My Husband Perfect

My Husband Perfect
BAB 18.


__ADS_3

"Dadaah ... hati-hati di jalan kalau sudah sampai kasih kabar ..." teriak semua orang. Pagi ini Lala dan Mom Zelea juga Dad Zeon mengantar Enzo dan Tasya yang mau pergi bulan madu.


Mobil itu sudah melaju pelan, Tasya masih melambaikan tangannya terlihat dari jendela mobil yang belum tertutup.


Setelah mobil yang Enzo dan Tasya tumpangi pergi, Mom Zelea dan Dad Zeon menghela nafas lega, ahirnya anaknya itu mau menerima pernikahannya.


"Mommy sangat senang, Dad."


"Daddy juga, Mom."


Mereka berdua saling pandang dan di detik berikutnya saling memeluk erat.


"Mommy, Daddy, selalu deh!" celetuk Lala.


Eh!


Mom Zelea dan Dad Zeon reflek langsung melepas pelukannya, sungguh tadi lupa kalau ada Lala anak bungsunya.


Di tatap Mom Zelea dengan wajah kikuk, Lala hanya menggelengkan kepalanya, kemudian beranjak pergi dari sana.


Mom Zelea mencubit pinggang Dad Zeon. "Daddy! Kenapa tidak bilang kalau tadi ada Lala!"


"Mana Daddy ingat, Mom," jawab Dad Zeon sembari tertawa.


"Ish! Nyebelin," kesal Mom Zelea dan langsung pergi meninggalkan Dad Zeon.


Dad Zeon menghela nafas panjang sembari geleng-geleng kepala sebelum ahirnya ikut masuk ke dalam Mansion.


*


*


*


Di dalam sebuah mobil yang sedang melaju, dua pasangan di kursi belakang sedang saling memeluk, sementara Pak sopir fokus mengemudikan mobilnya.


"Makasih ya, Kak." Tasya mendongakkan wajahnya menatap Enzo. Tangan pria itu begitu erat memeluk pinggangnya.


"Makasih untuk apa?" Enzo meletakkan kepalanya di atas kepala Tasya.


Tasya tersenyum. "Makasih sudah mau mengajak aku jalan-jalan."


"Bulan madu," ralat Enzo yang benar sembari mencium kening Tasya.


"Iya, maksudku seperti itu." Tasya terkekeh kecil sembari memejamkan matanya merasakan bibir Enzo mencium keningnya.


Perjalanan masih jauh, mereka hanya bulan madu di luar kota, belum bisa pergi sampai luar negeri karena Enzo masih harus pura-pura tidak bisa jalan.


Enzo membawa Tasya bersandar di bahunya, supaya istrinya itu bisa tidur, tidak mau sampai Tasya kelelahan karena perjalanan masih jauh.


Namun lama kelamaan Enzo juga jadi mengantuk, ahirnya ia ikutan memejamkan matanya.


Mobil terus melaju dan masih dalam keadaan aman, jalan yang bagus membuat tidur nyenyak tanpa terusik.


Setelah tiga puluh menit berlalu, jalanan mulai sepi, jarang ada kendaraan roda empat yang melewati jalan jalur ini.


Ya masih ada mobil yang lewat juga tapi hanya satu dua mobil saja, jalanan yang sepi membuat sopir menambah kecepatan lajunya.


Selama lima belas menit mobil melaju masih aman, hingga tiba-tiba mobil harus berbelok di depan sana, sopir sudah mengurangi laju mobilnya, namun saat bersiap mau berbelok dari arah yang berlawanan ada mobil yang menghadang, membuat sopir harus mengerem dadakan hingga menimbulkan suara decitan mobil yang begitu keras.


Ciiitttttt.


Ah!


Teriak Tasya dan Enzo bersamaan di dalam mobil, mereka berdua yang tadi tertidur langsung terbangun saat merasakan mobil tiba-tiba berhenti.


Enzo mau bertanya ada apa pada sopir, namun belum sempat bibirnya berucap kini matanya melihat beberapa orang bertopeng keluar dari dalam mobil di depan sana dan berjalan mendekati mobilnya.


"Kak, dia penjahat." Tasya panik sembari menggenggam tangan Enzo.


Wajah Enzo seketika marah melihat lima orang bertopeng itu. "Pak buka laci di depan!"


Brak!


Brak!


Suara mereka menggebrak pintu kaca mobil.


"Keluar woi ... Keluar!"


"Ini Tuan." Sopir memberikan dua pistol ke Enzo, sang sopir baru tahu kalau di dalam mobil ini sudah tersedia senjata api.


"Kamu pegang satu." Enzo memberikan pistol satunya ke Tasya, dan Tasya langsung menerimanya.

