My Husband Perfect

My Husband Perfect
BAB 24.


__ADS_3

Klek!


"Good morning ..." sapa Lala dengan riang begitu membuka pintu ruang ICU, yang dimana tidak hanya ada Tasya di dalam sana tetapi juga ada Enzo yang sedang menjaga Tasya.


"Lihatlah, wajah Kakak kamu kusut belum cuci muka itu." Mom Zelea ikutan bicara sembari berjalan masuk.


"Hah, malas Mom. Mau ngapa-ngapain," sahutnya dengan nada malas.


"Ya tidak boleh begitu." Mom Zelea menatap tidak suka ke Enzo. "Nemenin istri itu wajib harus wangi."


"Iya iya ... Ini juga mau mandi sekalian," jawab Enzo sembari berdiri, di tempat ini sudah ada beberapa pakaian miliknya untuk ganti.


Mulai saat ini Enzo akan lebih sering di rumah sakit untuk menjaga istrinya.


"Mom, kapan Kak Tasya akan sadar dari koma?" tanya Lala sembari duduk di kursi dan menatap sedih ke arah wajah Tasya.


Mom Zelea yang ditanya langsung menghela nafas panjang. "Tidak tahu, Mom juga sedih melihat dia seperti ini." Mom Zelea menatap wajah Tasya yang tampak pucat dan banyak alat medis yang terpasang di tubuh Tasya.


Mom Zelea duduk di pinggiran ranjang pasien, tangannya mengusap pelan punggung tangan Tasya.


"Cepat sembuh, Tasya. Cepat sadar kami semua sudah rindu dengan canda tawamu," ucap Mom Zelea.


"Kak, Lala mau ditemani Kak Tasya lagi, cepat sadar ya, Kak." Lala ikut menimpali.


"Dulu, Kak Tasya yang sudah bantu Lala sampai Lala sembuh."


"Lala berhutang budi sama Kak Tasya, cepat sembuh ya, Kak supaya kita bisa sama-sama lagi."


"Lala akan ajak Kak Tasya liburan di luar negeri, Kak Tasya pasti belum pernah, kan?" Lala meneteskan air mata setelah berkata seperti itu.


"La ... Kenapa kamu menangis?" tanya Mom Zelea, yang terkejut tiba-tiba melihat putrinya itu malah menangis.


"Sedih, Mom ..." ucapnya lengkap dengan isak tangis.

__ADS_1


Mom Zelea menghela nafas panjang mendengar jawaban Lala, kemudian fokusnya teralihkan pada Enzo yang sudah selesai mandi.


"Enzo." Mom Zelea bangkit dan berjalan mendekati Enzo. "Sarapan dulu yuk, Mom temani?"


Enzo yang belum sarapan ahirnya menerima ajakan ibunya itu, kini tinggallah Lala seorang yang menemani Tasya.


Dengan sebisanya Lala terus berbicara mengajak Tasya untuk mengobrol, meski Tasya tidak bisa menjawab apa yang Lala ucapkan, tapi alam bawah sadarnya mampu mendengar.


*


*


*


"Mommy sudah tahu siapa musuh mu itu," ucap Mom Zelea setelah Enzo selesai sarapan pagi, yang saat ini keduanya masih duduk di kantin rumah sakit.


"Daddy yang memberi tahu, Mommy," lanjut ucapnya.


"Kenapa Enzo ... Kenapa? Apa kalian ada masalah hingga membawa masalah sebesar ini? Tanya Mom Zelea penuh rasa ingin tahu.


Melihat respon Enzo yang hanya mengedikan bahu, Mom Zelea langsung membuang nafas berat. "Kamu harus cari tahu, Enzo," ucapnya dengan serius.


"Enzo juga sedang cari tahu, Mom. Tenang saja sebentar lagi juga pasti akan terungkap." Enzo menatap ibunya dengan rasa penuh keyakinan.


Mom Zelea menganggukkan kepalanya. "Mom tidak mau anak-anak Mom sampai ada yang celaka lagi," ucapnya dengan sendu.


Enzo menggenggam tangan ibunya yang di letakkan di atas meja itu. "Mom, tenang ya? Maaf sudah membuat Mom khawatir."


Mom Zelea menganggukkan kepala kecil.


Setelah pembicaraan itu mereka berdua kembali lagi ke ruangan Tasya.


*

__ADS_1


*


*


Waktu menunjukan pukul tujuh malam.


Mom Zelea sedang membujuk Lala sejak setengah jam yang lalu untuk diajaknya pulang, tapi Lala masih saja mengelak belum mau pulang. Katanya masih kangen sama Tasya, dan hal ini membuat Mom Zelea jadi pusing, pasalnya Dad Zeon melarang Lala menginap di rumah sakit.


"Ayo, Lala. Besok bisa kesini lagi." Mom Zelea membujuk Lala lagi.


"Hah, Mommy berisik," ucap Lala dengan sebal.


"Lala ... Tidak boleh bicara seperti itu sama, Mommy." Enzo ikutan bicara.


"Hah, Kakak juga berisik," ucapnya lagi tanpa rasa takut, bibir Lala cemberut nampak sekali ia sedang marah.


Namun tidak lama kemudian Lala merasakan hidung mancungnya ditarik oleh seseorang.


"Ish, Kaka sakit lepaskan!" bentaknya dengan kesal, karena ulah Enzo kini hidung mancung Lala jadi terasa sakit.


"Pulang sekarang sama, Mommy. Atau ditarik lagi hidungnya," ancam Enzo lengkap dengan tatapan tajam, hanya untuk menakut-nakuti sang adik.


Lala menatap Enzo dan membalas dengan bibir mengot-mengot tanda ia benar-benar sebal di suruh pulang.


Namun Lala tidak bisa menolak lagi, ia ahirnya mau pulang juga bersama ibunya.


Enzo mengantar mereka berdua sampai di parkiran mobil, setelah memastikan adik dan ibunya masuk ke dalam mobil, dan sebelum kaca mobil di tutup, Enzo melambaikan tangannya, setelah itu mobil berjalan meninggalkan pelataran parkir rumah sakit.


Enzo kembali lagi ke ruang tempat Tasya berada. Sampai di sana, Enzo mendekati ranjang yang dimana ada Tasya yang sedang berbaring tak sadarkan diri.


Perlahan Enzo menundukkan kepalanya kemudian bibirnya mendekat tepat di telinga Tasya, lalu berbisik, "Aku mencintaimu, cepatlah sadar." Enzo menjauhkan wajahnya dan berganti mengecup kening Tasya.


Setelah itu Enzo duduk di kursi sofa, ada pesan masuk dari asisten pribadinya, dan Enzo baru sempat membalasnya sekarang, karena tadi ada ibunya juga Lala yang sedang dibujuk untuk pulang.

__ADS_1


Dari lima pesan masuk, Enzo hanya membalas sekali pesan saja.


"Ya, lakukan lah. Aku yakin kali ini akan berhasil." Pesan di kirim.


__ADS_2