
Kalista menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Sergio dengan mudah. Faktanya, itu bahkan terlalu mudah sampai Kalista bahkan tidak berusaha. Tapi Kalista tidak protes karena lagi-lagi ia harus jaga image.
Julio tidak boleh melihatnya sebagai perempuan merepotkan yang selalu merengek.
Ketika jam pulang kantor akhirnya tiba, Kalista berkemas untuk segera pulang namun ponselnya mendadak bergetar.
Itu telepon dari Bu Direktur.
"Halo, Bu." Kalista menjawabnya semangat. "Aku kangen Ibu, hehe."
"Hai, Cantik. Ibu enggak ganggu kerjaan kamu, kan?" balas Bu Direktur ramah.
"Sama sekali enggak. Tapi barusan banget aku mau pulang."
"Ohya? Kebetulan kalo gitu. Kamu bisa enggak ketemu Ibu sekarang? Ibu mau ngomongin sesuatu."
Mau banget! Hampir saja Kalista berteriak begitu karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan sang guru favorit. Sudah lama memang mereka tidak bertemu.
Tapi tiba-tiba Kalista ingat tentang lamaran Rahadyan. Atau lebih tepatnya ucapan Rahadyan mengenai 'pendaftaran' Kalista di kampus tempat Bu Direktur akan menjadi Wakil Rektor.
Jika ada satu hal yang mau dibahas Bu Direktur Sibuk ini, itu pasti soal 'itu'.
__ADS_1
"Ah, aku udah janji sama Sergio, Bu."
Sergio yang tidak menerima janji apa-apa seketika menoleh. Wajahnya mengatakan 'lo jual gue ke siapa lagi?'.
"Ohya? Kalo mau sekalian aja sama Sergio, Nak. Kita makan santai aja jadi enggak masalah juga ada siapa."
Kalista kelabakan. Pokoknya ia tak mau bertemu Bu Direktur kalau yang mau dibicarakan adalah soal kuliah, karena pasti nanti Kalista bakal terbujuk. Kalau Bu Direktur yang bilang, Kalista pasti bakal luluh bahkan kalau hatinya tidak mau.
Untuk menyelamatkan diri, Kalista menyerahkan ponselnya pada Sergio dan memaksa dia menjawabnya.
Sergio jelas melotot. Tapi karena sejak awal dia tahu Kalista tidak waras, Sergio tidak bisa menurut dia mendadak jadi waras.
"Hai, Bu. Ini Sergio." Pemuda itu mau tak mau ikut bersandiwara. "Maaf banget ya, Bu, tapi saya mau ngajak Kalista ngobrolin soal 'hubungan masa depan'. Kalo bisa lain kali aja yah, Bu? Jangan marah yah, Bu."
Sergio lupa kalau Bu Direktur itu sahabatnya Kalista. Jelas beliau paham kenapa Kalista yang terobsesi padanya mendadak memprioritaskan Sergio.
"Oke, enggak sekarang. Kamu bujukin pelan-pelan," tambah wanita itu, memaklumi.
"Oke, Bu. Makasih."
Kalista yang tidak mendengarnya hanya menatap Sergio penuh harap. Dan Sergio memenuhi harapan itu dengan berbohong.
__ADS_1
"Bu Direktur enggak maksa." Sergio mengembalikan ponsel itu. "Tapi karena lo udah bohong, mending sekarang lo beneran ikut gue."
Kalista membuat ekspresi enggan, tapi Sergio sudah menarik tangannya buat pergi. Orang itu bahkan merogoh ke dalam tas Kalista buat mencari kunci mobilnya tanpa izin.
Kalau dia tidak membantu Kalista barusan, kayaknya enak menelepon polisi dan menuduhnya sebagai penjahat.
"Lo tau tips biar lo enggak diomongin di kantor?" kata Sergio sembari membuka pintu dan mendorong Kalista masuk. "First of all, jangan bawa lamborghini kalo lo masih magang."
Kalista menggembungkan pipi. Mendelik pada Sergio yang duduk di kursi kemudi sampingnya.
"Lo mau bawa gue ke mana sih? Gue tuh enggak mood kalo enggak ada Kak Julio-nya."
"Dugem," jawab Sergio singkat.
Tapi berhasil membuat Kalista membulatkan mata. "Serius?!"
Kayaknya di kota ini cuma Kalista satu-satunya cewek murahan yang tidak pernah ikut dugem. Semua orang selalu menyebutnya begitu. Perempuan malam, anak gundik berhubung Kalista memang anak wanita malam, cewek yang kerjanya nangkring di bar menggoda pria, tapi sebenarnya Kalista selalu dilarang ke klub.
Padahal Kalista kepo tempat seperti apa sih klub malam yang katanya tempat gundik itu.
"Lo mau dugem? Yakin?" tanya Sergio yang seketika membuat Kalista semangat.
__ADS_1
"Yes!"
*