My Husband Perfect

My Husband Perfect
BAB 28.


__ADS_3

Setiap harinya Audrey selalu mendapat teror dari seseorang yang tidak dikenal, kadang di telpon kadang berupa pesan ancaman.


Dan sejauh ini Audrey masih diam, belum bercerita apa pun pada Enzo.


Dan hari berlalu, satu Minggu kemudian.


Gedung Alexa Group.


Sebuah mobil sport warna merah berhenti tepat di depan lobby perusahaan, seorang wanita cantik berkaca mata hitam keluar dari dalam mobil tersebut.


Rambut hitam panjangnya terayun indah saat kakinya mulai melangkah masuk ke dalam gedung Alexa Group.


Semua mata karyawan memandangnya, wanita cantik berpakaian dress warna Sage sangat terlihat cantik di kulit putih bersihnya.


Wanita itu masuk ke dalam lift, menuju lantai paling tinggi, tempat ruang CEO.


Setelah pintu lift terbuka, wanita itu melangkah keluar dengan gayanya yang anggun.


Menuju ruang kerja yang dahulu sering ia datangi. Tapi karena ingin memberikan kejutan pada orang pemilik ruang tersebut, jadi wanita itu tetap menunggu di luar.


Sampai biarlah pintu itu terbuka dan pemilik ruang itu melihatnya ada di luar.


Wanita itu tersenyum-senyum membayangkan wajah terkejut orang yang mau ia temui itu.


Padahal baru subuh tadi ia sampai di Indonesia, setelah tiga tahun ini ia menatap di Amerika. Namun pagi ini sudah tidak sabaran ingin menemui pria yang sudah lama ia rindukan.


*


*


*


Di ruang meeting, Enzo bersama para petinggi perusahaan, sedang sibuk membahas masalah perusahaan.


Ada beberapa produk yang di tolak di pasaran, dan komplain yang diterima karena kemasan produk rusak.

__ADS_1


Padahal sebelum di pasarkan, produk tersebut tidak lepas dari pengecekkan tiga kali, jadi benar-benar diperhatikan.


Memang bukan masalah besar, tapi masalah kecil jika dibiarkan lama maka tidak baik juga.


"Lebih teliti lagi sebelum produk kita pasarkan," ucap Enzo, dan manajer bagian marketing langsung menganggukkan kepalanya.


Tepat pukul sepuluh pagi, meeting tersebut ahirnya selesai, Enzo keluar lebih dulu dari ruang tersebut bersama Samuel.


"Tuan, nanti sore ada agenda bertemu klien," ucap Samuel diantara langkah kakinya setelah berada di luar ruangan.


"Siapkan saja semua yang dibutuhkan, nanti baru kabari saya lagi," ucap Enzo sebelum ahirnya masuk ke dalam lift.


"Baik Tuan," jawab Samuel.


Lift membawa keduanya naik ke lantai paling atas. Barusan mereka meeting di lantai lima.


Saat lift yang membawa mereka berdua telah berhenti, tidak lama kemudian pintu itu terbuka, Enzo dan Samuel segera melangkah keluar.


Namun setelah beberapa langkah mau menuju ruang kerjanya, Enzo terkejut saat matanya melihat sosok wanita yang tengah berdiri tepat di depan pintu ruang kerjanya.


Langkah Samuel juga ikut terhenti, melihat wanita yang tidak asing di matanya.


"Enzo." Wanita itu langsung memeluk. "Aku merindukanmu," ucapnya seraya mengeratkan pelukan.


"Kamu ada di Indonesia," ucap Enzo sembari ingin melepaskan tangan wanita itu yang memeluknya, namun sulit karena wanita itu makin mengeratkan pelukannya.


"Iya, baru tadi pagi aku tiba." Wanita itu tersenyum, sembari menikmati aroma wangi parfum yang Enzo gunakan.


"Enzo ..." Wanita itu beralih menatap wajah Enzo. "Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan padamu."


*


*


*

__ADS_1


"Enzo, ternyata benar dugaan aku kalau kamu itu pasti tidak sakit, kamu hanya pura-pura sakit demi untuk balas dendam kan?"


Ucap wanita itu setelah kini mereka berdua duduk di kursi sofa yang ada di ruang kerja Enzo.


"Fely, jadi kamu sudah tahu?" Enzo menyandarkan punggungnya di kursi.


"Tentu, berita tentang kamu itu meluas di sosial media," ucap Fely dengan menggebu.


Fely menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan Enzo. "Jika kamu butuh batuan, aku siap membantu."


Enzo terkekeh. "Kamu mau berakhir koma di rumah sakit?"


"Di rumah sakit?" ulang Fely seraya menaikan satu alisnya.


Enzo merubah posisi duduknya menjadi tegap seraya menatap wajah Fely dengan intens. "Terimakasih, sudah mengatakan mau membantu, tapi ini terlalu bahaya jika kamu ikut membantu."


"Enzo ..." Fely dengan berani menyentuh tangan Enzo. "Kamu harus hati-hati melawan musuhmu itu, aku tidak mau sampai kau terluka."


Enzo mengalihkan tangan Fely yang memegang tangannya. "Jangan khawatir, aku pasti baik-baik saja." Enzo tersenyum.


Fely juga ikut tersenyum meski dalam hati jadi sedih karena Enzo mengalihkan tangannya yang memegang tangan pria itu.


"Oh, ya. Setelah ini aku ada kerjaan penting, tidak masalah kan jika harus aku tinggal."


Fely tersenyum kecut. "Tidak masalah, jika begitu aku akan pulang."


"Thanks, kunjungannya."


Fely mengangguk dan tersenyum, kemudian berjalan pergi dari ruangan tersebut.


Setelah kepergian Fely, Enzo melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena kehadiran Fely.


"Aku harus bisa mengambil hati Enzo kali ini," ucap Fely setelah duduk di kursi kemudi mobil miliknya.


"Aku tidak mau kepulanganku ke Indonesia jadi sia-sia."

__ADS_1


"Enzo, kamu hanya milikku." Fely tersenyum miring, tidak lama kemudian ia menjalankan mobilnya meninggalkan area gedung Alexa Group.


__ADS_2