
Klek!
"Sayang."
Ucap Enzo bersamaan pintu ia buka kemudian berjalan cepat menuju ranjang dimana Tasya berada.
Tasya duduk untuk menyambut suaminya, kemudian mereka saling berpelukan.
"Aku sangat merindukanmu, terimakasih sudah bangun dari koma," ucap Enzo dan semakin erat memeluk Tasya.
"Maaf, maafkan aku."
Hanya kalimat itu yang dapat Tasya ucapkan.
Enzo melerai pelukannya kemudian meletakkan jari telunjuk di bibir Tasya. "Suuttt, jangan berkata maaf. Karena kamu tidak salah, Sayang."
Enzo dan Tasya saling melempar senyum dan kemudian berpelukan lagi.
Mereka berdua sangat merasa bahagia sampai melupakan beberapa orang yang ada di ruangan ini.
Mom Zelea, Lala dan Audrey. Mereka sama-sama menggelengkan kepalanya disertai senyum bahagia.
Tapi tidak dengan Fely, gadis itu merasa sakit hatinya melihat Enzo memeluk Tasya, apa lagi sebutan sayang Enzo ke Tasya. Fely marah.
"Kak, jangan lupakan kita ya? Bahagia boleh," celetuk tiba-tiba Lala bicara.
Enzo langsung tersadar bahwa di ruangan ini ia tidak berdua aja sama Tasya tapi ada orang lain juga.
Enzo dan Tasya sama-sama terkekeh mendengar ucapan Lala, kemudian melerai pelukannya.
Enzo berganti berdiri di sebelah ibunya.
"Mom, bagaimana keadaan istriku kata dokter?" Menatap Mom Zelea.
Fely langsung memalingkan wajahnya kesal mendengar Enzo berkata istriku.
Mom Zelea tersenyum. "Semua baik, kamu tidak usah khawatir." Mom Zelea mengusap lengan Enzo.
Enzo tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lala yang sedari tadi melihat kakaknya, kini ia bisa melihat kebahagiaan yang tergambar jelas di wajah kakaknya itu.
Dan aura positif Enzo menular ke dirinya yang ikutan tersenyum juga, namun senyum Lala perlahan memudar saat ia menoleh melihat wajah Fely yang murung.
Kenapa Kak Fely? Kenapa wajahnya terlihat kesal begitu, batin Lala.
*
*
*
Malam hari.
Kabar mengenai Tasya sudah bangun dari koma sampai di keluarganya. Malam ini ayah dan juga ibu serta adik tirinya datang menjenguk.
"Tuan Zeon ... Nyonya Zelea."
Sapaan Ayah Gunawan dan Ibu Mika bersamaan begitu masuk ruangan Tasya.
Dad Zeon dan Mom Zelea mengangguk disertai senyum.
Mereka kemudian saling berjabatan tangan, Elis juga ikutan menjabat tangan Dad Zeon dan Mom Zelea.
"Putriku, Tasya," ucap Ayah Gunawan saat melihat Tasya, kemudian berjalan mendekati ranjang.
Enzo yang tadinya duduk di pinggiran ranjang kini ia bangun dan berdiri tegap memberikan ruang untuk Ayah Gunawan dengan Tasya.
Ayah Gunawan memeluk Tasya, tubuh pria tua itu bergetar, dan tidak lama kemudian terdengar suara tangis.
"Ayah, kenapa menangis?" tanya Tasya sembari mengusap punggung ayahnya.
"Maafkan Ayah, Nak? Maafkan, Ayah."
"Ayah, tidak perlu minta maaf. Ayah, tidak salah." Jawab Tasya dengan lembut.
Meskipun ayahnya selama ini pilih kasih, tapi Tasya tidak menaruh dendam sama sekali.
Setelah melerai pelukannya, Ayah Gunawan menatap wajah Tasya yang tersenyum, kini mereka saling melempar senyum.
Sekarang gantian Ibu Mika yang memeluk Tasya, dan mengucapkan hal yang sama seperti Ayah Gunawan tadi, meminta maaf yang entah untuk kesalahan apa?
Tapi Elis sedari tadi tidak fokus dengan Tasya, Elis fokus menatap wajah tampan Enzo. Hatinya menyesal karena dulu menolak perjodohan dengan Enzo.
__ADS_1
"Suami Tasya tampan sekali, Tasya sangat beruntung. Tidak seperti aku yang sekarang hamil tanpa suami," batin Elis.
