My Husband Perfect

My Husband Perfect
BAB 29.


__ADS_3

Di negara Amerika.


Tampak dua orang pria dalam sebuah ruangan yang mendominasi warna putih.


Pria yang satunya tengah berbaring di ranjang pasien, pria satunya lagi berdiri menatap pria yang berbaring itu.


"Kak, apa kau sudah benar-benar yakin?" tanya pria yang berdiri itu.


Hahahah.


Pertanyaannya malah disambut tawa menggelegar oleh pria yang dipanggil kakak itu.


"Kau sangat aneh, Glen. Jelas-jelas operasi plastik di wajahku adalah hal yang aku inginkan, dan kau dengan bodohnya bertanya hal seperti itu." Pria itu tersenyum miring seraya mengejek pria yang bernama Glen itu.


"Maaf, Kak. Aku hanya memastikan."


"Hah! sudahlah." Pria itu mengibaskan tangannya seolah kata maaf Glen tidak penting. "Apa kau sudah membayar semua administrasinya." Pria itu menatap tajam Glen.


"Sudah, Kak. Satu jam lagi operasi plastik di wajah Kakak akan dilakukan." Glen menjelaskan.


Hahaha!


"Aku sudah tidak sabar ingin melihat wajahku setelah operasi." Pria itu merentangkan tangannya, ia begitu bahagia.


"Glen." Pria itu berhenti tertawa, dan berganti menatap tajam Glen. "Saat aku dalam pemulihan nanti setelah operasi, kau tidak boleh lupa dengan tugas yang aku berikan."


"Awasi terus target yang sudah aku tunjukkan pada kau!" lanjut ucap pria itu dengan tegas.


Hawa dingin dan mencengkam makin terasa di sekitar Glen, dan ia hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Dan melihat Glen mengangguk patuh, pria itu kembali tertawa keras, seolah habis mendapat permainan baru yang dapat di suruh-suruh.


Hahah!

__ADS_1


Setelah puas tertawa, pria itu mengibaskan tangannya mengusir Glen untuk pergi dari ruangan tersebut.


Glen membuang nafas berat begitu ia keluar dari sana, kini ia milih berjalan entah kemana akan tujuannya, yang pasti bukan di rumah sakit, yang hanya membuatnya tidak dihargai.


Glen masuk ke dalam mobilnya dan langsung membawanya melesat pergi.


Pria bergaris wajah tegas dengan memiliki sedikit jambang di pipinya, serta mata biru itu kini menghentikan mobilnya di sebuah hotel.


Glen berjalan memasuki hotel tersebut, dan langsung menuju lantai yang ingin ia datangi.


Setibanya di depan pintu kamar yang dituju, seorang wanita cantik membukakan pintu dari dalam.


"Hei, Glen. Kau ahirnya datang." Wanita itu mengalungkan tangannya di leher Glen.


Sepercikan detik mereka berdua saling berciuman bibir.


"Glen ... Kamu nakal," ucap manja wanita itu saat Glen menggigit kecil bibirnya.


Glen terkekeh sembari melepas tangan Wanita itu yang melingkar di lehernya. "Aku ada tugas penting, Jasmine." Glen berjalan menuju kursi sofa.


Glen mendudukkan diri di kursi sofa kemudian menatap Jasmine yang ikut duduk di sebelahnya.


"Aku akan pergi ke Indonesia."


"What!"


Jasmine terkejut matanya sampai membola lebar. "Kau serius!"


"Of course." Glen menarik sudut bibirnya sedikit.


Jasmine menggelengkan kepalanya. "Kau tidak mau mengajak aku?" Wajah Jasmine dibuat sedih.


Glen terkekeh seraya tangannya mengusap pipi Jasmine dan kemudian mengecup bibir merah itu sekilas. "Akan aku kabari untuk kau menyusul aku ke Indonesia."

__ADS_1


Jasmine menghela nafas panjang. "Baiklah, jika kau butuh bantuanku maka hubungi aku segera."


Glen mengedipkan mata sebagai jawaban.


"Tugas apa sih, Glen? Apa kau tidak mau bercerita denganku?" tanya Jasmine lagi, habisnya ia begitu penasaran, sampai-sampai Glen harus ke Indonesia. Jika tidak ada misi besar tentu Glen tidak mungkin harus pergi Ke Indonesia pikir Jasmine.


"Rahasia," jawab Glen sembari terkekeh.


"Ish!" Jasmine mendengus kesal.


*


*


*


Di rumah sakit, Glen menunggu Kakaknya yang saat ini sedang berada di ruang operasi untuk operasi wajahnya.


Glen duduk seorang diri di depan ruang operasi seraya memandangi foto seorang gadis yang wajahnya tampak polos dan cantik di galeri hp nya, foto yang diberikan kakaknya beberapa hari lalu.


"Apa aku bisa melakukannya," gumam lirih Glen.


Senyum tulus gadis itu dalam foto seketika membuat seorang Glen meragu. Entah karena tidak tega, atau karena ada alasan yang lain.


"Kalau bukan karena balas budi aku tidak mau melakukan ini," ucap Glen pada diri sendiri, Glen menghela nafas panjang dan kemudian menyimpan kembali hp nya.


Glen teringat beberapa tahun lalu yang saat itu ia tengah terluka karena tertembak oleh musuh, ia yang kemudian ditolong oleh seorang pria dan dibawanya ke rumah sakit.


Orang yang menolongnya itu membiayai seluruh biaya rumah sakitnya sampai Glen benar-benar sembuh.


Dan orang yang menolongnya itu ahirnya menganggap Glen sebagai adiknya, dan suatu hari akan meminta bantuan Glen untuk menyelesaikan masalah yang dimilikinya.


Glen tidak bisa menolak keinginan orang itu, karena merasa berhutang nyawa karena sudah ditolong orang tersebut.

__ADS_1


Glen tidak bisa membayangkan akan seperti apa keadaannya jika saat itu tidak ditolong orang tersebut.


Tubuhnya yang waktu itu banyak luka tembak, dan bersyukur masih diberi kesempatan hidup.


__ADS_2