
Tiga hari kemudian.
Enzo dan Tasya sudah kembali dari liburan bulan madu, tidak bisa lama-lama, karena ada pekerjaan yang harus Enzo segera selesaikan.
Semalam mereka baru sampai, pagi ini Enzo sudah menunggu kedatangan asisten pribadinya di ruang kerjanya.
Sementara itu Tasya masih tidur di dalam kamar.
Tepat pukul setengah sembilan pagi, Samuel tiba di mansion kediaman Enzo. Pria tampan itu berjalan cepat untuk segera menemui sang Tuan.
Klek!
"Tuan, selama pagi," sapa Samuel begitu setelah membuka pintu ruang kerja Enzo.
"Masuk, jangan lupa kunci pintu."
Samuel langsung melakukan perintah tuannya, dan setelah itu langsung berjalan mendekati Enzo.
Samuel duduk di kursi sofa tidak jauh dari Enzo. Menunggu sang Tuan akan bicara.
"Apa yang kamu dapat dari hasil penyelidikan kemarin?" tanya Enzo dengan nada dingin.
"Masih 50%, Tuan."
Enzo terdiam sembari berpikir, menatap ke arah lain.
"Apa kita perlu mengundang Tuan Markus untuk acara makan malam, demi memastikan keraguan ini," usul Samuel.
Enzo menoleh menatap Samuel.
"Jika dia berani datang berarti dia tidak terlibat, tapi-," Samuel menghentikan ucapnya.
"Lakukan ... Aku hanya mau semua ini segera terungkap," terang Enzo.
"Baik, Tuan," jawab patuh Samuel.
"Saya pamit keluar, Tuan." Samuel menunduk hormat, kemudian berdiri dan keluar dari sana.
Samuel langsung mengirimkan pesan undangan makan malam di mansion Enzo, pada Markus.
Orang sekaligus sahabat yang saat ini tengah Enzo curigai.
Di dalam ruang kerja Enzo, setelah kepergian Samuel, pria itu masih diam merenung. Bahkan sampai beberapa hari sejak hari melihat pria bertopeng saat itu, Enzo selalu kepikiran.
Hatinya belum tenang sebelum mengetahui bukti yang sebenarnya.
Enzo membuang nafas berat, mengusap wajahnya dengan kasar.
Klek!
"Kak Enzo." Tasya berjalan masuk. "Aku bawakan jus mangga ini."
Enzo seketika tersenyum melihat Tasya datang, saat ini wanita itu telah menjadi mood booster nya.
"Kak, diminum dulu," pinta Tasya setelah meletakkan gelas jus mangga ke atas meja.
Tapi Enzo tidak menjawab, pria itu malah bangkit dari duduknya, kemudian menghampiri Tasya dan langsung memeluk erat wanitanya.
Tasya merasa geli saat merasakan wajah Enzo menyelinap di lehernya.
"Ada apa, Kak?" tanya Tasya, wanita itu bisa merasakan keresahan yang di rasakan suaminya.
"Selalu di sampingku apa pun yang terjadi nanti."
"Memang aku mau kemana, Kak?" tanya Tasya setelah mendengar ucapan Enzo barusan yang terdengar mengkhawatirkan.
"Pokoknya jangan pergi, kalau mau kemana-mana harus ajak pengawal jangan sendiri jangan bandel."
Tasya terkekeh mendengar perhatian Enzo yang berlebihan itu. "Baiklah, Kak. Istrimu ini pasti akan patuh."
Enzo melerai pelukannya, menatap lekat wajah Tasya, dan kemudian mencium lembut bibir merah seperti stroberi itu.
"Nanti malam ada acara makan malam di mansion ini." Enzo menyelinapkan anak rambut Tasya ke belakang telinga.
"Kamu ikut acara makan malam ya?" Enzo mencium lagi bibir Tasya.
Tasya mengangguk dan tersenyum.
__ADS_1
Malam hari Enzo dan Tasya juga Samuel sudah bersiap untuk makan malam. Namun acara makan malam belum dimulai, karena harus menunggu satu personil lagi yaitu Markus.
Enzo duduk di ruang keluarga bersama Samuel, Enzo melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, saat ini sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi belum ada tanda-tanda akan kedatangan Markus.
