My Husband Perfect

My Husband Perfect
BAB 38


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Di Mansion utama.


"Lala, apa kamu sudah siap?"


"Sudah, Mom," sahut Lala dengan cepat dari dalam kamarnya, yang saat ini pintu kamar itu terbuka sedikit, jadi Lala bisa mendengar pertanyaan Mom Zelea barusan.


Mom Zelea menengok ke dalam dengan membuka pintu itu lebih lebar sedikit. "Kalau sudah ayo berangkat sekarang," ajaknya kemudian.


"Iya, Mom," sahut Lala masih di dalam kamar.


Dan tidak lama kemudian Lala keluar dengan penampilan yang terlihat sangat cantik.


Mom Zelea tersenyum, kemudian mengajak Lala berjalan pelan-pelan, karena Lala masih menggunakan tongkat.


"Apa, Mommy. Memberi kabar, Kak Enzo?" tanya Lala setelah mereka tiba di lantai satu.


"Dad, kami berangkat dulu ya." Mom Zelea meminta ijin ke suaminya, sebelum menjawab pertanyaan Lala.


"Tidak sayang, kan kita mau kasih kejutan," ucap Mom Zelea penuh semangat.


Lala tersenyum ikut semangat dengan rencana Mom Zelea yang ingin diam-diam datang ke rumah sakit.


Dan pagi ini sekitar pukul sepuluh, Lala dan Mom Zelea pergi meninggalkan mansion dengan diantar oleh supir.


"Aku sudah kangen banget sama, kak Tasya. Semoga, kak Tasya cepat sembuh. Ya, Mom?" ucap Lala dengan tangan menengadah berdoa.


"Amin ..." Mom Zelea mengaminkan sembari memeluk Lala.


"Pak, tolong mampir ke minimarket. Ya?" pinta Mom Zelea.


Tidak jauh dari tempat mobilnya berjalan sekarang ada sebuah minimarket di depan sana.


"Kamu mau ikut atau tetap di mobil saja?" tanya Mom Zelea pada Lala saat mobil sudah sampai di minimarket dan terparkir rapih.


"Ikut, Mom," jawab Lala. Yang kemudian mereka berdua bersama-sama masuk ke minimarket tersebut.


Mom Zelea mau belanja beberapa makanan ringan, untuk cemilan Enzo di sana, dan untuk para pengawal Enzo yang menjaga Tasya.


Saat sedang fokus mengambil makanan, tiba-tiba ada sebuah suara yang tidak asing memanggil nama Mom Zelea.


"Tante Zelea?"


Mom Zelea menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang sudah memangilnya.


"Seneng deh, bisa ketemu Tante di sini," ucap orang itu.


"Iya, Tante juga senang. kamu belanja juga ternyata di sini, Fely." Mom Zelea tersenyum.


Fely pun menjawab dengan tersenyum, kemudian melihat belanjaan Mom Zelea. "Tante, belanja makanan banyak banget?" tanya Fely, ia sedikit heran.


Mom Zelea melihat keranjang belanjanya sebentar, kemudian menatap Fely lagi. "Oh, ini mau saya bawa ke rumah sakit. Untuk Enzo dan orang-orang yang bekerja dengan Enzo."


Fely mengangguk mengerti sembari ber oh ria.


"Mom ..." sebut Fely lagi.


"Iya."


"Memang siapa yang sakit?" tanya Fely disertai tatapan ingin tahu.


"Istrinya Enzo, di rawat di rumah sakit," jelas Mom Zelea.


Nyut!


Sakit sekali hati Fely saat barusan Mom Zelea menyebut istri Enzo.


Tidak-tidak, Enzo hanya milikku. Orang lain tidak boleh miliki, aku akan merebutnya, batin Fely.


Fely berpikir sejenak sebelum ahirnya bicara lagi, "Boleh saya ikut, Mom?"


"Oh, tentu. Boleh-boleh." Mom Zelea menarik tangan Fely untuk menuju kasir pembayaran.

__ADS_1


Dan setelah berbelanja selesai mereka segera menuju rumah sakit.


*


*


*


Tiga puluh menit, mereka sudah sampai di rumah sakit.


