My Handsome CEO : I Love You, Pak

My Handsome CEO : I Love You, Pak
I'll Do It For You


__ADS_3

Kalista sudah menduga kalau Papa pasti belum tidur karena menunggunya. Terlihat jelas gelas kopi di tangan pria itu saat Kalista masuk sambil menenteng bingkisan ulang tahun.


"Baby, kamu kok lama banget? Julio mana? Papa mau nanya sama dia kalian ngapain aja!"


"Udah tau Papa bakal ngomong gitu jadi aku suruh Kak Julio pulang."


Kalista menjatuhkan diri di sofa dan Rahadyan langsung menyusulnya.


Pria itu memeluk Kalista seolah-olah Kalista habis pergi di benua lain, baru pulang setelah berbulan-bulan. Rahadyan memang selalu lebay, jadi Kalista tidak heran.


"Rambut kamu kenapa basah gini, Sayang?" Rahadyan membelai kepalanya.


"Kena krim tadi jadi aku cuci," dusta Kalista, enggan membuat Rahadyan histeris kalau dia tahu Kalista disiram air oleh tunangannya Sergio.


Yang tahu Kalista sering dibully oleh Astrid hanyalah Sergio dan Bu Direktur. Kalista memaksa Bu Direktur berjanji agar tidak memberitahu Rahadyan karena urusannya pasti akan sangat panjang dan membosankan.


"Papa."


"Hm?" Rahadyan kini sibuk menepuk-nepuk tisu ke rambut Kalista agar airnya terserap.


"Masa lalu tuh bukan sesuatu yang bisa diubah, kan?"


"Maksud kamu?" Rahadyan jelas heran.


"Yah, kayak Mama tuh gundik ya enggak bisa diubah sama sekali. Aku juga selalu mikir kalo orang ngatain Mama murahan ya yaudah, soalnya emang Mama murahan. Aku enggak butuh orang lain sayang sama Mama buat aku sayang sama Mama. Mama ya Mama buat aku, biarpun Mama ya gundik buat orang lain."

__ADS_1


Rahadyan memegang wajah Kalista dan mengerjap cemas. Dia bisa langsung peka anaknya dikatai anak gundik lagi.


"Kamu dengerin apa? Siapa yang ngomongin kamu anak gundik lagi? Bilang sama Papa."


"There's nothing you can do about it, Pa." Kalista seharusnya tidak emosional dan menjawab biasa saja, tapi entah kenapa ia malah sedikit berteriak.


"Ngapain sih ngurusin orang ngomong aku anak gundik atau apa? Ya aku emang anak gundik terus mau gimana? Papa emang mau bangunin Mama terus nyuruh Mama jadi CEO Apple gitu biar orang-orang manggilnya aku anak CEO Apple?"


Rahadyan menggeleng. "Ada yang ngomong enggak bener sama kamu. Papa ke rumah Julio sekarang. Kalo dia yang ngomong, enggak idup dia besok."


Ketika Rahadyan beranjak dengan kemarahan di wajahnya, Kalista justru marah pada hal itu.


"MAMA KAN EMANG GUNDIK!"


"Itu JADI alasan orang lain berhak ngatain aku anak gundik, Papa!" teriak Kalista muak. "Can you just stop doing this? Berusaha lari dari kenyataan kalo aku emang begini?"


"What?!"


"Kalo satu dunia tau aku anak siapa, satu dunia bakal nyebut aku anak gundik! Karena itu emang faktanya! Terus Papa mau bunuhin semua orang cuma karena mereka ngomongin fakta?!"


"YAH I'LL DO IT FOR YOU!" Rahadyan justru berteriak lebih keras. "Kalo satu dunia yang ngomong kamu anak gundik, SATU DUNIA Papa bunuh! Kamu kira Papa peduli?!"


"Masalahnya itu kenyataan!"


"I DON'T FUCKING CARE ABOUT THAT BULLSHIIT, KALISTA!"

__ADS_1


Rahadyan mendatangi anaknya, meremas kedua lengan dia kuat berharap dia sadar. Dia selalu melakukan ini. Selalu dan selalu saja merasa wajar kalau orang lain menghinanya.


"I'll do it for you. I'll do anything for you! I'll kill them for you! Anything, anything, ANYTHING just for you because you're the most important thing that I've ever had in this fuc-king world!"


Kalista hanya mematung menatap mata Rahadyan yang berlinang air mata.


Gadis itu menunduk, tak tahu kenapa ia tapi bisa menghentikan air matanya.


"Aku enggak bilang aku enggak sedih," bisiknya. "Tapi maksud aku, ngapain harus peduli—"


"Papa peduli karena omongan mereka bikin kamu nangis!"


Rahadyan bernapas seolah-olah dia bisa sekarat. Tangannya merengkuh wajah Kalista, meringis kesakitan seolah jantungnya sekarang berdarah.


"Kamu bikin Papa sekarat tiap kali Papa liat kamu nangis, Nak. Papa ngelakuin semuanya buat kamu, biar kamu senyum, biar kamu enggak pernah sedih tapi seenaknya orang luar, orang yang bukan siapa-siapa, ngomong ke kamu ini itu dan bikin kamu nangis?"


Rahadyan meletakkan keningnya di kening Kalista. Bernapas susah payah akibat luka bernanah di hatinya.


"Kenapa sih harus mamamu terus? Kenapa bukan Papa? Kenapa harus selalu Mamamu yang diliat orang lain padahal Papa yang beliin kamu baju, sepatu, tas, sampe mobil. Semuanya Papa tapi kenapa enggak ada yang bilang kamu anak Papa? Kenapa harus selalu Mamamu?"


"Maaf." Kalista memgalurkan tangan ke leher Rahadyan, memeluknya erat. "Aku anak Papa. Selamanya anak Papa."


Namun Kalista juga selamanya anak Mama jadi mungkin julukan Anak Gundik itu pun selamanya akan ada.


*

__ADS_1


__ADS_2