My Husband Perfect

My Husband Perfect
BAB 10


__ADS_3

Di dalam kamar Tasya menangis, ia sangat sedih dengan perlakuan Enzo tadi, yang milih membuang ramuan di hadapannya langsung.


Awalnya Tasya mau berusaha mendekati Enzo, meski tahu Enzo pasti akan menolaknya, tapi setelah tahu di tolak beneran rasa perhatiannya oleh Enzo, ternyata lebih menyakitkan.


"Apa aku tidak pantas untuk dicintai," gumamnya dengan nada sedih, sekarang Tasya menenggelamkan wajahnya di bantal, karena menangis sampai membuat bantal itu basah.


Cukup lama Tasya menangis, setelah merasa lebih baik, Tasya bangun dari tempat tidur, kemudian berjalan menuju meja rias, di sana Tasya membuka laci, dan mengambil sebuah buku harian juga pena.


Tasya menghela nafas panjang, sebelum ahirnya menulis di buku harian miliknya.


Ingatan demi ingatan tergambar di pikiran Tasya, ia menuliskan kehidupannya dari masih kecil di tinggal ibunya meninggal, kemudian tinggal di asrama setelah ayahnya menikah lagi, dan sekarang menikah memiliki suami yang tidak mencintainya.


Tanpa terasa Tasya ada bulir bening yang keluar dari sudut matanya jatuh melewati kulit mulus wajahnya.


Tasya meletakkan penanya, kini mengusap wajahnya dengan kasar.


Aku harus sabar, bukankah aku sudah terbiasa di perlakukan seperti ini, batin Tasya.


Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, Tasya menoleh ke arah pintu, ternyata Enzo yang datang.


Tasya respek langsung berdiri berjalan mendekati Enzo, berniat mau membantu mendorong kursi roda yang diduduki Enzo.


"Aku bisa sendiri tidak usah bantu!" ucap Enzo ketus.


"Aku akan tetap membantumu," kekeh Tasya, dan tanpa ijin Enzo, ia langsung membantu mendorong kursi roda itu.


"Aku mau mandi, ambilkan aku handuk." Enzo berkata setelah mereka di dekat ranjang.


"Baik," jawab Tasya patuh. Kemudian berjalan meninggalkan Enzo dan mengambil handuk.


Sementara itu Enzo sampai terkesiap melihat sikap Tasya yang masih baik padanya, ia pikir tadinya Tasya akan marah-marah padanya, ternyata wanita itu masih mau membantunya.

__ADS_1


Meski hatinya sedikit salut melihat sikap Tasya yang masih baik, tapi Enzo tidak mau memperlihatkan kekaguman itu.


Begitu melihat Tasya sudah kembali sembari membawa handuk yang di pegang di tangannya, Enzo berpura-pura sibuk ke arah lain.


"Ini handuknya," ucap Tasya setelah berdiri di depan Enzo.


Enzo mengambil handuk di tangan Tasya, kemudian mengarahkan kursi roda untuk masuk ke dalam kamar mandi, tapi merasakan tangan Tasya ikut mendorong kursi rodanya, Enzo mendesah kasar.


"Sudah aku katakan tidak usah bantu aku! Aku bisa sendiri!" bentaknya sembari menoleh ke belakang lengkap dengan tatapan tajam.


"Tapi, Kak Enzo lagi sakit, bagaimana bisa Kak Enzo mandi sendiri, akan Tasya bantu," kekehnya tanpa mau pedulikan penolakan Enzo.


Tentu Tasya pikir Enzo akan kesulitan bila mandi sendiri tanpa ada yang bantu, tanpa berpikir bahwa selama ini Enzo memang mandi sendiri, karena setahu Tasya Enzo sakit, padahal Enzo hanya pura-pura lumpuh.


Enzo langsung membuang nafas berat mendengar ucapan Tasya yang keras kepala masih mau membantunya.


Enzo tersenyum menyeringai, ia tidak menolak lagi saat Tasya mendorong kursi rodanya berjalan masuk ke dalam kamar mandi, entah apa rencana di dalam pikiran Enzo.


Setelah berada di dalam kamar mandi, Tasya berjalan berpindah berdiri di depan Enzo, Tasya mau membantu melepas kemeja Enzo, kini sedang melepas satu persatu kancing kemeja Enzo.


"Celananya tidak kamu lepas sekalian?" Enzo Menaik turunkan alisnya.


Tasya refleks terpaku mendengar ucapan Enzo barusan.


"Bagaimana aku akan mandi? Kalau celananya tidak dilepas, aku tidak biasa menggunakan kain basahan!" Enzo kesal.


"Akan saya lepaskan, Kak," ucap Tasya ahirnya. Tangannya kini sudah gemetar.


Enzo terkejut melihat keberanian Tasya, tadinya ia pikir Tasya tidak berani melepaskan celananya, tapi ternyata pikirannya salah, bahkan sekarang ia sudah polosan siap mandi.


Tanpa Tasya sadari bahwa saat ini Enzo telah menatap tajam padanya.

__ADS_1


Tasya sudah mau membantu Enzo untuk berpindah masuk ke dalam bathtub, namun urung saat mendengar suara berat Enzo.


"Keluar!"


Tasya menggelengkan kepalanya, tangannya sudah memegang lengan Enzo siap membantu pria itu berdiri.


"Keluar!" bentak Enzo dua kali, kini kilatan amarah di mata Enzo makin kentara, tapi tidak membuat Tasya mundur.


"Saya adalah istrimu, Kak. Ini sudah kewajiban saya untuk membantu, Kak Enzo mandi."


Bukan tidak mengerti perintah Enzo yang memintanya keluar, tapi Tasya merasa ini adalah kewajibannya.


Dengan rasa dongkol dalam hatinya karena Tasya tidak mau nurut, Enzo membiarkan Tasya membantunya berdiri, dan sekarang Enzo harus pura-pura lumpuh, seorang pria yang tidak berdaya.


Tasya dengan sekuat tenaganya membantu Enzo untuk berdiri, namun mungkin karena tubuh Enzo yang berat juga lebih tinggi dari Tasya, membuat Tasya kesulitan.


"Pelan-pelan, kak-,"


Belum sempat Tasya melanjutkan ucapannya kini sudah terdengar suara benda jatuh dengan keras.


Brukk!


"Tasya ...."


"Ah! Maaf kak.


Enzo saat ini benar-benar merasakan pantatnya sakit karena ulah Tasya kini ia jatuh ke lantai.


Enzo memegangi punggungnya yang juga terasa sakit karena terbentur dinding bathtub.


"Sudah aku katakan tidak usah bantu aku mandi! Dasar istri tidak berguna!"

__ADS_1


Tes.


Air mata Tasya jatuh.


__ADS_2