"Apa pesan yang kamu kirim sudah pasti di terima dia?" tanya Enzo ke Samuel.
"Sudah, Tuan. Bahkan Tuan Markus membalas akan hadir," jawab Samuel.
"Tapi dia belum datang," gumam lirih Enzo sembari menatap lurus ke depan.
"Mungkin masih di jalan terkena macet, Tuan."
Enzo tersenyum kecil, dalam hatinya baiklah akan menunggu sebentar lagi.
Jam terus bergulir dari pukul tujuh berganti pukul delapan berganti pukul sembilan.
"Dia tidak datang, Samuel." Enzo membuang nafas berat, matanya memancarkan kilatan amarah.
"Suruh orang-orangmu untuk menyelidiki keberadaan dia!" perintah Enzo tegas.
"Baik, Tuan." Samuel langsung berdiri menjauh dari sana dan segera menghubungi anak buahnya.
Tasya yang melihat Enzo terlihat resah dan marah, ia berjalan mendekati suaminya itu.
"Kak," ucapnya.
Enzo mendongakkan kepalanya, ia langsung mengulurkan tangannya, setelah Tasya menerima uluran tangan itu, Enzo meminta Tasya duduk di sebelahnya, dan langsung memeluk Tasya.
"Kak Enzo kenapa?" Tasya mengusap lembut punggung Enzo.
Meski ia tidak tahu persis permasalahan yang sebenarnya, tapi hatinya juga khawatir jika ada bahaya yang membahayakan rumah tangganya.
"Jika benar dia adalah pelakunya-," Enzo menghentikan ucapannya, Tasya menunggu kelanjutan ucapan Enzo, ia masih belum mengerti kata dia yang di maksud suaminya.
"Aku tidak menyangka kalau dia begitu tega."
Tasya merasakan Enzo sangat marah saat ini, dari nada bicaranya terdengar sangat kecewa.
"Sabar, Kak. Semua pasti baik-baik saja."
Hanya kalimat itu yang bisa Tasya ucapkan, ia juga belum tahu apa-apa masalah masa lalu suaminya, Tasya hanya bisa berharap semua akan baik-baik saja.
"Kak." Tasya mengecup pipi Enzo, kini ia sudah mulai berani.
Enzo tersenyum, Tasya langsung menutup wajahnya malu-malu.
"Ada apa Hem?" Tangan Enzo mengusap puncak kepala Tasya.
"Barusan Lala mengajak aku untuk bermain di taman kota."
"Boleh, tapi jangan berdua saja, ajak pengawal." Enzo gemas mencubit pipi Tasya.
"Baik, Kak." Tasya tersenyum meringis.
Pagi ini setelah sarapan Tasya bersama Tia mendatangi mansion Mom Zelea.
Lala yang mendengar sang Kakak ipar datang langsung gembira.
"Ye ... Kak Tasya datang, asyik jadi jalan-jalan ke taman kota."
"Lala, ayo habiskan dulu sarapannya," pinta Mom Zelea.
Tasya ikutan duduk di meja makan, ia ditawari untuk sarapan, tapi menolak karena memang masih kenyang.
Satu jam kemudian semua sudah siap, Lala dengan segala perlengkapannya, Tasya juga Tia dan keempat para bodyguard.
Tasya sebenarnya hanya mau dua bodyguard saja, itu sudah cukup, tapi Dad Zeon maunya harus empat, ahirnya Tasya menurut saja perintah ayah mertuanya itu.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil yang sedang melaju ke alamat taman kota.
"Makasih ya Kak sudah mau temani, Lala." Lala tersenyum bahagia.
"Iya ... Yang penting Lala happy," ucap Tasya sembari mengusap rambut panjang Lala.
"Aku sudah lama banget gak ke taman kota." Tiba-tiba wajah Lala berubah sedih.
"Kenapa?" Tasya memeluk Lala.
__ADS_1
"Setelah aku sakit aku tidak pernah pergi ke sana, Kak. Padahal dahulu aku sering."
Tasya tersenyum, kini ia tahu penyebab Lala berubah wajah murung.
"Kan, sekarang sudah bisa jalan-jalan ke taman kota lagi, jadi Lala tidak boleh sedih, ok."
Lala tersenyum. "Ok, Kak."
