My Husband Perfect

My Husband Perfect
BAB 36.


__ADS_3

Tiga hari setelah kejadian malam itu saat ada orang yang mau mencelakai Tasya.


Sekarang baru aja pukul sembilan pagi, Audrey biasa menemani Tasya hanya ditemani Tia, pelayan yang selama ini bersama Tasya.


Tapi Tia hanya sampai sore hari, selanjutnya Audrey sendirian yang menjaga sampai Enzo pulang dari kantor.


Tok. Tok.


Audrey langsung bangkit dari duduknya saat mendengar suara pintu diketuk.


"Anda," ucap Audrey setelah pintu ia buka, dan ternyata sosok dokter yang ada di depannya.


"Iya, saya ditugaskan untuk memeriksa, Nona Tasya." Dokter itu menyampaikan.


Audrey meneliti dokter yang di depannya itu, hatinya meragu kalau dokter tersebut mendapat tugas memeriksa Tasya.


"Siapa yang memberi Anda tugas?" Audrey melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap angkuh.


"Dokter Pram," jawab dokter itu.


Ok, itu benar bahwa dokter yang menangani Tasya bernama dokter Pram. Audrey mengangguk, bawaannya masih tenang, tapi percayalah dokter itu sudah mulai waspada dengan gerak-gerik Audrey.


"Tunggu sebentar," pinta Audrey pada dokter itu sembari mengambil ponselnya dan menelpon Dokter Pram.


"Halo, Dok. Apa kah Anda memberi tugas dokter yang lain untuk memeriksa, Nona Tasya. Hari ini?" tanya Audrey setelah sambungan telepon diangkat.


"Tidak, Nona. Sebentar lagi saya akan ke sana untuk memeriksa."


Audrey seketika menatap tajam dokter di depannya itu. "Terimakasih, Dok." Ucapnya pada dokter Pram.


"Kau telah menipuku!" bentak Audrey.


Dokter itu langsung berlari dan Audrey pun mengejarnya.


"Jaga, Nona Tasya. Di dalam!" seru Audrey pada para pengawal di depan pintu itu.


Audrey berlari cepat untuk segera menangkap dokter palsu itu.


*


*


*


Di sebuah gedung tua.


"Hei, laki-laki bodoh! Cepat jujur dimana bos-mu itu!" ucap pria berbadan kekar dengan tegas disertai tatapan menusuk.


"Hahah, aku lebih baik mati! Dari pada harus jujur mengatakan keberadaan bos aku!"


"Maka kau akan aku hajar!" bentak pria kekar itu.


Bugh! Bugh!


Laki-laki itu makin tak berdaya mendapati pukulan keras lagi, kepalanya terasa sakit dan pening tidak lama kemudian laki-laki itu pingsan.

__ADS_1


"Kita harus lapor ke, Bos," ucap pria kekar itu pada temannya. Yang kemudian langsung menghubungi Samuel. Dan mengatakan orang jahat itu tidak mau jujur.


Ya, laki-laki yang barusan di pukuli itu adalah laki-laki yang kemarin mau mencelakai Tasya. Dan saat ini laki-laki itu sedang di tahan oleh Enzo sampai laki-laki itu mau jujur.


Di perusahaan Alexa Group.


"Kenapa?" tanya Enzo, saat ia menoleh melihat wajah Samuel yang menahan amarah.


Samuel menatap Enzo yang kembali sibuk dengan pekerjaannya. "Barusan, Boby memberi kabar kalau orang penyusup itu belum mau jujur."


Terdengar helaan nafas berat Enzo seketika. Pria itu menghentikan pekerjaannya dan membalas tatapan Samuel. "Apa kau sudah mendapatkan informasi keluarga orang itu?"


"Sudah, Tuan."


"Lakukan tugasmu," perintah Enzo.


Jika dengan cara halus orang itu masih saja bungkam, maka Enzo akan menekan orang itu dengan keluarganya.


Samuel pun pergi untuk mendatangi rumah keluarga penyusup itu dan akan membawanya untuk bertemu penyusup itu.


*


*


*


Di mansion Dad Zeon.


"Daddy, boleh kah aku sekolah seperti teman-teman yang lain?" Lala bertanya dengan memberi tatapan memohon, yang kini duduk di sebelah Dad Zeon.


Lala pun langsung mengangguk cepat.


"Tapi, sayang. Kamu masih berjalan menggunakan tongkat, bagaimana jika nanti ada teman yang membully kamu?"


"Daddy, jangan khawatir. Lala sudah gede, sudah bisa hadapin mereka." Tersenyum lebar.