"Elis, ayo peluk kakak kamu."
Ucapan Ayah Gunawan barusan seketika menyadarkan lamunan Elis dan mengalihkan tatapannya dari Enzo.
"Ah, iya Ayah."
Jawab Elis, dan kemudian ikutan memeluk Tasya. Elis peluk erat Tasya seolah benar-benar merindukan sang kakak, padahal ia hanya berakting peduli, hatinya iri sama Tasya yang miliki suami perfek seperti Enzo.
Elis kemudian melerai pelukannya, berganti menatap wajah Tasya dengan bibir tersenyum dan tangan yang terus menggenggam tangan Tasya. "Selamat atas kesembuhan kamu ya? Jangan sakit-sakit lagi," ucap bohong Elis, padahal hatinya sangat kesal sekali harus berakting manis seperti ini.
Tapi demi mendapat simpati Enzo, Elis akan lakukan apa pun itu. Ya seperti barusan sedikit bicara manis tapi palsu.
"Terimakasih, Elis." Ucap Tasya tulus sembari tersenyum.
Setelah itu Elis menjauh dari Tasya, dan berdiri di sebelah Ibu Mika, namun matanya terus mencuri-curi pandang ke arah Enzo.
"Dia tampan sekali."
Begitu terus batinnya berkata.
Sementara itu Mom Zelea baru masuk dari luar ambil pesanan makanan, karena ada besan. Mom Zelea pesan pizza.
"Enzo, sini bantu Mom?" pinta Mom Zelea seraya meletakkan dua bok besar pizza ke atas meja.
"Iya, Mom." Jawab Enzo.
Elis tidak mau kehilangan kesempatan untuk ambil simpati keluarga Enzo.
"Tante, Elis bantu juga ya?"
Elis menawarkan diri dan langsung berjalan aja tanpa melihat ada seseorang yang lewat yaitu Enzo.
Brug!
Mereka berdua tabrakan, Elis yang mau jatuh refleks memeluk lengan Enzo, dan dari jarak sedekat ini, Elis semakin mengagumi ketampanan Enzo.
"Elis, Enzo. Hati-hati jalannya."
Suara Mom Zelea mereka dengar, seketika Elis sadar dari lamunannya, kemudian menatap Tasya dengan tersenyum miring. Elis memperkuat dalam memeluk lengan Enzo.
Dalam hati Elis puas bisa memeluk Enzo, dan senang melihat wajah terkejut Tasya.
"Menjaulah! Beraninya kau memegang lenganku!" ucap tegas Enzo sembari tangannya membersihkan baju bagian lengannya.
Mom Zelea mendekat. "Enzo, sudah. Tidak baik bicara seperti itu," bisik Mom Zelea di telinga Enzo sebelum ahirnya mengajak Enzo menyusun pizza.
Elis jadi kesal dan sangat merasa malu, sementara Tasya saat ini tersenyum tertahan, jika tidak ingat banyak orang pasti sudah tertawa meledak.
Dan melihat senyum-senyum tertahan Tasya, Elis makin geram, di bawah sana tangannya mengepal kuat.
Awas kau Tasya! Batin Elis lengkap dengan tatapan tajam.
*
*
*
Satu Minggu kemudian.
Tepat hari ini Tasya sudah diijinkan pulang oleh dokter, keadaan Tasya setiap harinya selalu menunjukkan lebih baik.
Dan saat ini tepatnya waktu siang, yang menjemput Tasya di rumah sakit hanya Mom Zelea dan Enzo.
Dad Zeon menunggu di mansion, bersama yang lainnya juga.
Mom Zelea membereskan barang-barang yang mau dibawa pulang. Sebentar Enzo saat ini memeluk pinggang Tasya yang sedang duduk.
"Malam ini ada pesta di mansion, untuk menyambut kepulangan kamu," bisik Enzo di telinga Tasya.
Tasya menoleh dan hidung mereka seketika bersentuhan.
Tasya menjauhkan sedikit wajahnya. "Untuk apa, Sayang? aku tidak perlu ada sambutan."
"Perlu dong, karena kami semua menyayangimu."
Bukan Enzo yang menjawab, melainkan Mom Zelea yang kini menatap keduanya dengan bibir tersenyum.
"Mom, terimakasih," ucap Tasya. Yang langsung ditanggapi anggukan kepala Mom Zelea.
__ADS_1
"Ok, sekarang semua sudah beres. Ayo kita pulang sekarang," ajak Mom Zelea pada mereka berdua.
