
Di dalam mansion tepatnya di dalam kamar Nona Muda, tiga wanita beda generasi sedari tadi terus tertawa, bercerita banyak hal tentang masa lalu juga yang sekarang.
Namun salah satu dari tiga wanita itu tiba-tiba mendadak menghentikan tawanya setelah mendengar cerita Mom Zelea.
"Pernikahan Enzo itu sangat sederhana, padahal Tante ingin membuatkan pesta pernikahan yang mewah untuk Enzo, mengingat karena Enzo putra satu-satunya, tapi-," Mom Zelea menjeda ucapannya, ia menggelengkan kepalanya. "Semua karena keadaan." Mom Zelea sedih saat mengingat kejadian di pernikahan Enzo dan Tasya.
"A-apa! Me-menikah?"
"Fely gak salah dengar, Tante?"
Tersadar karena Fely belum dikasih tahu soal Enzo yang sudah menikah, Mom Zelea kemudian menggenggam tangan Fely. "Iya sayang, kamu pasti kaget ya?" Mom Zelea tersenyum.
"Semua orang, kolega bisnis, teman-teman Enzo. Semua pada kaget saat tahu kenyataan bahwa Enzo sudah menikah."
Duar!
Cerita Mom Zelea cukup jelas dan berhasil menjadi sambaran petir yang menghancurkan hati Fely.
Fely menggelengkan kepalanya, hatinya terasa sakit mendengar kenyataan yang baru ia ketahui.
Ini pasti mimpi, ini pasti mimpi, batin Fely.
"Hai, kok kamu nangis sayang." Mom Zelea mengusap air mata di pipi Fely.
Fely tersenyum kaku. "Fely terharu saja, Tante." Bohongnya.
Padahal Fely menangis benar-benar karena sakit hatinya ditinggal Enzo menikah.
Cinta yang dinantinya sejak lama kini sudah dalam milik wanita lain.
Tiba-tiba dada Fely terasa penuh bagaikan ada batu besar yang menghimpitnya sesak sekali rasanya, Fely tidak sanggup berlama-lama di mansion Mom Zelea.
"Tante, Fely pulang ya? Tadi ayah berpesan jam makan siang harus pulang," bohong Fely lagi. Sumpah Fely rasanya ingin berlari dan sembunyi untuk menumpahkan tangisnya.
Tapi saat ini Fely harus berpura-pura tersenyum seolah baik-baik saja.
"Kenapa buru-buru, Kak Fely?" Lala yang bertanya.
"Tante masih ingin bercerita banyak sama kamu." Mom Zelea memasang wajah sedih.
Fely pura-pura tertawa. "Masih ada lain waktu, Tante."
Karena Fely tetap kekeh mau pulng, Mom Zelea ahirnya membiarkan wanita itu pulang.
Kenapa kak Fely terlihat aneh ya setelah tahu kak Enzo menikah, batin Lala, saat ini ia berbaring di ranjang setelah hanya sendirian di kamarnya.
*
*
*
Fely menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang rumayan sepi. Fely menumpahkan tangisnya yang sejak tadi ia tahan.
"Aaa ... Ini tidak mungkin!" jeritnya sembari memukuli setir mobil.
__ADS_1
Fely terus menangis ia sangat merasa hancur hatinya ingin menolak kenyataan ini.
Sampai ahirnya Fely tiba di rumahnya, gadis itu masih saja tetap menangis, pelayan yang melihat Nona di rumah ini menangis sambil berlari menuju tangga sampai terkejut.
Pelayan itu memberitahu Tuan Tristan, yaitu ayahnya Fely.
Sedangkan Fely di dalam kamar langsung mengguyur tubuhnya di bawah air shower, Fely menangis semakin menjadi.
Di dalam kamar mandi itu lah Fely berusaha meluapkan emosi dan sakit hatinya karena Enzo ternyata sudah menikah.
Fely mematikan air shower itu kini tatapannya tajam mengarah ke depan. "Aku harus pastikan pada Enzo langsung."
Setelah itu Fely membawa tubuhnya meluruh terduduk di lantai, Fely terus saja menangis, pria yang sudah lama dicintainya mendadak ia ketahui sudah menikah, ini seperti mimpi buruk bagi Fely.
"Arghhh!" teriak Fely sembari memukuli dadanya yang terasa sesak.
Fely tersenyum getir saat mengingat pertama kali ia jatuh cinta pada Enzo.
Saat itu ia masih duduk di bangku SMA, tiba-tiba ada siswa baru seorang laki-laki yang saat itu sangat tampan, siswa itu adalah Enzo Alexa putra dari pasangan Zeon Alexa dan Zelea.
