My Husband Perfect

My Husband Perfect
BAB 27.


__ADS_3

Pagi hari di sebuah apartemen.


Seorang wanita cantik sudah selesai bersiap, sebentar lagi akan berangkat untuk menjalankan tugas.


Yaitu tugas untuk menjaga istri tuan muda.


Penampilan wanita itu selalu menggunakan warna serba hitam, dari celana hingga jaket kulit yang digunakan.


Sebelum berangkat tidak lupa menyelipkan pistol di saku jaket kulit bagian dalam, kemudian mengambil kaca mata hitam dan digunakannya.


Audrey keluar dari kamarnya, namun baru saja mengunci pintu kamarnya, ia mendengar seperti ada pesan masuk di hp nya.


Audrey menyempatkan diri untuk melihat isi pesan itu, dan seketika wajah Audrey berubah marah setelah membaca pesan masuk itu.


"Audrey, jika kau masih ingin selamat, maka berhentilah bekerja sama dengan Enzo."


Audrey menghela nafas berat, dan kembali menyimpan hp nya di saku celananya. Audrey tidak membalas pesan teror tersebut.


Bukan berarti ia santai, ia juga tetap waspada dan berhati-hati, hanya saja tidak mau membalas karena tidak ingin orang asing yang mengirim pesan teror itu akan semakin menakuti.


Begitu keluar dari apartemen dan memasuki mobilnya, Audrey langsung tancap gas menuju rumah sakit.


Pagi ini Audrey mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, karena suasana masih pagi dan jalanan penuh kendaraan.


Tiga puluh menit, Audrey tiba di rumah sakit, begitu keluar dari mobil, Audrey langsung berjalan masuk gedung rumah sakit, saat melihat jam yang melingkar di tangannya, waktu menunjukan pukul setengah delapan.


Itu artinya ia belum telat, dan benar saja setibanya ia sampai di depan ruang tempat Tasya di rawat.


Audrey melihat Enzo duduk di samping ranjang pasien dengan tangannya menggenggam tangan Tasya.


Niat hati saat sudah sampai mau langsung masuk ke dalam, namun Audrey urungkan saat melihat pemandangan itu.


Audrey tidak dapat mendengar apa yang Enzo katakan, karena Audrey ada di luar dan saat ini melihat melalui jendela kaca.

__ADS_1


Setelah dirasa waktunya untuk masuk ke dalam sudah tiba, Audrey mengetuk pintu itu sebelum ahirnya ia masuk ke dalam.


Tidak lama kemudian setelah Audrey masuk, Samuel pun juga masuk ke ruangan itu.


"Tuan, mari kita berangkat sekarang," ucap Samuel seraya menunduk hormat.


"Hem," jawab Enzo, ia mencium dalam kening Tasya sebelum ahirnya pergi bersama Samuel untuk ke kantor.


Karena sudah ada Audrey, orang yang sudah Enzo percaya untuk menjaga Tasya, maka ia sudah bisa tenang untuk meninggalkan Tasya bekerja.


Setelah Enzo dan Samuel pergi, tidak lama kemudian pintu ruangan tersebut kembali terbuka.


Saat ini yang masuk seorang wanita dengan tubuh kurus tinggi dan rambut panjang lurus, tersenyum ke arah Audrey sembari mengangguk kecil, seolah sedang minta ijin, sebelum ahirnya berjalan menuju ranjang pasien.


"Kamu?" tanya Audrey dengan tatapan menyelidik.


"Saya, Tia. Nona." Tia tersenyum, kemudian melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda.


"Tapi, Tuan Enzo tidak bercerita tentang kamu?" Audrey semakin mengintrogasi Tia. Takutnya Tia mata-mata dari musuh.


Tia langsung menunduk hormat pada orang yang baru datang itu. "Nyonya," sapanya.


Audrey yang memang belum kenal dan belum pernah bertemu orang tersebut hanya bingung, tapi itu hanya sesaat, karena setelah itu Audrey juga ikut menyapa seperti Tia.


"Nyonya, maafkan saya," ucapnya tulus, karena tidak mengenai orang-orang terdekat Tasya.


Mom Zelea yang kini sudah berdiri di dekat Audrey, ia menepuk pelan pundak Audrey. "Tidak masalah, ini wajar karena kita baru bertemu."


Audrey mengangguk dan tersenyum.


"Saya adalah ibunya Enzo, ibu mertuanya Tasya." Mom Zelea memperkenalkan.


"Baik, Nyonya."

__ADS_1


Mom Zelea kemudian mengajak Audrey duduk di kursi sofa panjang yang ada di ruangan tersebut.


Sementara Tia, ia sedang membersihkan tubuh Tasya, memandikan kering.


Mom Zelea menceritakan semua tentang Tasya dan Enzo pada Audrey. Guna Audrey tahu dan tidak kesulitan saat berkerja bersama mereka.


Mom Zelea juga mengatakan nama orang-orang di dalam keluarganya, meski Audrey saat ini belum bertemu dengan Lala dan Dad Zeon, setidaknya nanti tidak akan kesulitan karena sudah pernah mendengar nama itu.


Audrey hanya mengangguk dan menjawab iya dengan patuh.


Audrey menjadi terasa nyaman karena Mom Zelea tidak sombong, dan terus mengajaknya bicara.


Hingga tiba siang hari, Mom Zelea juga Tia ahirnya pamit pulang.


"Titip Tasya, jaga dia baik-baik," ucap Mom Zelea sembari menepuk bahu Audrey, bibirnya tersenyum manis.


"Audrey akan jaga, dan nyawa Audrey sebagai jaminannya."


Mom Zelea kembali menepuk bahu Audrey sebelum ahirnya beranjak pergi dari sana bersama Tia.


Siang ini setelah semuanya pergi, Audrey jadi sendiri. Meski pun sendirian, Audrey tidak pernah memejamkan matanya.


Ia terus memantau Tasya, menatap Tasya.


Bahkan pintu ruangan ini kini sudah diberi kode, selain keluarga dan dokter serta perawat yang bertugas mengecek keadaan Tasya, tidak akan bisa masuk ke ruangan tersebut.


Audrey meninggalkan Tasya untuk ke kamar mandi sebentar, ruang kamar mandi yang ada di dalam ruangan itu juga.


Tidak lama kemudian Audrey sudah kembali, ia melihat ponselnya yang menyala di atas meja.


Sebuah nomor baru tengah menghubungi Audrey. Tapi tidak Audrey angkat.


Dan setelah panggilan telepon berakhir, ada pesan masuk di hp Audrey.

__ADS_1


Audrey seketika mengepalkan tangannya dan rahang mengeras setelah membaca pesan itu.


"Sial!" umpatnya.


__ADS_2