My Husband Perfect

My Husband Perfect
BAB 40.


__ADS_3

Tujuh bulan kemudian.


Di dalam sebuah ruangan, terlihat empat orang yang saat ini sedang berdiskusi menyusun rencana.


Pembicaraan mereka terdengar sangat serius, bahkan jika ada yang mendengar obrolan mereka, akan langsung bergidik ngeri karena sangking beresiko langkah yang akan mereka ambil.


"Dengan mengunakan topeng Maya, maka Markus tidak akan bisa mengenali, Nona Tasya." Jelas Audrey.


"Tapi-,"


"Suamiku ... Percaya padaku. Aku bisa melakukan semua ini. Ingat, ini demi kebaikan keluarga kita," sela Tasya cepat sembari menatap lekat bola mata Enzo dan mengusap punggung tangan suaminya itu.


"Aku cuma khawatir," ucapnya lirih.


Tasya bukannya membalas ucapan Enzo, malah bertanya pada Audrey, "Apa topeng itu bisa dibuktikan sekarang? Supaya suamiku percaya."


"Bisa, Nona." Audrey kemudian berdiri dan mengambil topeng Maya yang sudah ia siapkan di dalam tasnya.


Topeng Maya seperti menyerupai kulit dan tipis seperti kulit, jadi ketika dipasang di wajah akan menyatu dengan kulit wajah seperti sedang memakai masker wajah.


"Sempurna," ucap Audrey setelah topeng Maya berhasil terpasang di wajah Tasya.


"Lihatlah, Tuan." Audrey membalikkan tubuh Tasya untuk menatap Enzo, yang tadinya berdiri membelakangi Enzo.


Benar-benar tidak terlihat seperti Tasya, batin Enzo.


Karena topeng yang tipis itu menyatu dengan kulit, jadi siapa pun orang tidak akan curiga.


"Topeng ini hanya mampu bertahan tiga hari ya, Nona. Setelah itu kita bertemu lagi untuk Menganti topeng Maya yang baru," ucap Audrey menjelaskan lagi.


Tasya mengangguk. Kemudian mendekati Enzo dan menggenggam tangan pria itu. "Apa sekarang sudah percaya?"


Enzo menganggukkan kepalanya, kemudian tatapnya beralih ke pada Audrey. "Lalu bagaimana kerjanya? Aku tidak mau jika istriku disentuh pria itu!"


Mendengar pertanyaan yang tegas itu dari tuanya, Audrey segera mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan ia tunjukkan ke Enzo.


"Ini adalah parfum. Dan aroma wangi parfum ini akan membuat Markus terpuaskan dalam imajinasinya." Audrey menatap Tasya. "Nona, cukup menyebarkan parfum ini ke leher saja."


Enzo tidak menjawab penjelasan Audrey itu, tapi ia mengambil botol parfum itu, kemudian ia amati.


"Tuan jangan khawatir, karena saya akan memasang chip di tubuh Nona Tasya. Yang nampak seperti kulit jadi tidak akan dicurigai, dengan begitu saya bisa mengawasi sekaligus berkomunikasi dengan, Nona Tasya."


Penjelasan Audrey lagi saat melihat wajah Enzo masih nampak rasa khawatir.


Enzo mengembalikan parfum itu ke tangan Audrey lagi. Kemudian langsung memeluk Tasya.


"Berhati-hatilah," pinta Enzo, yang terdengar seperti memohon bukan sebuah pesan.


"Semua pasti akan baik-baik saja," jawab Tasya.


Selama tujuh bulan ini banyak cerita. Fely yang sejak malam itu ketahuan Enzo. Ahirnya sekarang mendekam di Amerika tidak akan bisa pulang lagi ke Indonesia.


Tentu Enzo yang membuat Fely seperti itu, karena ingin melindungi istri tercintanya.


Lala yang dulu masih berjalan menggunakan tongkat, saat ini gadis cantik itu sudah bisa berjalan normal.