Dad Zeon membawa Lala dalam pelukannya. "Tapi, Daddy masih khawatir. Bagaimana jika nanti ada yang menyakiti kamu."


"Home schooling aja ya, di rumah."


"No, Dad. Lala tidak mau kehilangan masa putih biru," ucapnya dengan sendu.


"Tapi, Sayang."


Lala langsung cemburu sembari memalingkan wajahnya. "Daddy, tidak sayang sama, Lala."


Dad Zeon menghela nafas panjang, anak di usia Lala memang susah jika dimintain pengertian. Emosinya masih labil.


"Hei, lihatlah. Daddy." Dad Zeon menolehkan wajah Lala untuk melihatnya. "Ok, Daddy. Akan mengijinkan kamu sekolah umum seperti anak-anak yang lain, tapi ingat-,"


Lala tersenyum sembari menunggu kelanjutan ucapan Dad Zeon.


"Akan ada pengawal yang selalu menemani kamu. Karena, Daddy tidak mau ada murid lain yang menggangu putri cantiknya, Daddy ini." Mencubit gemas hidung mancung Lala.


"Thank you, Dad." Lala memeluk Dad Zeon dengan bahagia.

__ADS_1


Dad Zeon mengusap rambut Lala, hatinya juga merasa bahagia melihat putri kesayangannya terlihat bahagia seperti ini.


"Ish, ish. Kalian," ucap Mom Zelea seraya menggerakkan telunjuknya di depan wajah.


"Kenapa peluk-pelukan tidak ajak-ajak, Mommy," protesnya, memasang wajah cemberut.


Hehe.


Lala tertawa. "Eh, ada Mommy."


"Sini, Mom. Kesayangan, Daddy." Goda Dad Zeon.


Mom Zelea menyebikkan bibirnya tapi tetap mendekat kepada mereka. Dan duduk di tengah, antara Dad Zeon dan Lala.


Dan seketika mereka berdua memeluk Mom Zelea. Hah. Rasakan bahagia di peluk suami dan anak.


Semoga bahagia selalu bersama keluarga selamanya. Batin Mom Zelea.


"Em ... Mommy dapat kiriman kue loh dari teman, ada yang mau gak nih?"


Pertanyaan Mom Zelea langsung membuat Lala dan Dad Zeon melerai pelukannya, dan sama-sama melihat wajah Mom Zelea.


Mom Zelea mengangguk dan tersenyum.


"Mau, Mom." Jawab Lala dan Dad Zeon bersamaan.


"Kompak sekali sih kalian." Mom Zelea terkekeh. "Ok, tunggu di sini. Mom akan ambilkan."


Mom Zelea beranjak dari sana menuju dapur. Tadi pagi teman Mom Zelea ada yang mengirim kue, karena baru pulang dari London, yang katanya oleh-oleh.


"Lihatlah kuenya wuihh enak sekali ini," ucap Mom Zelea yang kembali datang dengan membawa nampan yang berisi piring isi kue.


Mom Zelea duduk kembali di tengah-tengah.


"Ayo, Daddy dan Lala. Cobain kuenya?" Mom Zelea memberikan sepotong untuk Dad Zeon dan sepotong untuk Lala. Di piring masih ada beberapa potong.


"Wah, Mom. Ini enak sekali," puji Lala.


"Kue apaan, Mom. Namanya?" lanjut tanya Lala, penasaran karena rasanya enak.


Mom Zelea tampak sedang berpikir. "Mom, juga tidak tahu, Sayang. Baru kali ini juga, Mom. Memakannya. Sepertinya merek baru."


"Udah, gak usah dipikirin. Malah jadi pusing, kapan-kapan kita ke, London. Biar langsung datang ke pabriknya," sela Dad Zeon menengahi pembicaraan mereka berdua.


"Setuju, Dad." Jawab Lala.


"Nantilah, tunggu menantu sadar dulu. Masa iya dia harus ditinggal, kan. Kasihan." Usul Mom Zelea.


"Kan, Daddy. Bilangnya kapan-kapan, Mom." Merengkuh pundak sang istri.


"Cie ... Daddy dan Mommy," goda Lala, ia tersenyum-senyum.


Di tempat lain. Di waktu yang sama juga.


Seorang pria tampan berparas bule, baru saja turun dari pesawat, dan ini kali pertama baginya datang ke Indonesia.

__ADS_1


Bahkan untuk ucapkan bahasa Indonesia sedikit susah, walau sudah menguasai dan ia pelajari beberapa bulan ini.


__ADS_2