
"Sudah gak usah drama!" bentak Enzo saat melihat Tasya meneteskan air mata. "Sudah aku katakan tidak usah bantu aku mandi, aku biasa sendiri!" Enzo berusaha untuk bangkit tapi sulit, karena di depan Tasya Enzo harus berakting lumpuh.
Hah gadis ini membuang-buang waktuku saja, coba kalau dari awal ia nurut semua tidak akan jadi seperti ini, badanku juga tidak akan jadi terasa sakit begini, batin Enzo sembari mendengus dingin.
Tasya menatap dengan matanya yang polos. "Maaf, Kak. Niat aku cuma mau bantu Kak Enzo mandi, tidak tahu jika bakalan akan terjadi seperti ini." Tasya penuh penyesalan. "Maaf, kak."
Enzo menghela nafas berat. "Sudah-sudah! Sekarang kamu keluar! Aku tidak akan bisa mandi kalau kamu masih berada di sini!" sentaknya dengan sinis.
"Tapi, Kak-,"
"Keluar!" sarkas cepat Enzo dengan kasar.
Tasya hanya mampu tersenyum getir mendapat berulang kali kata kasar dari Enzo, tapi ia juga menyadari bahwa ia salah, ahirnya dengan berat hati, Tasya keluar dari dalam kamar mandi meninggalkan Enzo sendiri.
Meski hati dan pikirannya sedang bertanya-tanya? Bagaimana caranya suaminya itu akan mandi dan akan berdiri berpindah duduk di kursi roda, jika seorang diri di sana?
Tapi Tasya sudah tidak punya keberanian lagi untuk masuk ke dalam kamar mandi, kini ia milih menyiapkan baju ganti untuk suaminya, dan menunggu di pinggiran ranjang.
Setelah menunggu tiga puluh menit, pintu kamar mandi juga tidak kunjung dibuka, Tasya bangkit dari duduknya berjalan mendekati pintu kamar mandi.
Di sana Tasya mendekatkan telinganya dengan pintu kamar mandi, bukan tanpa alasan ia melakukan hal tersebut, karena saat ini hatinya mulai cemas, karena suaminya tak kunjung keluar padahal sudah tiga puluh menit, khawatir terjadi apa-apa di dalam sana, mengingat Enzo hanya seorang diri dalam keadaaan tidak bisa berjalan.
__ADS_1
Tok.
"Kak Enzo-," Tasya langsung membungkam mulutnya tatkala seseorang yang ia tunggu kini menyembul dari balik pintu kamar mandi, dengan posisi duduk di kursi roda.
"Ngapain!" Enzo mendengus tak suka.
Tasya memaksa senyum. "Menunggu, Kak Enzo. mandinya lama banget, aku jadi khawatir," jawab Tasya jujur.
Enzo menghela nafas berat. "Kamu pikir mandinya orang sakit itu sama dengan mandinya orang sehat, hah!"
"Menyingkirlah!" sentak Enzo, karena Tasya menghalangi jalannya, Tasya langsung bergeser memberi jalan untuk Enzo menjalankan kursi rodanya.
Enzo membawa kursi roda yang diduduki menuju ruang ganti, sampai di sana ia melihat baju yang sudah disiapkan oleh Tasya untuknya.
Setelah rapi, Enzo kembali duduk di kursi roda dan membawanya keluar dari ruang ganti, di luar sana matanya langsung bertemu dengan mata Tasya, saat ini gadis itu tengah tersenyum manis.
"Gak usah senyum-senyum!" ucapnya ketus dengan mata menatap sebal.
"Iya, Kak." Tasya mengangguk, tapi di bibirnya masih terbit senyum kecil, Tasya terus melihat Enzo yang menjalankan kursi rodanya menuju pintu keluar kamar.
Tanpa sepatah kata pun Enzo meninggalkan Tasya, gadis itu hanya tersenyum sembari menghela nafas panjang, sekarang makin terasa terbiasa diabaikan Enzo.
__ADS_1
Tasya mengganti bajunya yang basah tadi, setelah memakai baju yang kering, malam ini ia segera beranjak tidur.
*
*
*
Tasya yang sudah berbaring di atas ranjang, ia kembali menyalakan lampu kamar, yang tadi sudah sempat ia padamkan.
Bersamaan lampu kamar menyala terang, Tasya melihat jam bundar di dinding, yang saat ini sedang menunjukkan pukul satu dini hari.
Tasya menghela nafas berat sembari duduk dan bersandar di sandaran ranjang, Tasya melipat kedua tangannya, sembari memikirkan yang dirasakannya.
Meski berniat mau segera tudur di waktu yang awal, ternyata meski matanya sudah berusaha ia pejamkan tapi pikirannya terus berkelana, membuatnya tidak bisa tidur.
Tidak hanya Enzo yang Tasya sedang pikirkan, tapi juga ayahnya.
Ayah yang setelah ia menikah dengan Enzo, belum ada kabar sama sekali, bahkan sekedar ucapan selamat atas pernikahannya dengan Enzo, juga tidak ada.
Mengingat betapa tidak pedulinya ayahnya itu, Tasya sangat bersedih, merasa dirinya telah dilupakan.
__ADS_1
Sebenarnya dari dulu juga Tasya sudah di lupakan oleh keluarganya, hanya saja ia tidak menyadari, dan terus berharap masih bisa mendapat kasih sayang ayahnya.