
Kalista selalu mengerti bahwa Rahadyan itu sayang padanya makanya dia sangat posesif. Bahkan kadang-kadang Kalista malah senang, walau ia selalu menunjukkan protes.
Tapi malam ini, entah kenapa Kalista sedih. Rahadyan selalu menolak dan itu membuat Kalista memikirkan bagaimana kalau nanti? Bagaimana kalau Kalista sungguhan akan menikah tapi Rahadyan tetap keras kepala menolak? Bagaimana kalau selamanya dia akan menolak sampai dia tidak bisa lagi di samping Kalista, meninggalkan Kalista sendirian seperti Mama?
Semua pemikiran itu menciptakan hening.
Kalista sibuk menata perasaannya sambil memandangi pemandangan di luar jendela. Sedangkan di kursi kemudi, Rahadyan berulang kali melirik, resah karena anaknya tampak sangat murung.
Di antara hening itu, ponsel Kalista berdering. Panggilan dari Sergio.
"Lo udah di mana?"
"Jalan," jawab Kalista singkat.
"Lo kenapa?" Sergio langsung panik mendengar suara serak Kalista. "Lo habis nangis? Kenapa?"
"Enggak, biasa aja."
"Kalista—"
"Udah yah. Bentar lagi nyampe." Kalista mematikan panggilan, sedang tak mood bicara dengan siapa-siapa. Semua energi Kalista yang tadi pagi sudah ia buang jauh-jauh ke jendela.
*
"What—ugh!" Sergio menjauhkan ponsel dari telinganya, sebal sekaligus khawatir karena si Monyet Ceria itu mendadak murung.
Pokoknya kalau si Ceriwis mendadak diam dan murung, maka itu pertanda dunia sedang tidak baik-baik saja.
Julio yang berada di dekat Sergio berdiri tentunya menyadari perubahan ekspresi adiknya. Pria itu mendekat, menepuk bahu Sergio agar berpaling.
"Kenapa?"
"Kalista." Sergio kini sibuk mengetik teks yang nampaknya dikirim pada gadis pujaannya. "Berantem pasti sama Om Rahadyan. Emang tuh Om psikopat. Suka bener ngurung-ngurung anak. Pantesan enggak laku!"
Julio tertawa mendengar dendam terselubung Sergio pada sepupu mami itu. Ketika Sergio sibuk mendumel karena Kalista malah mengabaikan chatnya, Julio pun mengeluarkan ponsel.
Dikirim teks untuk pacar adiknya itu, memastikan kalau dia tidak habis perang dengan Rahadyan gara-gara mau datang ke sini.
Julio :
Kamu berantem sama Om Rahadyan?
__ADS_1
Julio akhirnya percaya ada sesuatu yang tidak beres sebab Kalista ... cuma membaca chat-nya.
Oke, dunia sepertinya memang tidak baik-baik saja. Bagi Julio yang sudah ribuan kali, jutaan kali bahkan mendengar Kalista berkata 'Kakak ganteng banget, sumpah' di depan wajahnya langsung, diabaikan oleh Kalista rasanya lebih mustahil daripada berita besok kiamat.
Apalagi Julio tahu bahwa Rahadyan itu tidak waras. Jangan-jangan dia memasang seratus penjaga di depan pintu apartemennya biar Kalista tidak lewat, lalu Kalista loncat dari jendela karena tetap mau pergi?
Itu masuk akal. Sangat masuk akal kalau membicarakan Rahadyan.
Julio :
Jangan diread doang.
Mau saya marahin besok?
Kalista langsung membalas.
Kalista :
Ngga
Kak
Singkat bener.
Julio :
Kalo ngelarang banget jangan dateng.
Dengerin Papamu.
Kalista :
Papa sama aku.
Julio tak memaksa dia membalas lagi karena setidaknya sudah tahu.
"Kalista katanya dateng sama Om Rahadyan," kata Julio, memberitahu adiknya yang uring-uringan.
"Kok lo tau?!"
Julio tersenyum congkak. "Ada beda antara temen sama bos."
__ADS_1
"Cuih!" Sergio mendumel sebal. Tapi kemudian dia masih menatap ponselnya yang tidak mendapat respons dari Kalista. "But she sounds like she's crying."
"Orangnya lagi ke sini, Gio. Entar juga kamu mastiin. Enggak usah overreacting banget gitu loh."
"Orang jomblo diem!"
Julio menabok kepala adiknya. "Friendzone diem. Tuh, tunangan kamu jalan ke sini."
Ekspresi Sergio yang sudah buruk menjadi semakin buruk. Dia mengerang jengkel, akhirnya berhenti melihat ponsel karena Astrid semakin dekat.
"Kamu enggak bales chat aku," ucap Astrid seketika begitu dia berhenti berjalan.
"HP gue ketinggalan."
Julio dan Astrid sama-sama melihat ke tangan Sergio di mana HP biru jelas-jelas ada di genggamannya.
"Ini HP kerjaan," sangkal Sergio yang tidak mau berpikir lebih kreatif.
"Whatever." Astrid mendengkus tak peduli. "Aku mau ngomong sesuatu."
"Gue sibuk jadi nanti."
"Mami kamu bilang kamu ngajak aku ngobrol berdua."
Sergio menahan gemasnya tapi tak berkutik. Pada akhirnya dia beranjak, patuh pada Astrid karena dia takut melawan Mami. Ya, Mami terlalu cerewet untuk telinga anak laki-lakinya yang ogah mendengar ceramah.
Tapi sebelum Astrid ikut beranjak, dia menatap Julio dulu.
"Kak Julio, hai."
Julio mengangguk. "Hai."
"Aku cuma mau nanya soal yang terakhir—Kak Julio deket sama anak gundiknya Om Rahadyan?"
Julio menatap Astrid tanpa ekspresinya. "Kamu tau, Kalista emang anak gundik, tapi dengan kamu ngomong gitu ke aku, nunjukin mulut kamu kurang pendidikan."
"Ohya? Jadi demi menghargai sesama manusia kita harus mulai manggil pencuri dengan sebutan Manusia Yang Hidup Kekurangan dan Akhirnya Terpaksa Menempuh Cara Kurang Baik Untuk Bertahan Hidup."
Gadis menakutkan. Julio tidak heran kalau Sergio setres menghadapi perempuan ini.
"You know what?" Julio mengambil dua gelas minuman dan satunya diberikan pada Astrid. "Cheers."
__ADS_1
Kemudian Julio berlalu pergi.
*