Audrey yang juga ada di sana membantu membawakan barang-barang ke mobil.
Enzo membantu Tasya untuk duduk di kursi roda, kemudian mendorongnya sampai di parkiran mobilnya.
Mom Zelea masuk ke dalam mobil lebih dulu, kemudian di susul Tasya yang dibantu oleh Enzo.
Setelah semua sudah masuk ke dalam mobil, Audrey pun segera menjalankan mobilnya.
Cukup tiga puluh menit, mobil sudah sampai di mansion milik Enzo.
Begitu pintu mobil di buka oleh Enzo, Tasya melihat Lala juga Dad Zeon dan ayah ibunya sudah menunggu kedatangannya.
Sungguh? Saat ini Tasya merasa dicintai oleh seluruh keluarganya.
Tasya masih berdiri di depan pintu mobil, menoleh dan tersenyum ke arah Enzo, kemudian bersama-sama berjalan masuk ke dalam mansion.
Namun saat mereka sampai di teras, Lala langsung memeluk Tasya.
"Lala, seneng banget. Kak Tasya, ahirnya pulang."
"Kakak, juga seneng," ucap Tasya sembari menatap Lala setelah melerai pelukannya.
"Ayo masuk dulu, ngobrolnya nanti lagi." Mom Zelea yang bicara.
Mereka semua ahirnya masuk ke dalam mansion, Enzo mengantar Tasya ke kamar mereka.
Sementara yang lain menyiapkan acara untuk nanti malam, yaitu acara pesta penyambutan Tasya pulang sembuh dari sakitnya.
"Tidurlah, nanti malam ada acara. Nanti aku bangunkan," ucap Enzo lembut setelah membaringkan tubuh Tasya ke ranjang, kini tangannya membelai wajah Tasya.
Tasya mengangguk dan tersenyum.
Enzo mencium bibir Tasya untuk beberapa detik sebelum ahirnya keluar dari dalam kamarnya.
Ada sesuatu yang harus Enzo kerjakan sekarang, dan hal ini pasti berhubungan dengan Markus.
Enzo di dalam ruang kerjanya mengobrol bertiga bersama Audrey dan Dad Zeon. Minus Samuel karena pria itu saat ini memegang perusahaan Alexa Group, di waktu Enzo tidak hadir.
*
*
*
Malam hari.
Tasya sudah berdandan dan sedang duduk di depan meja rias.
Enzo yang juga sudah berpakaian rapi, menghampiri Tasya, dengan sedikit membungkuk, Enzo memeluk Tasya dari belakang yang lagi duduk itu.
"Malam ini kamu cantik sekali," pujinya dengan suara terdengar seperti berbisik.
Tangan kiri Tasya menyentuh rahang Enzo, Tasya menoleh sedikit kemudian mencium pipi Enzo. "Terimakasih pujiannya, suamiku." Tasya tersenyum.
Enzo membalas senyum Tasya. "Sekarang kita turun, di bawah semua orang sudah menunggu.
Enzo menggandeng tangan Tasya untuk diajaknya turun ke lantai satu.
Saat keduanya sedang menapaki anak tangga, semua orang di bawah sana menatap ke arah mereka berdua yang berjalan sangat terlihat serasi.
Mereka semua terhipnotis oleh ketampanan Enzo juga kecantikan Tasya. Terus memandangi keduanya setiap langkah mereka menapaki anak tangga.
Fely yang juga hadir di pesta ini matanya seketika terasa panas melihat pemandangan itu. Hatinya sakit dan saat ini ia hanya mampu mengepalkan tangannya, marah yang tak bisa ia lepaskan.
Dan tepat setelah Enzo dan Tasya ikut bergabung di lantai sati, pesta pun di mulai. Semua orang mengucapkan selamat pada Tasya atas kesembuhannya.
Tiga puluh menit setelah mengobrol sama tamu undangan, Tasya masuk ke kamar mandi yang tepatnya di lantai satu.
Setelah selesai ia mau keluar, namun alangkah terkejutnya saat berbalik ada orang yang menodongnya dengan pisau.
Deg!
"Tinggalkan Enzo! Atau aku akan menghancurkan hidupmu!" ancam orang itu.
Tasya tidak langsung jawab, matanya melihat sosok pria yang saat ini tiba-tiba berdiri tegap di belakang orang itu.
"Apa maksudmu, Fely!"
Deg!
__ADS_1
"Enzo"