My Handsome CEO : I Love You, Pak

My Handsome CEO : I Love You, Pak
Maunya Julio, Bukan Sergio


__ADS_3

Kalista benci keramaian. Itu sering membuat jantungnya berdebar-debar kencang dan tangannya dingin. Dalam dunia medis, katanya itu disebut gangguan panik atau sejenisnya. Kalista tidak memberitahu siapa-siapa mengenai hal ini, bahkan pada Bu Direktur.


Kali ini bukan karena Kalista menganggapnya biasa atau apa pun, namun Kalista merasa itu kelemahan besar. Saat ia berada dalam keramaian, terutama keramaian di mana orang-orang tahu bahwa ia anak gundik, Kalista merasa takut akan serangan tiba-tiba.


Itu mengingatkannya pada sekolah. Rasanya seperti semua orang melihat Kalista, tertawa mengenai dirinya dan menganggap ia seharusnya tidak pernah hidup di dunia ini.


"Kalista, here we go." Julio datang dengan semangat, membawa segelas cokelat dingin spesial esktra susu full kream.


Tapi Julio langsung berhenti, melihat Kalista berkeringat parah.


"Sweety." Julio lembut memanggilnya, memegang tangan Kalista yang gemetar. "You're shaking and your hands .... Are you okay?"


"Ya. Perfect." Kalista tersenyum. Baiklah, sekarang sudah ada pengalihan.


Kalau ada Julio atau Sergio atau Papa atau Bu Direktur, Kalista merasa baik-baik saja. Ia percaya pada mereka.


"Not that perfect." Julio menoleh pada Rahadyan yang telah fokus pada obrolan bapak-bapak. "Come. Kita pergi bentar."


Kalista dengan senang hati ikut. Tangannya memegang tangan Julio, pelan-pelan merasa debaran jantungnya melambat tenang.


Itu bukan masalah besar. Asal Kalista tidak sendirian, ia baik-baik saja.


Julio membawanya diam-diam meninggalkan pesta, tapi bukan pergi sangat jauh. Dia cuma menepi ke sisi lain yang jauh, di mana suara keributan dari banyak orang agak redam terdengar. Mereka juga ditutupi oleh tanaman hingga bagian itu sedikit gelap namun nyaman bagi Kalista.


Apalagi berduaan dengan Julio.

__ADS_1


"Hehe, makasih, Kak." Kalista cengangas-cengenges menerima cokelat dari Julio. "Kak Julio baik banget, jadi pengen macarin."


Julio sulit untuk tidak tertawa. "Itu Sergio yang nyiapin. Katanya kamu sukanya cokelat. Itu ada bobanya juga. Cobain."


Walau nama Sergio disebut, Kalista fokusnya pada wajah Julio. Menyedot cokelat dingin plus boba di gelasnya, kemudian senyum-senyum.


"Enak, Kak. Makasih yah."


"Sergi—udahlah." Julio menyerah menekan nama adiknya karena Kalista benar-benar cuma melihat wajah Julio. "Bagus kamu suka."


"Iya, Kak. Dari Kakak apa sih yang enggak."


"Ohya? Tadi aku kasih kue cokelat, mukamu kayak ngeliat kodok."


Kalista langsung tersedak. "I-itu salahnya Papa!"


"Sergio banyak cerita soal kamu ke aku." Julio menumpukan tangannya pada tembok prmbatas, menatap hamparan suasana kota dari ketinggian mereka. "Tapi dia enggak pernah cerita kamu punya social anxiety."


"Itu bukan social anxiety, Kak. Cuma ...."


"Ahm?"


Kalista mengembuskan napas pasrah. "You got me."


Jawaban Kalista membuat Julio spontan mengangkat alis, tersenyum geli. "Okay, I got you?"

__ADS_1


"Tapi enggak separah itu kok, Kak. Kayak di party kemarin kan? Aku biasa aja. Cuma ...."


Cuma kalau dilingkungan yang Kalista tahu mereka tahu Kalista, itu menjadi sedikit menakutkan. Sebab di lingkungan asing, Kalista hanya terlihat seperti ... anak manja dari seorang bos besar tapi di mata mereka yang tahu ... Kalista adalah anak hina.


"Now I really got you." Julio mengulurkan tangan, mencubit pipi Kalista pelan. "Kamu bikin orang-orang jadi pengen jagain kamu."


Kalista terpaku mendengar kalimat itu.


Dirinya tak buta. Sedikitpun juga tak tuli. Di mata Julio, Kalista hanyalah adik kecil dari seorang paman merepotkan yang mau tidak mau dia pedulikan, tapi memang sedikit menggemaskan dan dia suka itu.


Meski begitu, jantung Kalista masih berdebar untuk hal berbeda.


Ia benar-benar menyukai Julio. Persetan apakah ia menyukainya cuma karena dia terlalu tampan atau hal lain, tapi Kalista sungguh-sungguh menyukainya.


"Anyway aku kayaknya perlu nyariin Gio—"


"Kak Julio." Kalista menahan lengan pria itu sebelum dia pergi, mengakhiri momen ini. "Aku ...."


"Hm?" Julio mengangkat alis.


"Aku mau Kakak di sini." Kalista melangkah mendekat. "Bukan Gio tapi Kak Julio."


Kalista mengerti kalau Sergio menyukainya. Kalista bukan orang bodoh. Namun ... hanya karena Sergio menyukainya, tidak berarti Kalista harus menyukai dia balik, kan?


"Kalo Kak Julio mau pergi, yaudah." Kalista melepaskan tangan Julio saat berdiri di hadapannya tepat. "Enggak usah manggil Sergio."

__ADS_1


*


__ADS_2