
Sampai esok harinya, bahkan sebelum mata Kalista terbuka sempurna, gadis itu sudah tersenyum-senyum. Sungguh, lama Kalista berpikir bahwa seharusnya ia mencium Agas dulu agar setidaknya ia bisa bilang ciuman pertamanya dengan pria tampan, gagah dan bermasa depan cerah bahkan jika statusnya cuma pengawal.
Hah, pengawal mana di negara ini yang punya harga melebihi mobil kelas menengah? Jelas cuma pengawal Narendra dan salah satunya Agas.
Tapi sekarang Kalista bersyukur tidak menciumnya.
"Well, lebih bagus kalo dua-duanya sih." Kalista tertawa gila pada pantulan dirinya di cermin kamar mandi, tak peduli jika ia serakah akan dua pria.
Who cares? Bukankah Kalista dijuluki pela-cur karena ia anak gundik? Mau dua pria bahkan lebih, siapa yang menghalanginya?
"Satu orang," gumam Kalista hanya dua puluh menit setelah itu.
Kalau ada yang bakal terus menghalangi jalan kebebasan Kalista, maka itu cuma satu orang.
"Papa, please. Siapa jaman sekarang ke kantor pake celana jeans jelek kayak gitu?" protesnya pada Rahadyan.
Entah apa yang merasuki dia tapi saat Kalista selesai mandi, Rahadyan menerobos masuk ke kamarnya cuma buat menyuruh Kalista pakai celana jeans dan kemeja kuno ke kantor.
Rahadyan melipat tangan, tersenyum manis pada anaknya. "Kamu," jawabnya atas pertanyaan Kalista barusan. "Pokoknya Papa enggak mau tau. Kamu mesti pake baju yang Papa suruh atau Papa suruh Julio mecat kamu."
"Tapi—"
"End of discussion, Baby. Kamu boleh lapor polisi kalo mau. Kebetulan tadi Papa telfonan mesra sama Pak Komandan, haha."
"I hate you!" teriak Kalista tapi pada akhirnya patuh karena sekarang ia lebih suka mati daripada tidak ke kantor menemui jodoh masa depannya.
__ADS_1
Kalista berdecak kesal melihat tampilan dirinya di cermin. Cantik sih, jelas. Bagaimana tidak jika ia anaknya Sukma Dewi, sang Dewi Gundik? Tapi serius ini nampak seperti Kalista saat masih bersama Mama, pergi memgelap meja di kafe demi dapat uang jajan.
Ugh!
"Puas?!" Kalista melotot marah pada Rahadyan. "Enggak sekalian nyuruh aku dasteran ke kantor?!"
Rahadyan mengerutkan bibir. Meraih sesuatu di dalam kotak yang seketika membuat Kalista mengumpat.
"Kamu mau yang biru atau kuning?"
"Papa, nepotisme juga ada batasnya!"
"Kamu orang terakhir di bumi yang berhak nuntut batas nepotisme, Sayang, jadi tenang aja." Rahadyan melempar kembali daster norak itu ke kotak, tapi beralih menyerahkan sandal jepit. "Nih, pake."
"Ini enggak bikin kamu miskin, Sayang. Kamu tetep geber lambo ke kantor. Tapi ini bikin cowok-cowok ilfeel sama kamu."
"Tapi kata Papa—"
"Boleh suka sama Julio." Rahadyan berlutut, melepaskan paksa sepatu mahal Kalista untuk diganti jadi sandal jepit dua puluh lima ribu. "Nah, karena kamu sukanya sama Julio, berarti cowok lain enggak usah ngelirik kamu."
"Nanti Kak Julio malah geli sama aku!" raung Kalista frustrasi.
Tapi Rahadyan bodo amat, mencium seluruh wajahnya puas. "Cantik banget babynya Papa. Sana, sana."
Kalista bersumpah akan membuat Rahadyan menyesal kali ini. Lihat saja!
__ADS_1
Sambil misuh-misuh Kalista pergi.
Tentu saja ia jadi pusat perhatian di kantor lagi, untuk alasan yang sepenuhnya berbeda.
Mendadak semua orang menatap Kalista seolah-olah mereka bertanya 'bokap lo mendadak bangkrut?'. Dan tentu saja, Sergio menertawakannya.
"Cieee, yang jatuh miskin mendadak." Suara Sergio bergema ke mana-mana hingga orang-orang ikut tertawa. "Tas Gucci-nya ke mana, sih? Dicolong anjing, yah?"
"Elo anjing!" Kalista menendangnya tapi Sergio gesit mengelak. "Pokoknya awas aja Papa! Gue aduin sama Bu Direktur!"
Sergio masih sibuk ketawa. "HAHAHAHA!"
"Sergio!"
"LUCU BANGET, SUMPAH! KOCAK, KOCAK, KOCAK! KALISTA JATUH MISKIN!"
Kalau heels harga dua ratus jutanya di kaki Kalista sekarang, ujung lancipnya bakal ia tancapkan ke mata Sergio. Memang dasar anjing.
Tapi tak sempat Kalista mencari alternatif lain buat dipakai memukul Sergio, suara lift berdenting membuatnya berpaling. Muka Kalista mendadak panas saat Julio keluar dari kotak itu, terpaku melihat Kalista.
Oke, ini akan bagus kalau Kalista pakai gaun mahal tapi ini sama sekali tidak bagus sebab Kalista pakai blouse butut, jeans bekas, dan sandal jepit dua puluh lima ribu!
"Good morning," sapa Julio dengan mata tak bisa lepas dari penampilan Kalista.
*
__ADS_1