__ADS_1


Enzo belum selesai bicara namun Tasya langsung membuka pintu mobil dan mendorongnya dengan kuat.


Bruk!


Dor!


Dor!


Dor!


Dor!


Suara tembak di luar mobil seketika langsung bersahut-sahutan, Tasya yang pandai ilmu bela diri ia selalu bisa menghindar setiap kali ada tembak yang di arahkan padanya.


Dor!


Dor!


"Kabur ... Kabur semua!" seru salah satu dari anggota bertopeng itu.


Dari lima orang itu ada tiga yang terluka berhasil Tasya tembak, yang membuat mereka ahirnya memutuskan untuk lari.


Enzo terus memperhatikan orang-orang itu yang mau masuk kembali ke dalam mobil.


Deg!


Enzo langsung terkejut saat mengenali wajah seseorang yang baru saja melepas topeng sebelum orang itu masuk ke dalam mobil.


"Tidak, ini tidak mungkin." Enzo geleng-geleng kepala, merasa tidak percaya dengan baru yang dilihatnya itu.


"Kak Enzo." Tasya masuk ke dalam mobil, tapi Enzo belum menyadari Tasya.


"Tidak mungkin itu Markus," gumam Enzo.


"Markus?" ulang Tasya dan ikut mengikuti arah mata Enzo yang melihat ke depan di mana mobil orang jahat tadi berada.


"Kak Enzo." Tasya menyentuh bahu Enzo.


"Hah Tasya kamu baik-baik saja?" tanya Enzo panik, apa lagi saat mengingat tadi Tasya melawan para penjahat, ia baru tahu kalau Tasya bisa menggunakan senjata api.


Tasya mengangguk.


Enzo langsung memeluk Tasya. Di peluknya erat istrinya itu, tadi hatinya sudah ketakutan saat melihat Tasya melawan para penjahat, tapi untungnya Tasya berhasil mengalahkan penjahat itu.


"Kenapa tadi kamu melakukan itu? Tadi aku sudah sangat khawatir," ucap Enzo setelah melerai pelukannya dan berganti menangkup wajah Tasya.


Tasya tersenyum, tangannya terangkat ikut memegang telapak tangan Enzo yang menangkup wajahnya. "Karena penjahat itu harus segera di usir," ucapnya dengan nada begitu tenang.


"Tapi lain kali jangan seperti itu lagi, aku benar-benar khawatir."


Tasya menganggukkan perkataan Enzo barusan.


Enzo membawa Tasya untuk bersandar di bahunya, dengan pikiran yang masih fokus pada pria yang dilihatnya tadi.


Aku harus segera selidiki ini, batin Enzo.


Meski hatinya menolak untuk tidak percaya, tapi tidak salah jika ia mau menyelidiki apa yang dilihatnya tadi.


*


*


*


Hah...


Perasaan lega Tasya setelah ahirnya sampai di tempat tujuan, setelah menempuh perjalanan cukup jauh dan melelahkan.


Saat ini mereka sedang beristirahat di sebuah hotel presiden suit, kamar yang luas dan megah.


"Benar-benar sultan, apa saja bisa dilakukan," gumam Tasya memuji Enzo suaminya yang bisa menyewa kamar hotel ini.


Tasya tiduran di atas ranjang dengan telentang dan kaki yang masih menjuntai ke bawah.


Satu jam kemudian, Tasya dan Enzo saling duduk di atas ranjang, mereka sama-sama sudah mandi.


"Sekarang katakan padaku sejak kapan kamu bisa menggunakan pestol dan ilmu bela diri, karena aku tahu hal itu tidak mudah?" tanya Enzo, saat ini pria itu benar-benar penasaran.


Makin kesini Enzo merasa Tasya adalah istri yang ajaib, setelah bisa membantu adiknya bisa berjalan lagi, kini wanita yang berstatus istrinya itu kembali menunjukan aksi bisa mengunakan pistol, padahal tadi sangat bahaya.


"Dulu aku pernah tinggal di Asrama," jawab Tasya sembari menatap lekat wajah Enzo.


Tasya kemudian menceritakan semua dari awal mula ia belajar ilmu bela diri dan juga belajar menggunakan beberapa senjata api.

__ADS_1


Memang di tempat ia tinggal dulu tidak ada perampok atau penjahat lainnya, tapi kata guru Tasya, tidak masalah untuk belajar, belajar tidak ada yang sia-sia, jika suatu hari dalam keadaan mendesak pasti akan berguna.


Enzo menganggukkan kepalanya setelah mendengar semua yang Tasya ceritakan.


Kriuk!


Enzo mengangkat satu alisnya saat mendengar suara bunyi perut.


"Kamu lapar?"


Ditanya seperti itu oleh Enzo seketika Tasya tersenyum malu-malu.


