My Handsome CEO : I Love You, Pak

My Handsome CEO : I Love You, Pak
Langkahin Dulu Mayat Saya


__ADS_3

Julio adalah tipe kakak yang perhatian dan sebenarnya sangat peduli pada adiknya, jadi sekalipun itu merepotkan, Julio bersedia untuk meluangkan waktu agar hubungan cinta adiknya sedikit berkembang.


Juga, Julio sudah muak jadi tempat curhat Sergio bertahun-tahun tentang Kalista tidak suka balik padanya. Maka dari itu Julio menyuruh Sergio fokus pada training-nya, sementara Julio mengajak Kalista makan berdua.


Tentu saja, Kalista langsung berbinar-binar.


"Kak Julio—maksud aku—eh, maksud saya, Pak Julio serius mau makan siang berdua sama saya?" tanya gadis itu seolah itu kemustahilan.


Padahal kan Julio pernah mengajak dia makan siang bersama Sergio juga.


"Serius." Julio tersenyum. "Enggak usah manggil Pak. Enggak ada yang bangkrut juga kalo satu anak magang manggil bosnya Kak."


Kalista makin meleleh akan pesona Julio. Kayaknya apa pun yang keluar dari mulut Julio itu akan membuat Kalista tergila-gila. Dia terlihat bisa menghabiskan sebakul nasi tanpa lauk pauk asal ada Julio.


Fokus Kalista sepenuhnya tertuju pada Julio. Bahkan saat mereka tiba di restoran untuk memesan menu makan siang, Kalista cuma asal tunjuk makanan agar bisa kembali melihat wajah Julio lekat-lekat.


"Aku seganteng itu buat kamu?" Julio tidak bisa pura-pura tidak sadar Kalista memandanginya karena jelas-jelas mata gadis itu lurus tertuju padanya. "Kamu enggak bosen gitu ngeliat muka aku?"


Kalista dengan mata dimabuk asmara menggelengkan kepalanya pasti. "Enggak, Kak." Gadis itu malah menautkan tangan dan seperti menyembah. "Kakak tuh ganteng banget. Udah level maksimal."


"Oke, thank you." Saking seringnya dengar, Julio hanya bisa menertawakan itu. "Kalo gitu kamu mau enggak temenin aku ke pesta temen aku? Nanti malem, kebetulan."

__ADS_1


Kalista mau menganga saking terkejutnya tapi ia sadar kalau melakukan itu pasti dirinya bakal terlihat sangat jelek, maka Kalista berusaha terkejut dengan cara yang cantik.


"S-serius, Kak? Kak Julio ngajak aku? Serius?"


"Serius dong, ngapain bercanda? Kamu enggak mau?"


"Mau! Mau banget, mau!"


Julio tersenyum manis. Di pesta nanti teman-teman Julio yang masuk jajaran super ganteng seharusnya hadir, jadi mari lihat bagaimana reaksi anak gadis ini.


*


"Sergio, gue udah beliin lo kopi jadi gue cabut sekarang, bye!"


Dan itu tidak boleh terjadi!


"DADDY, I'M HOME!" teriak Kalista sebelum masuk ke kamar, mengunci pintu, sibuk berdandan.


Rahadyan cengo melihat kelakuan aneh anaknya lagi, untuk kesekian kali. Kayaknya salah satu kegiatan rutin Kalista setiap hari adalah berperilaku tidak masuk akal.


Sampai-sampai Rahadyan sering khawatir apakah anaknya butuh pendamping kejiwaan karena sepertinya karakter dia begitu complicated.

__ADS_1


"Baby, kamu kenapa rusuh-rusuh? Sini keluar cerita sama Papa."


Kalista sibuk menjerit-jerit di dalam.


Pasrah terhadap ketidakwarasan anaknya, Rahadyan putuskan menunggu saja di depan televisi. Pria itu terfokus pada berita meskipun berulang kali mengintip pintu kamar Kalista sebelum tiba-tiba bel berbunyi.


Rahadyan bangkit, membuka pintu ... untuk menemukan Julio berdiri di aana.


"Halo, Om. It's been a while."


Rahadyan mencium hal busuk. "Kamu ngapain?" tanyanya curiga.


"Jemput Kalista?"


"GAK!" Rahadyan langsung melotot. "Siapa kata anak saya mau ikut kamu?! Gak bisa! Langkahin dulu mayat saya!"


Julio yang sudah diberi peringatan oleh Sergio bahwa Rahadyan itu gila sejak punya anak tetap saja terkejut. Padahal seharusnya tidak terkejut, karena semua orang tidak pernah lupa Rahadyan menyewa pengawal satu M cuma buat mengikuti anaknya di rumah seharian.


"Kak Julio udah dateng?" Suara Kalista mengalihkan perhatian mereka.


Tapi bahkan sebelum Julio bisa menyapa, Rahadyan lebih dulu menyambar. "Kamu ngapain dandan cantik-cantik begitu?! Papa enggak ijinin kamu ke pergi!"

__ADS_1


Kayaknya izin pergi ini bakal memakan waktu.


*


__ADS_2