
Sesuai dugaan, presentasi Kalista gagal total.
Gadis itu menunduk malu pada dirinya sendiri karena tidak berhasil melakukan yang terbaik padahal seharian suntuk berusaha. Sedangkan Julio justru menahan senyum pada ekspresi Kalista sekarang.
Tentu saja dia tidak berhasil. Kalista tidak pernah bekerja sebelumnya dan dia hanya lulusan SMA—walau itu SMA terbaik di negara ini. Hal-hal yang Julio mintakan padanya mustahil sebab Kalista tidak tahu seluk-beluk dari isi file itu, juga dia tampaknya tidak terlalu percaya diri bicara di depan orang dalam situasi formal.
Lucu, kalau kata Julio sekarang. Ia pikir Kalista itu percaya diri karena dia sampai datang ke sini buat mengejar Julio, tapi sepertinya dia justru tidak punya kepercayaan diri selain pada hal kecil.
"Maaf, Pak." Kalista meminta maaf sungguh-sungguh. "Publik speaking saya selalu eror kalo kayak gini. Terus juga—"
Julio mengangkat tangan, mengisyaratkan dia berhenti. Sejak awal Julio melakukan ini supaya Kalista mengundurkan diri, jadi memang bagus kalau dia sekarang berpikir dia salah tempat.
"Enggak pa-pa." Julio membuat ekspresi kecewa tapi juga terkesan pasrah karena Kalista karyawan nepotisme tingkat akut. "Duduk lagi."
Reaksi Julio itu jelas membikin Kalista ketar-ketir. Dengan sedikit gemetaran Kalista duduk, tapi kemudian sibuk mengintip ekspresi Julio.
Dia pasti menganggap Kalista sangat bodoh sekarang. Dia pasti sedang berpikir bahwa Kalista membuang-buang waktunya dan Kalista sangat merepotkan. Dia pasti berpikir bahwa Kalista itu menyebalkan dan mengganggu dan seharusnya tidak ada di sini.
Dia pasti membenci Kalista sekarang.
__ADS_1
Sepanjang hari, Kalista memikirkan hal itu. Apalagi waktu jam pulang kantor tiba, Julio sedikitpun tidak menoleh tapi sibuk mengurus sesuatu di layar super lebar dekat mejanya.
Kalista beranjak sambil diam-diam pamit, tak mau mengganggu. Tapi sebelum mencapai ke pintu, Julio menghentikannya.
"Kalista."
"Iya, Pak?" Kalista menjawab sangat cepat.
Tapi Julio menoleh dan menatapnya tanpa suara. Cukup lama Kalista gugup sampai ia mengerti maksudnya apa.
"Iya, Kak?" ulangnya, untuk mengubah panggilan.
"Kopi."
Tapi karena dia ganteng, Kalista maafkan. Buru-buru ia kembali buat meletakkan tasnya, pergi ke sudut di mana mesin kopi bahkan rak camilam diletakkan. Kalista juga menyiapkan kue dari lemari es kecil, membawanya ke meja Julio.
"Silakan, Pak—eh, maksudnya Kak."
"Kamu kenapa manggil aku Pak terus? Aku setua itu?"
__ADS_1
Soalnya lebih seksi saja. Kalista mau menjawab begitu tapi ingat kesalahannya. Kalau Kalista ganjen, bisa-bisa Julio mengatainya cuma tahu senyam-senyum tapi kerja enggak becus.
"Maaf, Pak. Eh, Kak." Kalista menyengir paksa. "Otak saya emang suka eror. Maaf."
Kalista tidak tahu bahwa Julio sedang menahan tawa.
Jika Kalista sungguhan karyawan, Julio pasti akan membencinya karena kinerja yang bodoh. Sebagai bos profesional, tentu saja Julio cuma suka pada karyawan berguna. Namun karena dia bukan karyawan sungguhan tapi lebih kepada adiknya, Julio terhibur dengan banyak kesalahan Kalista.
Julio melirik jam tangannya untuk memastikan sekarang memang waktunya karyawan pulang. Tapi Julio putuskan menahan Kalista biar dia tak berpapasan dengan siapa pun.
"Bikin kopi lagi."
"Kurang, Pak? Eh, Kak. Hehe, kok susah juga yah ngubah. Maaf, Kak."
Julio berdehem untuk meredam gatal mulutnya mau tertawa. "Buat kamu. Sana bikin."
"Siap ..., Kak."
Kalista terburu-buru pergi hingga ketukan sepatunya bergema. Saat dia sibuk membuat kopi untuk dirinya sendiri, Julio menatapnya. Bingung dengan pikiran tentang Kalista.
__ADS_1
Gadis ini, apa dia sungguhan berpikir kalau dia magang maka Julio akan jatuh cinta balik padanya?
*