Begitu sampai di depan kamar tempat Tasya di rawat, Fely langsung terkejut melihat beberapa pengawal yang berjaga di depan pintu itu.


Dari sini Fely paham bahwa wanita yang saat ini sedang sakit di dalam sana sangat berarti bagi Enzo. Dan hati Fely seketika nyeri sakit bagai ada ribuan jarum yang menusuk. Fely cemburu.


"Ini makanan untuk kalian."


"Terimakasih, Nyonya."


Lamunan Fely terbuyarkan saat mendengar perbincangan singkat Mom Zelea dengan pengawal Enzo.


"Ayo, Kak?" ajak Lala pada Fely, karena wanita itu malah diam aja tidak ikut berjalan masuk.


Fely tersenyum masam menatap Lala, dan kemudian mengikuti Mom Zelea masuk ke dalam ruangan itu.


Tanpa Mom Zelea dan Lala ketahui, Fely mengepalkan tangannya marah, rasanya ia ingin membunuh saja istri Enzo itu. Karena tidak mau ada yang menyaingi.


"Tasya ... Mom datang menjenguk kamu lagi, Sayang. Apa kamu tidak ingin membuka mata, Hem?" Mom Zelea mengusap wajah Tasya. "Padahal, Mom sudah sangat merindukanmu. Kita belanja bersama, bikin kue bersama. Mom rindu kebersamaan kita, Sayang."


Dan melihat Mom Zelea yang begitu perhatian dan menyayangi Tasya, seketika wajah Fely makin terlihat marah disertai tatapan tajam.


"Kak, cepat bangun ya? Lala juga kangen sama, Kak Tasya."


Hah! Mendengar Lala bicara yang menunjukkan peduli ke Tasya, Fely langsung membuang nafas berat, rasanya ia ingin mengamuk. benar-benar gak terima.


*


*


"


Merasa sudah pernah kenalan dengan kedua orang tua Reka. Elis sangat percaya diri dan dengan angkuhnya bertamu di rumah mewah itu.


"Nyonya, apa kabar? Tuan, juga apa kabarnya?" sapa Elis pada ibu dan ayahnya Reka seraya menunduk hormat.


Saat ini mereka berada di ruang tamu rumah orang tua Reka.


Ibu Dina menatap Elis dengan intens. "Kamu gadis yang di pesta itu, kan?"


"Benar, Nyonya. Masih ingat saja." Elis tersenyum.


Ibu Dina terus menatap Elis, bingung juga ia dengan kehadiran Elis.


"Apa tujuan kamu datang kemari? Langsung saja"


Yang bertanya ayahnya Reka, Ibu Dina menoleh ke suaminya sebelum ahirnya menatap Elis lagi.


Tiba-tiba Elis berakting menangis, dan kedua orang tua Reka jadi bingung melihat Elis yang tiba-tiba menangis itu.


"Saya hamil dengan Reka, Nyonya." Elis bicara dengan menundukkan kepalanya.


Deg!


Ibu Dina seketika terkejut, ia langsung menoleh ke arah suaminya yang sama-sama terkejutnya.


"Apa kamu sudah bicara dengan, Reka?" tanya Ibu Dina setelah beberapa saat terdiam.


Elis langsung menggelengkan kepalanya dan tangisnya makin dibuat terisak-isak supaya orang tua Reka iba padanya.


Ibu Dina dan suaminya sama-sama menghela nafas panjang.


Ibu Dina menatap Elis yang masih setia menundukkan kepalanya. "Jika, Reka mau tanggung jawab. Kami tak masalah, tapi? Jika Reka tidak mau tanggung jawab, kami tidak bisa menerima bayi itu apa bila tidak ada tanda bukti tes DNA yang menyatakan bahwa bayi itu cucu kandungan kami."


Deg!

__ADS_1


Elis yang terkejut mendengar ucapan Ibu Dina langsung mendongakkan kepalanya membalas tatapan Ibu Dina.


Saat ini hilang sudah harapan Elis untuk bisa menikah dengan Reka. Mengingat hal itu Elis semakin menangis seraya mengepalkan kedua tangannya.