"Maaf ya? Aku sudah membuat kamu lapar," ucap Enzo penuh rasa bersalah. "Ayo kita makan?"


Setelah itu Tasya dan Enzo keluar dari kamar, Tasya mendorong kursi roda yang Enzo dudukki, mereka menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai satu.


Di sana ada restoran, di hotel ini sudah lengkap dengan segala fasilitas. Jadi tidak perlu jauh-jauh untuk makan lezat, di hotel ini sudah disediakan restoran dengan menu makanan lezat.


Setelah tiba di tempat tujuan, Tasya segera memesan makanan, dan tidak sampai lima belas menit makanan sudah jadi dan sudah diantar.


Enzo dan Tasya sama-sama menikmati makan malam nya, sesekali mereka saling melempar senyum dengan malu-malu.


Bisa di bilang saat ini adalah bulan madu + kencan pertama mereka.


Setelah makan malam selesai, mereka berdua kembali masuk ke dalam kamar hotel.


Setelah Tasya selesai membantu Enzo naik ke atas ranjang, wanita itu gantian masuk ke dalam kamar mandi.


Tadi sebelumnya Enzo sudah gosok gigi dan berganti piyama tidur, dan Tasya membantunya.


Di dalam kamar mandi, Tasya senyum-senyum sendiri sembari melihat wajahnya, saat ini ia sedang gosok gigi.


Tasya teringat Enzo yang semakin hari semakin bersikap manis padanya, membuat dirinya makin cinta.


Setelah ritual di dalam kamar mandi selesai, Tasya keluar dari sana, langsung menuju ruang ganti untuk berganti pakaian tidur, Tasya menggunakan baju piyama tidur warna putih motif bunga-bunga.


Setelah itu Tasya langsung naik ke atas ranjang, saat ia mau ambil posisi berbaring tiba-tiba merasakan sebuah tangan memeluk pinggangnya.


Siapa lagi pelakunya kalau bukan pria yang sedari tadi sudah menunggunya.


"Kak," ucap Tasya lembut.


"Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Enzo serius, yang kemudian memutar tubuh Tasya untuk menghadapnya.


Tasya diam menunggu yang ingin Enzo bicarakan.


"Sebenarnya aku tidak lumpuh."


Deg!


Tasya langsung terkejut dengan mata terbelalak lebar, pikirannya langsung bertanya-tanya, jika Enzo tidak lumpuh selama ini lalu mengapa harus menggunakan kursi roda?


"Aku terpaksa karena-,"


Enzo langsung menceritakan rahasianya soal hanya pura-pura lumpuh, kecelakaan satu tahun lalu adalah sebuah rencana dari seseorang, dan dengan pura-pura lumpuh ia ingin mengetahui musuhnya yang sebenarnya.


"Kak, aku tidak percaya." Tasya menangis, hatinya begitu sedih mendengar cerita sebenarnya dari sang suami.


"Jangan menangis." Enzo langsung memeluk Tasya. "Ini rahasia kita, jangan kata kan pada siapa pun, Mom dan Dad juga belum tahu."


Tasya mengangguk mengerti, ia ikut membalas pelukan Enzo dan lebih erat memeluk suaminya itu.


"Aku mencintaimu, Tasya."


"Aku juga mencintaimu, Kak."


Malam ini keduanya saling menyatakan cinta satu sama lain, perasaan lega dan bahagia menyelimuti hati keduanya.


Enzo kemudian melerai pelukannya, ia tatap wajah cantik istrinya lekat-lekat, perlahan wajahnya mulai mendekat, dan tidak lama kemudian sebuah daging lembut tidak bertulang saling menyentuh, Enzo menciumnya dengan lembut.


Ciuman yang sebelumnya perlahan dan lembut kini berubah ciuman panas, tangan Enzo meraba kancing baju Tasya dan mulai melepas satu per satu.


Ciuman itu beralih turun ke leher Tasya, kadang kala Enzo menggigit kecil karena gemas, membuat tubuh Tasya meremang.


Setelah pakaian Tasya berhasil dilucuti oleh Enzo, kini tubuhnya menjadi polos, wajah Tasya sudah merah merona, tanpa perlu dijelaskan ia sudah paham apa yang akan terjadi selanjutnya.


Setelah melepas juga semua pakaian yang melekat di tubuhnya, Enzo kembali mencumbui Tasya, kini suara de-sa-han saling bersahutan di kamar itu.


Aw! Pekik Tasya saat merasakan sesuatu yang besar menerobos masuk ke dalam tubuhnya, awalnya yang begitu terasa sakit, namun lama kelamaan berganti ke-nik-matan.


Keduanya saling menerima dan memberi, sampai puncak ******* mereka sama dapatkan.


Ah ....

__ADS_1


__ADS_2