
"Papa."
Rahadyan langsung memicing curiga pada cengiran lebar Kalista yang sangat mencurigakan.
"Kamu kenapa?"
Pipi Kalista bersemu dan bibirnya tak mau berhenti tersenyum. "Enggak," sangkalnya, memeluk erat lengan Rahadyan lalu bergoyang ke kanan dan kiri hingga cacing di tanah pun tahu dia sedang bahagia. "Papa nyari aku? Kenapa?"
Rahadyan benar-benar curiga, tapi dia juga tak mau mengacaukan senyum putrinya walau Rahadyan jengkel kalau senyum itu karena cowok lain.
Kalau sampai ketahuan itu untuk cowok lain, Rahadyan bakal bunuh dia sejuta kali. Tentu saja, cowok itu, bukan Kalista.
"Oma." Rahadyan merangkul bahu anaknya. "Udah lama enggak ketemu Oma, kan? Sana, nyariin kamu sama Cassie."
"Oke."
Melihat Kalista sangat patuh berjalan riang, Rahadyan entah kenapa merasakan kebenciannya meluap pada Sergio dan Julio.
Ini tidak bisa dibiarkan. Rahadyan sangat curiga pada bekicot bersaudara itu.
*
Ketika Rahadyan mengajak Kalista pulang karena merasa sudah cukup bersosialisasi, barulah Sergio muncul, celingak-celinguk mencari Kalista.
"Brother." Sergio menepuk bahu Julio yang melamun di kursi bar. "Where is she?"
"Hah?" Julio eror sesaat. "I don't know what—wait, I mean she left."
Julio berdehem beberapa kali, menyambar seloki alkohol untuk membasahi tenggorokannya. Baru setelah itu dia bisa tenang mengulang jawaban. "Kalista udah pulang."
"What?" Sergio berdecak kesal. "Fvck!"
__ADS_1
Julio memicing. Meskipun sudah agak mabuk, tapi Julio masih cukup sadar. "Kamu sendiri dari mana lama banget?"
"Hah? Enggak. Enggak ada."
Tatapan Julio tertuju pada noda merah di sudut rahang Sergio. Tangannya terulur, menyeka noda merah lipstik yang langsung berpindah ke tangannya itu.
"Oke, enggak ada," balasnya kooperatif, pura-pura saja percaya.
Sergio yang tertangkap basah buru-buru mengelap seluruh wajahnya, memastikan tidak ada jejak apa pun. "Jangan salah paham. Itu cuma ...."
"Cuma?"
Sergio terlihat kesulitan mencari kata dan justru menyambar gelas alkohol yang baru diisi oleh barista untuk Julio. "Forget it."
Tentu saja jawaban bodoh itu tidak bisa menipu Julio, apalagi setelah menangkap jejak lipstik Astrid di rahang Sergio. Dari dulu ia tahu bahwa sekalipun Sergio benci pada Astrid, dia tidak bersikap munafik.
Justru karena Sergio benci padanya, Sergio melampiaskan banyak hal pada Astrid dan menjadikanya sebagai objek. Biasanya Julio bertanya karena ia suka mendengar cerita Sergio mengenai tunangannya yang sulit ditangani itu. Apalagi soal cerita rinci 'sedominan' apa Astrid di tubuhnya.
Tapi Julio sedang berusaha keras mengalihkan pikiran. Makin lama ia semakin menyesal. Perasaan Sergio pada Kalista itu tulus, ia tahu. Jadi sekalipun Kalista menolak, setidaknya adab yang baik adalah Julio tidak mengusik gadis itu.
"Kak."
"Hm?"
"Habis nyium siapa?"
Julio tersentak sampai jantungnya serasa mau lompat. Spontan pria itu menoleh. "No, I did not kiss anyone. No one, absolutely no one." [Aku enggak nyium siapa-siapa. Enggak ada sama sekali.]
Sergio tertawa. "Ngapa jadi kayak anak SMP ketahuan nonton bo-kep?"
"Oke, intinya enggak. Enggak ada."
__ADS_1
"Ohya? Terus ngapa jilatin bibir terus? Lipgloss kamu kemanisan?"
Sebagaimana Julio kenal Sergio, tentu saja Sergio juga mengenal Julio.
Untuk alasan itu, Julio buru-buru beranjak, menyambar jasnya yang sempat ia buka. "Bilang sama Mami aku ada kerjaan mendadak."
"Oke. Nanti aku bilang kerjaannya di kasur sama entah-siapa."
"Zip it!" [Berisik!]
Ini tidak baik. Julio harus segera mengenyahkan itu dari kepalanya atau ia membuat drama konyol sebagai saingan cinta adiknya.
Itu bahkan tidak lucu!
*
"Papa." Kalista mendorong pintu kamar Rahadyan terbuka, menemukan pria itu sedang duduk di kasur bersama laptop terbuka.
"Baby," balas Rahadyan memanggilnya. "What do you need?"
"Mau tidur bareng." Kalista naik ke kasur, mengisi tempat kosong di sebelah Rahadyan. "Boleh kan?"
Rahadyan memicing curiga, lagi.
"Kamu ...." Oke baiklah, itu akan merusak suasana padahal anaknya mau tidur bareng. Walaupun Rahadyan sangat curiga karena dia senyam-senyum terus, mari bahas itu nanti.
"Enggak. Enggak jadi." Rahadyan membawa lengannya, menerima Kalista berbaring di sana. "Papa selesaiin ini dulu baru nonton kartun, oke?"
"Hmm."
Kalista tak berhenti senyam-senyum menyaksikan Rahadyan bekerja.
__ADS_1
Tentu saja, satu-satunya alasan kenapa Kalista mendadak mau tidur di kasur Rahadyan adalah agar ia bisa tidur atau sepanjang malam guling-guling memikirkan ciuman tadi.
*