Dan keinginannya terkabul yang ingin sekolah lagi, dengan selalu dijaga pengawal tampan bernama Glen.


Dan ahirnya setelah lama menunggu, dua Minggu yang lalu kabar Markus kembali ke Indonesia telah Enzo dengar informasinya.

__ADS_1


Dan sebelum Markus merusak lebih jauh ketenangan keluarganya, maka Enzo akan melenyapkan pria itu lebih dulu.


Dan malam ini permainan dimulai.


Tasya bersama Audrey dalam kendaraan mobil, mereka akan menuju sebuah klub malam, dimana saat ini ada Markus di sana.


Tasya sudah bukan Tasya lagi, melainkan Maya. Karena wajah wanita itu kini sudah berubah, bagai disulap oleh Audrey.


Tentu Audrey paling berpengalaman dalam hal beginian, karena dirinya dulu adalah mantan Mafia.


Misi penipuan wajah seperti itu dulu sering dilakukan oleh anggotanya, hanya untuk ingin tahu kelemahan musuh.


Bahkan saat ini Audrey juga sedang menyamar, ia berdandan cupu mengunakan kaca mata tebal. Berakting sebagai pembantu Tasya.


Setelah mobil sampai di alamat tujuan, Audrey mengajak Tasya masuk ke dalam klub malam itu.


Namun saat ini Markus dan kawan-kawannya belum tiba, Audrey mengajak Tasya duduk di kursi depan bartender.


Audrey matanya terus mengawasi sekeliling untuk memastikan sesuatu.


Tidak lama kemudian sosok yang tengah Audrey tunggu ahirnya tiba.


Bukan hal yang sulit bagi Audrey untuk mengenali wajah Markus yang baru setelah pria itu operasi plastik bagian wajah. Karena dirinya orang mendapatkan informasi wajah baru Markus.


Markus masuk ke ruang VVIP, dari tempat Audrey duduk saat ini, ia bisa melihat memang begitu tampan wajah Markus, tapi sayang berhati iblis.


Audrey melakukan rencana selanjutnya, yaitu menemui manajer klub ini, setelah berdiskusi dengan manajer itu, Audrey menghampiri Tasya dan membisikkan sesuatu di telinga Tasya.


Di ruang VVIP tempat Markus duduk.


"Tuan, apa Anda mau barang baru?" ucap manajer menawari, baru saja ia masuk membuat Markus mengurungkan niatnya yang mau minum wine.


"Coba aku lihat, jika kau bohong maka kau akan tahu akibatnya!" menyetujui sekaligus mengancam.


"Ba-baik, Tuan." Manajer tersebut kemudian pergi dari ruang VVIP itu, dan tidak lama kemudian kembali lagi bersama wanita cantik nan manis parasnya.


"Tuan, ini adalah barang baru yang saya maksud tadi," jelas manajer itu seraya menunjuk wanita yang berdiri di sebelahnya.


Jujur saja sejak wanita itu melangkah masuk ke ruang VVIP, mata Markus tak teralihkan, terkunci hanya menatap wanita itu.


"Hem, aku hanya ingin bicara berdua dengannya. Pergilah!" Markus mengangkat satu tangannya bertanda manajer serta semua anak buahnya yang ada di ruangan ini untuk keluar.


"Tuan, tapi-," ucapan Hery sebagai tangan kanan Markus terhenti saat ditatap tajam oleh Markus.


"Maaf, Tuan. Jika saya lancang, kami permisi." Hery menunduk hormat kemudian pergi meninggalkan Markus dan wanita itu saja.


"Kemari?" ucap Markus setelah hanya tinggal mereka berdua.


Wanita cantik bergaya polos itu menunduk hormat lebih dulu sebelum ahirnya berjalan mendekat dan duduk di sofa.


"Kenapa duduk di situ? Aku mau kau duduk di sini." Markus menepuk pahanya, bertanda ia ingin wanita itu duduk di pangkuannya.