Dalam perjalanan keduanya terus mengobrol, sampai mobil tiba di tempat tujuan, sebuah taman kota yang luas.
Tasya dan Lala juga bersama yang lainnya segera turun dari dalam mobil, di sini yang paling antusias adalah Lala.
Tasya membantu adik iparnya itu, karena meskipun Lala sudah bisa berjalan, tapi masih menggunakan tongkat, Tasya harus selalu di samping Lala, untuk menjaganya.
Hembusan angin pagi ini sangat terasa segar, bisa dirasakan begitu sejuk di kulit.
Lala yang ingin jalan-jalan Tasya temani adik iparnya itu, saat mereka berjalan bersama di taman kota itu, Lala tiba-tiba ingin es krim saat melihat penjual es krim.
"Lala, tapi sekarang masih pagi," ucap Tasya menasehati.
"Satu aja, Kak. Please ..." rengek Lala. Ahirnya Tasya tidak bisa jika tidak menuruti kemauan Lala.
"Baiklah, tapi satu aja ya?"
"Ok." Lala mengangguk .
Sebelum Tasya pergi meninggalkan Lala, ia mencari tempat duduk yang bisa diduduki Lala, dan setelah melihat bangku kosong yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini, keduanya langsung menuju bangku di bawah pohon itu.
"Kamu tunggu di sini dulu," ucap Tasya setelah membntu Lala duduk.
"Ok, Kak."
Tasya langsung beranjak pergi dari hadapan Lala, ia akan membeli es krim di penjual es krim yang tidak jauh dari sana.
Setelah Tasya pergi, Lala tidak sendirian, ada bodyguard yang menemani Lala.
Tasya juga tidak sendirian, ada bodyguard yang berjalan tidak jauh di belakang Tasya.
Penjual es krim jika dari arah Tasya berjalan saat ini, berada di balik pohon, bodyguard terus berjalan mengikuti Tasya, namun tiba-tiba ada yang melempar batu kecil ke kepalanya, hingga membuat bodyguard itu menoleh.
Dan dalam waktu bersamaan seorang wanita disekap oleh seorang pria dan langsung di bawa pergi.
Orang-orang di taman tidak curiga, karena pria itu memakaikan jaket miliknya ke badan wanita itu, akan beranggapan kekasih pria itu.
Setelah menyadari di belakang tidak ada siapa-siapa, bodyguard kembali melihat ke depan, dan mendekati penjual es krim.
Namun langsung terkejut saat mendapati Nona mudanya tidak ada di sana. Demi memastikan bodyguard tersebut bertanya.
"Apa tadi ada wanita muda tinggi segini dan berkulit putih?"
"Tidak ada Pak," jawab penjual es krim.
"Baik, terimakasih." Bodyguard tersebut langsung pergi dari sana.
"Cepat cari keseluruhan tempat taman kota ini, Nona menghilang!" perintah tegas bodyguard tersebut pada tiga bodyguard yang lain.
Mereka berempat berpencar untuk mencari Tasya.
"Kak Tasya kemana?" tanya Lala panik, bahkan langsung menangis, Tia dan susternya Lala berada di dekat Lala untuk menjaga Lala.
Setelah lima belas menit menjalankan pencarian pada Tasya dan juga tidak ditemukan, ahirnya mereka memutuskan untuk pulang ke mansion.
"Ini salahku ... Salahku!" ucap Lala histeris menyalahkan diri sendiri, kini mereka semua sudah berada di dalam mobil menuju pulang.
"Nona Lala, tenanglah." Tia menasehati.
Tidak hanya Lala yang merasa takut, tapi mereka semua yang saat ini berada di dalam mobil, merasa tidak pecus menjaga Nona nya sendiri.
"Daday ... Mommy!" teriak Lala begitu sampai di mansion.
"Ada apa Lala?" Mom Zelea dan Dad Zeon langsung berdiri, khawatir tiba-tiba Lala pulang dalam keadaan menangis.
"Kak Tasya ..." Lala semakin menangis.
"Ada apa dengan Tasya." Mom Zelea perasaannya makin tidak karuan rasanya, takut terjadi hal buruk.
Namun saat menatap para pelayan dan bodyguard mereka menundukkan kepalanya semua.
__ADS_1
"Kak Tasya hilang, Mom ...."
Deg!