My Husband Perfect

My Husband Perfect
BAB 31


__ADS_3

Di rumah sakit.


"Tasya, sayang. Cepat sembuh ya? Cepat sadar dari koma, kami semua kangen sama kamu, Nak." Ibu mika bicara seraya memasang wajah sedih.


Huh! Kalau tidak mengingat ada besan di sini, aku males akting sok baik sama anak sialan ini, batin Ibu Mika dibalik wajah yang dibuat sedih.


"Sudah besan, tidak usah bersedih, kita sebagai Ibu cukup berdoa yang terbaik untuk Tasya. Kalau besan bersedih nanti Tasya ikutan sedih." Mom Zelea mengusap bahu Ibu Mika.


"Iya, hiks hiks." Ibu Mika mengangguk disertai pura-pura menangis.


Sementara itu di luar ruangan itu para laki-laki berkumpul. Ada Enzo, Dad Zeon juga Ayah Gunawan.


"Maaf, Tuan. saya dan istri baru bisa datang menjenguk, Tasya. Karena kemarin kami sedang berada di Singapura." Ayah Gunawan menjelaskan.


"Tidak apa-apa, kami memaklumi," ucap Dad Zeon, bibirnya tersenyum tipis.


"Saya sebagai ayahnya Tasya, sangat sedih dengan keadaan Tasya saat ini," ucap Ayah Gunawan, tangannya mengusap sudut matanya yang keluar air mata.


"Dari kecil Tasya sudah ditinggal oleh ibunya, dan saya sebagai ayahnya sangat menyayangi Tasya. Saya selalu berusaha kasih yang terbaik untuk putri saya, Tasya." Lanjut ucapnya sembari nangis terisak-isak.


Dad Zeon mengusap punggung Ayah Gunawan yang bergetar itu sembari kepalanya manggut-manggut.


Cih! Enzo melengos kesal mendengar ucapan Ayah Gunawan barusan, jelas ia tahu bahwa Ayah Gunawan tengah bersandiwara saat ini.


"Tasya adalah anak saya yang paling saya sayangi, Tuan." Ayah Gunawan berbohong, hanya demi dilihat sebagai ayah baik Tasya.


"Semua orang tua, pasti akan menyayangi anaknya bukan Tuan?" ucap Dad Zeon.


Ayah Gunawan tersenyum.


Enzo yang merasa sudah malas mendengar kata-kata munafik Ayah Gunawan, ia milih masuk ke ruangan Tasya. Namun setibanya masuk ke dalam sana, apa yang terjadi juga tidak jauh beda dengan yang dilakukan oleh Ayah Gunawan.


Ibu Mika sedang mencari simpati Mom Zelea, Enzo merasa muak dengan dua orang itu.


*


*


*


Audrey yang saat ini sudah dalam perjalanan pulang, biasanya ia akan pulang pukul sembilan malam, tapi untuk malam ini ia mendapat pulang cepat, karena sudah banyak keluarga Tasya yang menjaga.


Setelah mobilnya melewati jalan yang pinggiran gedung tinggi-tinggi. Kini mobil Audrey memasuki jalanan yang cukup sepi, tidak seramai tadi.


Saat Audrey sedang menikmati musik barat tiba-tiba mendengar suara tembakan yang entah dari mana asalnya, dan sialnya tembakan itu membidik ban mobilnya hingga kini pecah.


"Sial!" maki Audrey, karena ban mobilnya pecah, Audrey menghentikan mobilnya itu, tangannya sudah siap mengambil senjata api yang ia simpan di mobilnya untuk berjaga.

__ADS_1


Saat Audrey menoleh kebelakang ia tidak mendapati apa pun, mobil yang berhenti atau orang-orang yang mendekat itu tidak ada.


Semua mobil hanya berlalu lintas.


Gak mungkin? Pasti ada orang yang sengaja ingin bermain-main nyawa sama aku, batin Audrey lengkap dengan tatapan tajam mengarah ke belakang.


Pinggir jalanan ini ada hutan pepohonan, memang tidak luas, tapi jika untuk sembunyi seperti malam-malam seperti ini juga tidak akan ada orang yang tahu.


Karena mobil sudah tidak mungkin Audrey jalankan, wanita itu ahirnya keluar dari dalam sana, tapi tangannya sudah siap dengan senjata api.


Dan benar saja baru saja Audrey menjejakkan kaki ke aspal suara tembak kembali ia dengar dan bersamaan itu sebuah peluru melewati depan wajahnya.