"Aku malu," wanita itu menundukkan kepalanya.


Dan entah sikap malu-malu wanita itu semakin menghipnotis Markus. Bibir pria itu tanpa sadar terangkat, tersenyum manis.


Ahirnya Markus yang bangkit dari duduknya dan mendekati wanita itu, kemudian menarik wanita itu hingga kini tubuh mereka menempel dengan posisi duduk.


Tasya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, ia ingat betul pesan Audrey yang berkata untuk menatap mata Markus, guna memikat pria itu.

__ADS_1


Dan hal ini terbukti, sekarang semua berjalan seperti alur yang sudah direncanakan.


"Siapa nama kamu? Kamu belum mengatakan nama kamu sejak tadi."


"A-aku, Maya." Tasya menundukkan kepalanya, ia pura-pura malu.


Markus meraih dagu Maya untuk membalas tatapannya. "Jangan menunduk, wajahnya yang cantik terlalu sayang untuk disia-siakan," rayuan manis Markus, Maya hanya membalas dengan senyuman.


Markus mendekatkan bibirnya ke leher Maya, dan saat dia mulai menghirup aroma wangi dari parfum yang Maya usapkan di lehernya tadi. Kini Markus makin terhipnotis oleh Maya.


"Kau begitu wangi, Baby." Ucap Markus dengan suara serak, saat ini saja ia sudah berhasrat ingin menyentuh Maya lebih.


"Tapi aku tidak mau melakukan di sini," ucap Maya memelas.


Markus seketika menatap wajah Maya. "Lalu kamu maunya di mana?" Membelai pipi Maya yang mulus itu.


"Di tempat kediamanmu, apa boleh?"


Tentu Maya berani bertanya seperti itu karena sudah yakin bahwa saat ini Markus sudah dalam kendalinya.


Dan itu benar, saat dengan mudahnya Markus mengiyakan ucapannya tadi.


Keduanya langsung pergi meninggalkan klub malam itu, dan yang paling tidak suka di sini adalah Hery. Pria itu menaruh curiga pada wanita itu. Yang dalam sekejap membuat bosnya luluh.


"Sekarang kita harus gimana?" tanya anak buah Markus yang lain ke Hery.


"Ikut pulang ke Mansion, kita harus jaga bos!" ucap Hery tegas.


Saat itu juga semua anak buah Markus yang ikut datang ke klub malam tadi langsung ikut bubar dari sana dan kembali ke Mansion.


Tidak butuh waktu lama hanya empat puluh menit mobil Markus sudah sampai di kediaman pria itu.


Begitu mereka masuk ke dalam kamar, Markus langsung memeluk Maya dengan posesif.


Tadi sebelum Maya masuk ke dalam kamar sudah menyebarkan parfum ke lehernya sebanyak mungkin.


Sehingga saat ini ketika Markus mencium parfum itu. Markus langsung masuk ke dunia fantasinya.


Dalam fantasinya pria itu mencium Maya bahkan sampai bercinta, Markus merasa mendapat servis luar biasa dari Maya, hingga dirinya puas dan ahirnya tertidur pulas.


Maya yang sebenarnya sejak tadi hanya berdiri saja, jantungnya sampai berdebar-debar tak karuan.


Jujur saja ada ketakutan juga di hati Tasya. Tapi semua ini demi keluarganya maka ia akan berusaha.


"Audrey."


"Iya, Nona."


Mereka bicara melalui chip.


"Aku berhasil," ucap Tasya.


"Bagus, Nona. Sekarang bisa melakukan rencana selanjutnya," ucap Audrey dan seketika mendapat anggukan kepala Tasya.


Tasya kemudian mulai mencari sesuatu di dalam lemari yang ada di ruang kamar itu.


Tanpa sengaja Tasya melihat sebuah pintu besar, ia pun penasaran dan ahirnya membukanya.


Deg!

__ADS_1


Tasya terkejut melihat isi ruangan itu di dalam sana.


__ADS_2