Sejak hari pertama Enzo masuk sekolah, Fely sudah jatuh cinta, karena merasa Enzo adalah laki-laki type nya, paras tampan yang ada keturunan barat.
Fely yang saat SMA adalah siswi populer di sekolah, bukan hal yang sulit untuk menjadi teman Enzo.
Ya hanya sekedar teman, karena ternyata Enzo begitu dingin pada anak perempuan menunjukan tak tertarik dengan anak perempuan sekali pun Fely saat itu.
Tapi pada saat itu Fely tak masalah hanya menjadi teman Enzo, ia memiliki keyakinan hati yang kuat bahwa kelak akan mendapatkan hatinya Enzo.
"Fely ... Fely ..." suara Ayah Tristan memanggil-manggilnya.
Klek!
Pintu kamar mandi terbuka, Fely menyembul keluar dari dalam sana dengan wajah datar.
Ayah Tristan memperhatikan Fely. "Fely, kata pelayan kamu-,"
"Fely baik-baik saja, Ayah." Sarkas cepat Fely membuat Ayah Tristan menghentikan ucapannya.
Ayah Tristan memperhatikan Fely yang sibuk memilih pakaiannya, Ayah Tristan tentu melihat bahwa Fely sehabis menangis, semua nampak dari mata Fely yang saat ini sembap.
Ahirnya Ayah Tristan milih pergi tidak mau menganggu putrinya.
*
*
*
Malam hari.
Di rumah sakit.
Sehabis mandi wajah Enzo tampak terlihat lebih fresh, pria itu kini membaringkan tubuhnya di sebelah Tasya.
"Sayang, sampai kapan kamu akan tertidur pulas seperti ini, Hem?" Enzo mengubah posisi miring, kini ia bisa menatap wajah Tasya.
__ADS_1
Enzo menelisik wajah Tasya, meski dalam keadaan sakit seperti ini, tapi tetap terlihat cantik, padahal bibir itu tampak pucat.
Enzo mencium pipi Tasya sebelum menoleh ke belakang melihat siapa yang masuk ke ruang itu.
Tapi ternyata tidak ada siapa-siapa, karena penasaran ahirnya Enzo turun dari sana mendekati pintu.
Bruk!
"Sialan!"
Suara gebrakan dan makian kembali Enzo dengar, ia makin penasaran siapa orang tersebut.
Enzo membuka pintu itu dan mengintip dari dalam, kini ia jadi tahu siapa orang yang mengumpat tadi.
"Ternyata orang-orang itu merasa memiliki seribu nyawa, tak mau apa mereka membuat aku sekali aja hidup tenang!" Audrey mengomel sembari melihat gambar vidio orang yang terekam di CCTV yang sengaja ia pasang di depan lobby apartemennya yang ia hubungan dengan ponselnya.
"Ehem!"
Audrey menoleh saat mendengar dehheman itu.
"Orang-orang itu siapa maksudnya?" Enzo menatap Audrey serius.
"Orang yang meminta saya untuk berhenti bekerja dengan Anda, Tuan," jujur Audrey, dan seketika menundukkan kepalanya takut jika Enzo marah.
"Lalu?" tanya Enzo lagi.
"Mereka menunggu saya di depan apartemen, Tuan."
Tapi apa yang dipikirkannya barusan salah saat mendengar Enzo bicara dengan seseorang di telepon.
"Samuel, jadi kamu masih di bawah, jika begitu kamu datang kemari lagi."
Setelah itu panggilan terputus dan tidak lama kemudian Samuel sudah berada diantara mereka.
"Samuel, kamu pulang sama Audrey, biarkan malam ini dia tinggal di apartemen kamu ... Dan pasang CCTV di mobil Audrey bagian belakang."
"Baik, Tuan," jawab Samuel.
Enzo berganti menatap Audrey. "Audrey, jangan lupa selalu gunakan chip setiap kali kamu sendiri, supaya aku tahu jika kamu dalam bahaya."
"Terimakasih, Tuan. Sudah mau baik sama saya," ucap Audrey tulus.
Enzo mengangguk dan segera meminta mereka pergi.
Sementara itu di tempat lain.
Ibu Mika yang sudah sadar dari pingsan karena habis mendengar kabar Elis putrinya hamil.
Elis yang masih menemani ibunya, ia senang karena ibunya telah bangun dari pingsan yang cukup lama. Karena sangking lamanya, Ibu Mika saat ini di rumah sakit.
"Ibu ..." Elis mau memeluk ibunya, namun ....
"Memalukan!"
Plak!
__ADS_1
Plak!