Dor!


Untung saja Audrey menggerakkan kepalanya menghindar ke belakang hingga peluru itu hanya lewat di depan wajahnya saja.


Tembakan terus membidik ke arah Audrey.


Dor!


Dor!


Audrey berlari dan sekelompok orang ikut mengejarnya.


Audrey masuk ke dalam hutan yang tidak luas itu.


Malam yang gelap ini mereka saling mengejar untuk mendapatkan tujuannya.


"Kemana dia!" suara keras campur amarah dari mulut seseorang yang mengejar Audrey.


"Kita berpencar mencari wanita itu, ingat bos mau kita tangkap wanita itu." Salah satu temannya memberi usul.


Tanpa mereka ketahui, Audrey mendengar percakapan mereka, dan Audrey langsung marah saat tahu ada orang yang ingin menangkapnya.


Bos elu belum kenal siapa Audrey, batin Audrey seraya tersenyum sinis.


"Ok, kita berpencar." Disetujui oleh temannya yang lain.


Mereka berlima, tiga orang berlari ke arah kanan, dua orang berlari ke arah kiri.


Dengan gerakan dramatis Audrey membalik tubuhnya seraya mengangkat pistol dan membidik ke arah mereka bertiga yang berjalan.


Meski malam hari, tapi seolah Audrey punya kelebihan bisa melihat musuh meski di tengah gulita malam.


Matanya menyipit tajam supaya bidikannya tepat sasaran, dan ...


Dor!

__ADS_1


Dor!


Dor!


Ahh!


Teriak tiga orang itu yang punggungnya tertembak, kemudian sama-sama ambruk di atas rerumputan.


Audrey langsung kabur, wanita itu berlari cepat, sebelum kawan musuhnya itu menyadari.


Audrey berlari ke arah jalan raya tempat mobilnya tadi, dan seperti sebuah keberuntungan baginya, karena tiba-tiba ada sebuah mobil boks yang lewat.


Dengan keberaniannya Audrey menghentikan mobil itu, sopir mau tak mau mengijinkan Audrey menumpang karena Audrey saat ini tengah menodong sopir itu dengan pistol.


Audrey lakukan hanya untuk menakut-nakuti sopir itu, supaya ia diijinkan numpang mobil boks itu.


Sementara itu di dalam hutan, dua orang yang masih selamat segera mengamankan tiga temannya yang kini sudah mati.


"Menurut aku wanita itu bukan tandingan kita, karena dia ajaib, tiba-tiba menghilang dan tiba-tiba muncul dengan suara tembakan yang berhasil membunuh musuhnya," ucap penjahat itu yang berkepala plontos.


Bugh!


Temannya memukul lengannya.


"Udah, gak usah banyak bacot! Noh urus Sapri, umair, Jojo. Yang udah mati."


"Iya!" jawab kesal penjahat kepala plontos.


*


*


*


"Thank you, ini ambil semuanya." Audrey memberikan beberapa lembar uang merah ke tangan sopir mobil boks itu, setelah mobil itu mengantar Audrey tepat di depan apartemen.


Sopir itu hanya diam sambil mulut melongo, menatap bergantian ke arah lembaran banyak uang dan wanita asing yang baru saja menumpang mobilnya dan sekarang tengah berjalan masuk ke bangunan tinggi apartemen.


Sopir menggelengkan kepalanya, matanya masih menunjukkan kebingungan. "Aku pikir dia penjahat, dan nyawaku tidak sampai detik ini," gumam lirih sopir itu.


Sementara itu Audrey yang baru masuk ke apartemennya, langsung melepas sepatunya, begitu sepatunya di lepas, langsung ada darah segar yang keluar dari telapak kakinya.


Tadi saat ia berlari di hutan ada batang pohon yang tajam ia injak, hingga mampu melukai telapak kakinya.


Tapi luka seperti ini adalah hal biasa bagi Audrey, ia yang kerjanya petualang bahkan pernah mendapatkan luka lebih dari ini.


Sementara itu di tempat lain.

__ADS_1


"Bodoh! Dasar kalian bodoh! Cuma menangkap wanita itu saja kalian tidak bisa!" maki bos penjahat itu setelah mereka melapor gagal menangkap Audrey.


"Selama Audrey bekerja bersama Enzo, aku tidak bisa mencelakai istrinya itu!" Orang itu menatap tajam seolah tatapannya itu mampu menembus orang yang sedang dibicarakannya itu.


__ADS_2