Sementara itu di tempat lain.


Dad Zeon sedang berdiri di depan tiga orang pria, mereka bertiga adalah orang yang asistennya pilih, lebih tepatnya berhasil lolos seleksi yang nantinya akan bekerja menjaga Lala.


"Nama kamu siapa?" tanya Dad Zeon pada pria berparas bule.


"Saya Glen, Tuan." Menunduk hormat.


Dad Zeon menelisik wajah dan tampilan Glen, sebagai orang yang sudah berpengalaman, tentu Dad Zeon bisa menilai seseorang hanya dengan penampilan dan raut wajahnya.


"Aku yakin kamu bisa menjaga putriku." Menatap serius ke mata Glen. "Tapi apa kamu yakin bisa melawan tujuan kamu?" Menarik sudut bibirnya.


Deg!


Glen terkejut dan berpikir bagaimana bisa calon bosnya itu tahu tujuannya datang ke Indonesia.


"Saya akan melakukan yang terbaik, Tuan." Glen menjawab yakin tanpa gugup.


"Hah, anak muda." Dad Zeon terkekeh masam.


*


*


*


Di rumah sakit.


Baru saja Mom Zelea masuk ke dalam kamar mandi.


Kini tinggallah Fely sendiri yang menemani Tasya, karena Lala sedang duduk di luar ruangan itu bersama para pengawal.


Fely yang saat ini berdiri tepat di samping ranjang pasien tengah menatap tajam ke Tasya, kemudian perlahan wajahnya menunduk berbisik di telinga Tasya.


"Ingat, Tasya. Kamu tidak berhak memiliki, Enzo. Hanya aku yang pantas bersanding dengannya, bukan kamu wanita yang tidak berkelas ... Sebaiknya kamu mati aja, atau aku yang akan membunuh kamu!" Fely bicara penuh penekanan di setiap kata.


Menjauhkan wajahnya kembali seraya tersenyum miring menatap wajah Tasya yang pucat itu.


Namun tiba-tiba suara bunyi monitor itu terdengar kencang, Fely jadi panik dan bingung sendiri, dan bersamaan itu Mom Zelea keluar dari dalam kamar mandi. Dan terkejut mendengar bunyi monitor dan segera berjalan cepat menghampiri Tasya.


Mom Zelea juga panik dengan keadaan Tasya yang sekarang. "Tasya, kamu kenapa sayang ..." Mom Zelea menangis.


Fely jadi semakin bingung.


Namun tiba-tiba Mom Zelea merasakan tangan Tasya yang ia genggam jemarinya bergerak.


"Tasya." Mom Zelea terkejut sampai menutup mulutnya.


Mom Zelea langsung menekan tombol darurat untuk mengundang dokter datang. Matanya sedari tadi terus menatap Tasya.


Mom Zelea terharu saat menyaksikan mata Tasya yang sudah lama terpejam kini perlahan ahirnya terbuka.


Awalnya Tasya merasakan buram pemandangan itu, namun beberapa detik kemudian kini sudah nampak jelas wajah orang-orang di ruangan ini.


Ada Mom Zelea juga seorang wanita yang tidak ia kenal.


"Mom," ucap lirih Tasya.


"Iya, Sayang. Kamu mau apa?" Mom Zelea membelai wajah Tasya lembut.


"Ha-haus," ucap Tasya dengan suara lirih.


Mom Zelea kemudian mengambil botol Aqua yang ia bawa, dan membantu Tasya untuk minum.


Dokter dan perawat masuk ke dalam, tersenyum bahagia ahirnya pasiennya sadar dari koma.


"Saya periksa dulu, ya?" ijin dokter itu, dan Tasya mempersilahkan.


Lala yang baru masuk langsung memeluk Mom Zelea, merasa bagia ahirnya Tasya sadar. Sementara Fely adalah orang yang paling tidak suka melihat Tasya sadar dari koma.

__ADS_1


Aku akan tetap akan membuat kamu pergi dari, Enzo! Batin Fely seraya menatap tajam ke arah Tasya yang kini sedang diperiksa dokter.


__ADS_2