My Husband Perfect

My Husband Perfect
BAB 16


__ADS_3

Enzo terus memikirkan perkataan ibunya, setelah sepeninggalan ibunya dari ruang kerjanya.


Enzo memijit pelipisnya sembari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sofa, tiba-tiba kepalanya terasa pening dan yang ada hanya ucapan-ucapan ibunya tadi, yang terus berputar seperti kaset.


"Aku harus gimana?" gumamnya pelan, "Aku tidak tahu apa aku mencintai gadis itu atau tidak? Tidak mungkin kan tiba-tiba aku bersikap baik itu akan terasa aneh jika tanpa alasan."


Dan pikiran Enzo semakin sakit ketika mengatakan pertanyaan-pertanyaan untuk diri sendiri tapi tidak bisa ia jawab.


Ia juga tidak mau menyesal seperti yang dikatakan ibunya, tapi ia juga tahu ucapan ibu adalah doa, Enzo seperti mendapat kutukan.


Sepanjang hari Enzo terus memikirkan perkataan ibunya, ternyata benar-benar tidak mudah untuk jatuh cinta bagi Enzo yang seorang pria dingin dan angkuh, lebih tepatnya tidak mau mengakui perasaannya yang padahal udah merasa nyaman dengan Tasya, hingga semua tetap di fase yang sama meski sudah satu bulan berlalu.


*


*


*


Di taman belakang di atas rerumputan hijau, tepatnya di mansion Mom Zelea. Seorang gadis belia sedang merasa bahagia karena latihan berjalannya selama ini membuahkan hasil.


Usahanya untuk terus mengikuti terapi dan sabar untuk latihan berjalan kini sudah bisa berjalan lagi meski masih harus menggunakan tongkat di tangannya.


Tapi ini sudah terbilang kemajuan yang luar biasa, dan gadis belia itu yakin bahwa nantinya ia bisa berjalan lagi tanpa tongkat seperti dahulu kala.


Tasya tersenyum melihat Lala yang berjalan ke arahnya mengunakan tongkat.


"Semangat Lala!" teriak Tasya, jarak antara Tasya dan Lala saat ini ada sekitar tujuh meter.

__ADS_1


Dan Tasya tahu bahwa adik iparnya itu saat ini sangat bersemangat berjalan ke arahnya, meski dari jarak yang rumayan jauh, Tasya bisa melihat banyak keringat yang keluar di dahi Lala.


Terimakasih, Tuhan. Atas bantuan Mu, aku bisa membantu adikku sembuh, doa Tasya dalam hati, bibirnya terus tersenyum tanpa lelah.


Lala semakin mempercepat langkah kakinya dengan nafas semangat untuk segera sampai di depan kakak iparnya itu.


"Aaa ... Aku berhasil ..." Teriak Lala kegirangan, setelah sampai finis.


Tasya langsung memeluk Lala, memberikan apresiasi, tidak peduli jika saat ini Lala sedang berkeringat, Tasya begitu bahagia melihat Lala bisa berjalan lagi.


"Kak, aku bau lepaskan," rengek Lala ia merasa malu.


"Tidak apa-apa? Kakak bahagia memelukmu," ucap Tasya sungguhan.


*


*


*


Dad Zeon tanpa sadar meneteskan air mata haru, saat baru saja menyaksikan putri tercintanya kembali bisa berjalan.


Senyum bahagia di bibir putrinya bagaikan semangat hidupnya kembali, setelah sudah satu tahun ini kehilangan semangat karena melihat putrinya tidak bisa berjalan.


"Dad." Mom Zelea merangkul mesra lengan suaminya dan ikut melihat ke arah luar jendela, dimana di taman belakang sana ada putrinya dan menantunya yang sedang berlatih berjalan.


"Kita harus bicara dengan Tasya, kita harus berterimakasih pada Tasya," ucap Dad Zeon tanpa mengalihkan tatapan matanya yang terus melihat ke arah Lala dan Tasya.

__ADS_1


"Daday benar, kita harus bicara dengan menantu cantik kita." Mom Zelea mendongakkan kepalanya menatap wajah sang suami, yang kini sedang tersenyum tipis.


Setelah melihat Lala dan Tasya pergi dari taman belakang, yang bertanda mereka masuk ke dalam rumah, Mom Zelea dan Dad Zeon langsung keluar dari kamarnya dan turun ke lantai satu.


Mereka ahirnya bertemu saat sama-sama berjalan di anak tangga.


"Nak, setelah mengantar Lala, temui Mommy di bawah." Mom Zelea mengelus bahu Tasya, dan gadis itu mengangguk setuju.


Mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju tempat masing-masing, dan begitu Tasya sudah mengantar Lala sampai di kamar gadis belia itu, Tasya langsung pamit keluar.


Tadi Lala juga mendengar saat Mom nya bicara, jadi ia tidak menahan Tasya untuk tetap berada di kamarnya.


Tasya segera berjalan menuruni anak tangga, ia tidak mau kedua mertuanya lama menunggu.


"Mom, Dad," sapa Tasya begitu sampai di ruang keluarga, ia tersenyum.


"Duduk di sini, Nak. jangan jauh-jauh." Mom Zelea menepuk kursi sofa di sebelahnya.


Tasya mengangguk patuh, sekarang Mom Zelea duduk di tengah-tengah, dengan diapit suaminya dan menantunya.


"Aku merasa menjadi wanita dicintai, ada suami dan menantuku di sebelah," seloroh Mom Zelea yang langsung membuat mereka semua tergelak tawa.


Sudah cukup mode bercandaannya, kini Dad Zeon mulai serius.


"Tasya, Dad dan Mom sangat berterimakasih sama kamu karena sudah membantu Lala sembuh."


Tasya menggeleng, bukan ini yang ia inginkan, meski tahu Dad Zeon berkata sangat tulus.

__ADS_1


"Dad, tidak perlu berterimakasih padaku, aku ikhlas."


Mom Zelea langsung memeluk Tasya. "Terimakasih, sayang. Kamu sangat baik. Mommy bersyukur memiliki menantu sebaik kamu."


__ADS_2