot. "Lo jelas sengaja numpahin minuman ke gue barusan."
"Udah gue bilang, enggak sengaja," balas Astrid tanpa menyembunyikan kesan bahwa dia sangat sengaja. "Lagian, harusnya lo maafin gue dong? Anggep aja gue bales dendam dikit karena somehow, mendadak Sergio nyonggung batalin pertunangan kita LAGI dan ternyata pas banget sama waktu lo magang di kantor Julio."
Kalista menggeram tapi berusaha keras untuk tidak mengacaukan acara orang. Huft, sabar. Nanti Julio bisa ilfil kalau Kalista mengamuk.
"Urusan Sergio mau putus tuh karena dia gedek sama cewek macem lo," desis Kalista jengkel. "Mending lo sadar diri deh lo maksa-maksa cowok buat nikan sama lo."
Astrid memiringkan wajah. "Says who, huh? Cewek yang kegatelan sama Julio sampe-sampe enggak sadar kalo dia bikin risih."
"Lo tuh—"
"Bakat nyokap tuh emang nurun ke anak, yah? Kebiasaan, terutama." Astrid menyambar gelas di sampingnya, menyiram Kalista dari atas kepalanya.
Tentu saja Kalista melongo kagok.
"Gue tau nyokap lo gundik yang mati karena penyakit kela-min saking seringnya gonta-ganti cowok, tapi denger yah, Murahan, mending lo jauh-jauh dari cowok orang kalo lo enggak mau ngulang masa lalu. Atau lo emang punya cita-cita nerusin hidup nyokap lo??"
Julio yang baru saja kembali terkejut melihat kondisi Kalista. Pria itu langsung mendekat, menyambar lengan Astrid.
"What the hell are you doing?"
Astrid menarik lengannya santai. "Cuma ngasih tau cewek kegatelan biar enggak ngerebut tunangan orang."
__ADS_1
*