
Pagi ini Tasya melarang pelayan untuk membuat sarapan pagi, karena Tasya yang akan memasak untuk sarapan paginya.
Tasya melakukan semuanya sendiri, tidak mau dibantu oleh pelayan yang lain, mau pun Tia.
Setelah empat puluh menit berkutat di dapur, sarapan pagi yang Tasya masak kini telah matang.
Hanya sebuah udang saus tiram dan tumis sawi hijau. Ini adalah masakan kesukaan Tasya, kalau ditanya suruh milih yang lain, Tasya pasti nolak dan lebih milih menu masakannya.
"Tia, bersiaplah setelah selesai aku sarapan pagi, kita akan berkunjung ke mansion Mom Zelea," terang Tasya, sembari menata menu masakannya di atas meja makan.
Tia melihat Tasya dengan cekatannya menyiapkan sarapan untuk diri sendiri. "Baik, Nona. Saya akan bersiap dulu." Tia kemudian pergi menuju kamarnya.
Tasya menikmati sarapan paginya hanya seorang diri, ya seperti ini setiap hari selalu sendiri, kadang Tasya juga merasa sepi.
Hap hap dengan lahapnya Tasya memakan sarapannya, fokus dengan piringnya, namun tiba-tiba mendengar suara derap langkah kaki serta roda yang berjalan.
Tasya menoleh ke arah sumber suara dengan mulut yang masih mengunyah makanan, sungguh saat ini ekspresi terkejut Tasya saat melihat Enzo datang, terlihat lucu.
"Kak-," Tasya tidak melanjutkan sapanya, ia langsung minum air putih begitu makanan yang ia kunyah sudah melewati tenggorokannya.
Enzo datang dengan duduk di kursi roda yang saat ini di dorong oleh pengawal.
"Ambilkan piring, aku mau sarapan."
Perintah Enzo begitu ia sudah di dekat meja makan, pengawalnya patuh mengambilkan piring yang masih bersih, namun sebelum itu, memastikan tuannya sudah duduk dengan aman.
__ADS_1
"Kak Enzo mau makan!" Tasya terkejut sampai membuat suaranya meninggi, bagaimana tidak? Ia hanya masak dua macam, dan suaminya mau makan, jikalau tadi ia tahu Enzo mau sarapan, pasti tidak akan hanya masak dua macam saja, pikiran Tasya jadi cemas.
Enzo tidak menjawab pertanyaan Tasya, karena kini fokusnya mau sarapan, pengawal yang ia minta untuk ambil piring sudah kembali, tapi saat mau ambil menu sarapan, Enzo jadi bingung.
Hanya ada udang saus tiram dan tumis sawi hijau di atas meja makan, Tasya menggigit bibir bawahnya saat melihat tatapan kesal di mata Enzo.
"Siapa yang masak?" tanya Enzo dingin.
"A-aku Kak," jawab Tasya gugup.
Brakk!
"Kau mau membunuhku, hah!"
Tasya memejamkan matanya saat mendengar sentakan Enzo.
"Siapa yang sudah menyuruhmu masak! Pada kemana pelayan? Hah!"
Tasya menggelengkan kepalanya matanya masih terpejam tidak berani melihat amarah Enzo. "Ti-tidak ada yang menyuruh aku, Kak. Dan ti-tidak ta-tahu kalau Kak Enzo mau sa-sarapan pagi ini."
Tasya merinding mendengar helaan nafas berat Enzo.
"Kembali ke ruang kerja," perintah Enzo dingin, pengawal yang tadi membantunya, kini langsung membantu mendorong kursi roda yang di duduki Enzo untuk masuk ke ruang kerja.
Tasya bangkit dari duduknya seraya menatap Enzo yang duduk di kursi roda yang saat ini tengah di dorong pengawal. "Kak Enzo mau dimasakin menu apa!"
__ADS_1
Tasya mengencangkan suaranya supaya Enzo mendengar, namun ternyata yang menoleh hanya pengawal saja, dan Enzo tetap diam.
Lagi-lagi Tasya menelan kekecewaan.
Setelah kepergian suaminya, Tasya hanya bisa elus dada. Sabar? Itu lah yang Tasya ucapkan pada diri sendiri.
Tasya tidak mau Enzo kelaparan, ahirnya meminta tolong ke pelayan yang lain untuk membuatkan sarapan untuk Enzo.
Sementara itu, Tasya yang sudah menyelesaikan sarapannya, begitu Tia datang menghampirinya, mereka berdua langsung berjalan keluar menuju pintu keluar mansion.
Namun baru saja mereka menginjak teras mansion, langkah kakinya langsung berhenti begitu saja, saat melihat seorang pria seumuran dengan usia Enzo.
Tasya dan pria itu saling pandang, mereka saling bertanya dalam pikiran masing-masing.
Jika Tasya bertanya dalam pikirannya siapa pria itu? Mengapa pagi-pagi sudah berkunjung?
Begitu juga dengan pikiran pria itu, yang bertanya siapa gadis di depannya itu? Yang baru ia lihat, apa lagi hubungannya dengan keluarga Enzo sangat dekat, jadi pria itu tahu bahwa Enzo tidak memiliki keponakan seusia gadis itu.
Tia menyenggol lengan Tasya, membuat gadis itu sadar bahwa tujuannya untuk segera ke mansion mertuanya.
Tasya kemudian menunduk hormat sebagai sapaan, dan langsung pergi begitu saja bersama Tia.
Pria itu belum beranjak dari sana, ia terus melihat gadis yang baru ia jumpai itu, bahkan juga sedikit heran saat melihat sekuriti begitu sopan dengan gadis itu.
Hatinya semakin ingin tahu siapa gadis yang baru dilihatnya barusan, dan pria itu baru berbalik badan masuk ke dalam Mansion, setelah Tasya dan Tia menghilang di balik pintu gerbang.
__ADS_1
Mansion ini sudah seperti rumah sendiri bagi pria itu, tak perlu bertanya lagi dimana letak tempat Enzo berada, ia sudah tahu bahwa sahabatnya itu pasti berada di dalam ruang kerja.
Termasuk ia sudah lama tidak berkunjung ke mansion ini, semenjak dua bulan ini berada di luar negeri, biasanya ia akan main ke mansion ini hampir setiap hari.